G7 MANFAAT X-M

MANFAAT X-M PERDAGANGAN INTERNASIONAL
Disusun oleh :
Kelompok 7
1. Arina Husna Amalia (06/2G_Pajak)
2. Lely Ana C. (21/2G_Pajak)
3. Putri Wisda Marthalia (26/2G_Pajak)
4. Siti Munfarida (30/2G_Pajak)
5. Dedi Prasetiyo (11/2G_Pajak)
6. Bintang Kirana Sakti R. (09/2G_Pajak)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2008 / 2009
BAB I
TEORI MURNI PERDAGANGAN INTERNASIONAL: PENAWARAN

Masalah yang utama dalam perdagangan internasional adalah bagaimana cara kerja perdagangan internasional dan bagaimana seharusnya cara kerja perdagangan interna-sional.Studi sistematis mengenai perdagangan internasional mulai muncul pada abad ke-16 sampai abad ke-18 di Eropa. Ada yang memperkirakan bahwa kepentingan masing-masing negara dapat dipenuhi melalui upaya mendorong ekspor ke negara lain dan meng-hambat impor. Pada akhir abad ke-18 pandangan perdagangan mulai beralih pada perda-gangan bebas yang menyatakan bahwa kepentingan suatu bangsa dan kepentingan dunia akan lebih baik apabila dilayani dengan cara membiarkan orang-orang melakukan perda-gangan seperti yang mereka inginkan. Pada tingkat sederhana jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk mencapai keuntungan dan memang seharusnya perda-gangan internasional menguntungkan untuk pihak-pihak yang melaksanakannya.
Perdagangan internasional dianggap sebagai suatu akibat dari adanya interaksi an-tara permintaan dan penawaran. Permintaan (demand) dan penawaran (supply) akan tam-pak dalam bentuknya yang sudah dikenal serta merupakan suatu interaksi dari kemung-kinan produksi dan preferensi konsumen. Dilihat dari sisi penawaran, perdagangan dida-sari pada perbedaan-perbedaan dalam biaya komparatif. Suatu negara mungkin lebih efi-sien dari yang lainnya apabila diukur oleh masukan per unit keluaran dalam memproduk-si setiap komoditi yang mungkin dihasilkan, akan tetapi apabila memang sama-sama ti-dak lebih efisien pada setiap komoditi maka dasar untuk perdagangan akan tercipta.

Hukum keunggulan Komparatif

Suatu negara memiliki potensi SDA tertentu yang berbeda dari negara lain. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maka SDA tersebut harus diolah dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Namun ada kalanya suatu negara kurang mampu memenuhi kebutuhan-nya hanya dengan mengandalkan SDA dalam negeri, ataupun suatu sumber daya tertentu terlalu melimpah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka suatu negara harus melakukan perdagangan dengan negara lain.
Hukum keunggulan komparatif diungkapkan oleh David Ricardo pada awal abad ke-19. Ricardo memasukkan pertimbangan kesejahteraan ke dalam perdagangan untuk mengungkapkan bagaimana kedua negara dapat menikmati keuntungan dari perdagangan internasional. Adam Smith membandingkan sebuah negara sebagai sebuah rumah tangga yang menganggap lebih baik menghasilkan hanya sebagian dari keperluannya untuk membeli barang lainnya dengan barang yang dapat dijualnya, begitu pula yang terjadi pada sebuaah negara.
Setiap negara memiliki keunggulan komparatif, yaitu kemampuan untuk mene-mukan barang-barang yang dapat diproduksi pada tingkat biaya yang relative lebih ren-dah daripada barang yang lainnya. Keunggulan komparatif tiap-tiap negara ini kemudian akan digunakan sebagai komoditi dalam perdagangan internasional.
Hukum ini menyatakan bahwa perdagangan memungkinkan suatu negara untuk menghasilkan barang-barang tertentu yang lebih banyak, relative lebih efisien, dan meng-ekspornya untuk ditukarkan dengan barang lain yang kurang memiliki keunggulan kom-paratif. Suatu negara dikatakan memiliki keunggulan absolut apabila mampu mengha-silkan suatu barang atau SDA lebih banyak per unit masukan (input) daripada negara-negara lain di dunia.. Dengan demikian perdagangan bukan merupakan suatu ‘permainan berjumlah nol’ (zero sum game) dimana salah satu pihak mendapat manfaat di atas kerugian yang lainnya. Seluruh dunia mendapat manfaat dari perdagangan dan kedua belah pihak sekurang-kurangnya mendapat kesejahteraan yang sama.
Hukum keunggulan komparatif digunakan dengan mengasumsikan biaya konstan. Dengan melupakan asumsi itu, yang memungkinkan penggunaan biaya oportunitas yang makin meningkat(atau menurun), tidak berarti akan membatalkan keunggulan komparatif.

Teori Heckscher-Ohlin(H-O): Proporsi Faktor Produksi Merupakan Kunci Persoalan

Perbedaan Internasional dalam biaya-biaya komparatif atau dalam kurva kemung-kinan produksi sebagian berasal dari kenyataan bahwa (1) barang-barang yang berbeda menggunakan faktor produksi dengan nilai yang berbeda, dan (2) negara-negara me-rmiliki perbedaan dalam kekayaan faktor produksinya.
Penjelasan Heckscher-Ohlin tentang pola perdagangan yang bertumpu pada dua kenyataan di atas menyatakan bahwa negara-negara cenderung untuk mengekspor ba-rang-barang yang menggunakan factor produksi yang relative melimpah secara lebih intensif, untuk ditukar dengan barang-barang yang menggunakan factor produksi yang langka.
Ada beberapa fakta yang tak begitu cocok dengan H-O. Kecenderungan akhir-akhir ini menunjukkan bahwa negara industri menjadi sama kekayaan factor produksinya, yang berarti bahwa teori H-O yang menerangkan bahwa perbedaan kekayaan faktor produksi mungkin lambat laun akan menjadi kurang relevan. Perdagangan internasional sedikit demi sedikit demi sedikit bergeser ke arah perdagangan antara negara-negara yang sama (memiliki kekayaan factor produksi yang sama) daripada perdagangan antarsektor industri yang berbeda.
Tantangan empiris baru terhadap teori H-O mungkin akan dapat terjawab dengan mengembangkan teori tersebut atau menggantinya, Para pakar ekonomi masih berdebat tentang jalan mana yang lebih menjanjikan. Teori H-O dapat menjelaskan lebih banyak apabila ia dikembangkan dengan memilah-milah factor produksi secara lebih spesifik. Atau teori tersebut dapat diganti dengan suatu pandangan baru yang menyatakan bahwa perdagangan sesungguhnya lebih banyak didasarkan pada menfaat dari adanya spesial-isasi industri yang ditandai dengan skala ekonomis (atau skala panghasilan yang semakin meningkat atau biaya semakin menurun)

BAB II
TEORI MURNI PERDAGANGAN INTERNASIONAL: PERMINTAAN

PERDAGANGAN DENGAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN
Sisi permintaan dari setiap pasar ditentukan oleh selera dan pendapatan konsumen. Kendala selera dan pendapatan ini menentukan bagaimana kuantitas barang yang diminta akan bereaksi terhadap setiap perubahan harga.
Kerangka pikiran dari kurva permintaan dan kurva penawaran adalah alat geometris utama yang dipakai untuk menganalisis pilihan kebijakan perdagangan.

Harga (karung/yard) Sus
2 1
A
S1
1 C B D E 1 I J
Dus Dm 2/3 H

20 40 60 40 40 60 80
kain
Gambar A.
Menunjukkan dampak perdagangan terhadap produksi, konsumsi dan harga di AS dan Negara lainnya.
Apabila perdagangan tidak dibuka , pasar bahan pakaian di AS dan Negara lain akan berlangsung pada tingkat harga yang berbeda. Kain yang berharga 2 karung gandum tiap yard, tanpa adanya perdagangan antara AS dan Negara lainnya akan menyebabkan bertemunya permintaan dan penawaran pada tingkat harga yang lebih rendah yaitu 2/3 karung per yard atau titik H.
Dengan dibukanya perdagangan antara AS dan Negara lain, orang akan dibebaskan dari keharusan untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran di negaranya masing-masing.
Harga akhir yang diciptakan oleh perdagangan dunia sekarang dapat ditentukan karena analisis ini mengandung kurva oermintaan dan penawaran.
Kelebihan permintaan dari penawaran di AS sebanding dengan kelebihan penawaran atas permintaan di Negara lain hanya pada satu tingkat harga saja yaitu satu karung per yard(CB+IJ).
Pada tingkat harga yang lebih tinggi , ekses permintaan atas penawaran di AS akan kurang dari 40 milyar yard per tahun, dan ekses penawaran dari Negara lain akan lebih dari 40 milyar.
Harga yang lebih kecil dari satu tidak akan berlangsung lama sebab penawaran dunia berada di bawah permintaan dunia.
Lihat gambar B.
Titik E menghasilkan arus internasional yang sama untuk bahan pakaiaan (DE=CB=IJ) dan harga dun ia yang sama pada diagram lainnya. Gambar B memusatkan perhatian pada pertukaean internasional dan dua diagram yang mengapitnya digunakan pada saat menjelaskan efek perdagangan dan restriksi terhadap produsen dalam negeri serta kelompok-kelompok konsumen.

LATAR BELAKANG KURVA PERMINTAAN : KURVA INDEFEREN
Makna yang ada di belakang kurva permintaaan adalah perilaku dan kesejahteraan.
Kurva permintaan diturunkan dari maksimasi kepuasan subyektif oleh rumah tangga yang dibatasi oleh adanya kendala bahwa anggaran mereka tetap berada pada tingkat penghasilannya. Penurunan tersebut melibatkan kurva indeferen, yang memperlihatakan kombinasi kuantitas komoditi yang berbeda , yang akan memberikan tingkat kepuasan yang sama pada setiap orang.
Kurva indeferen disusun dalam peta di mana garis- garis yang sejajar menunjukkan arah peningkatan tingkat kepuasan.
Dalam kurva indeferen masyarakat, akan ada banyak kesulitan karena tingkat kepuasan dan kemakmuran seseorang tidak dapat dibandingkan dengan tingkat kepuasan yang dimiliki oleh orang lain.
Perubahan dalam distribusi pendapatan dimana orang-orang memiliki selera yang berbeda akan menghasilkan peta indeferen baru yang konturnya berpotongan dengan yang asli, dan kurva indeferen hanya bermanfaat bila kurva tersebut tidak berpotongan.
Untuk menanggulanginya adalah dengan menggunakan asumsi-asumsi yang disederhanakan, antara lain:
– Selera masyarakat dapat dijelaskan dengan selera seseorang
– Selera tersebut konsisten
– Tidak terdapat perubahan distribusi pendapatan

PRODUKSI DAN KONSUMSI SECARA BERSAMA-SAMA
Tanpa Perdagangan
Gandum
80 S1

50 S0

0 20 40 kain
Sebagai ilustrasi amerika serikat harus berswasembada dan menemukan kombinasi gandum dan pakaian yang dapat memaksimumkan kesejahteraan masyarakat.
Pada kurva di atas So yang dapat mencapai kurva indeferen I1. Sedangkan titik So hanya mampu mencapai kurva Indeferen yang lebih rendah.pada keadaan ini produsen maupun konsumen akan mendapatkan bahwa rasio harga yang berlaku akan menguntungkan mereka dengan bergerak ke titik So.
Pergeseran permintaan akan menyebabkan produksi untuk segera memenuhinya dan mengalihkan lebih banyak sumber daya untuk memproduksi bahan pakaian daripada gandum. Tendensi untuk bergerak sepanjang kurva kemungkinan produksi akan terus berlangsung sampai perekonomian menghasilkan dan mengkonsumsikan pada So.

Dengan Perdagangan.

Gandum Gandum C1
100
80 S1 So
S0 60 S1
40 C1

0 20 60 kain 0 40 80 kain

harga kain Sus Harga Kain

2 A S1
Ekspor kain
1 B 1
Impor kain 2/3
D1
0 20 40 60 0 40 60 80 kain

Pada gambar A memungkinkan suatu Negara mencapai kurva indeferen yang lebuh tinggi melalui perdagangan dengan Negara lain.
Perdagangan membawa AS dan Negara lainnya mencapai titik C1. AsS tidak akan dapat mencapai titik yang lebih tinggi , hanya ada satu titik seperti titik C1, dimana ekspor gandumnya dan jumlah impor kain berada pada tingkat harga yang sama.
AS mungkin dapat mencapai kurva indeferen yang lebih tinggi dengan memproduksi di atas dan kesebelah kiri titik SI serta memperdagangkannya dalam jumlah besar yang dimaksudkan agar konsumsu dapat melebihi C1. Namun, yang sulit adalah Negara lain tidak akan mau memperdagangkan sedemikian banyaknya pada nisbah harga yang membuat bahan pakaian kelihatannya lebih murah daripada satu karung per yard.
Kurva indeferen juga masyarakat juga dapat dikombinasikan dengan kurva kemungkinan produksi untuk membentuk kurva permintaan terhadap kain dan gandum.
MANFAAT PERDAGANGAN
Harga bahan Pakaian
Harga pakaian
Sus
c
2 A
a
b d Sx
1 C B D b+d
e 2/3
impor Dus

0 20 40 60 Bahan pakaian 0 40 bahan pakaian

Taruhan Para Konsumen dalam Perdagangan

Pada titik A , yang tanpa perdagangan internasional, para konsumen harus membayar 80milyar karung setiap tahun untuk membeli 40 milyar kain. Ini berrti bahwa manfaat neto dari pembelian bahan pakaian bukanlah seluruh bidang yang berada di bawah kurva permintaan tetapi harus dikurangi dengan 80 milyar karung sebagai pembayaran kain tersebut.
Jadi perolehan manfaat neto adalah bidang c yang tanpa perdagangan internasional.dan selanjutnya hal ini disebut surplus konsumen.
Hal ini berarti bahwa dengan adanya perdagangan inetrnasional yang bebes, surplus konsumen akan sama dengan bidang a+b+c+d. dengan demikian dibukanya perdagangan akan memberikan manfaat netto sebesar bidang a+b+d. namun harus diingat bahwa manfaat tersebut tersebar di antara banyak orang, termasuk pedagang gandum dan kain.

Taruhan Produsen (Producers’ Stake)

Para produsen akan menerima pendapatan yang sama yaitu harga dikalikan dengan kuantitas , dua kali 40 milyar, apabila tanpa perdagangan. Sebagai akibat dibukanya perdagangan, produsen diharapkan pada harga produk mereka yang lebih rendah. Dan hal itu berarti bahwa hilangnya penghasilan bagi beberapa orang yang memproduksi kain. Berkurangnya penghasilan dari produksi kain mungkin akan menyebabkan tergesernya beberapa sumberdaya dari produksi kain.
Pada titik C pada gambar produksi kain berkurang dibandingkan dengan titik A dengan alasan harga yang lebih rendah telah mengakibatkan upaya memproduksikan tambahan tidak menguntungkan dan hanya akan menambah biaya lebih dari satu karung gandumuntuk setiap meter kain yang diproduksi.
Jadi, pada titik C dengan perdagangan, para produsen kain akhirnya menghasilkan kuantitas yang lebih rendah dan menjualnya pada harga yang lebih rendah serta biaya oprtunitas marginalnya punlebih rendah. Surplus produsen hanya meliputi bidang e.
Terbukanya perdagangan secara bebas menyebabkan mereka kehilangan bidang a, di mana pengurangan surplus produsen sebanyak 20 milyar yard secara menguntungkan saat tidak ada perdagangan, tetapi sekarang harus di impor daripada diproduksi sendiri.

Perolehan Manfaat Nasional ( Nasional Gains)
Apabila konsumen bahan pakaian memperoleh manfaat seluas bidang a+b+d dan produsen pakaian kehilangan bidang a maka perolehan manfaat neto secara nasional adalah bidang b+d atau bidang segitiga yang bernilai 20 milyar .

Berbagai Efek Terhadap Bagian dunia Lainnya

Hal yang dibutuhkan untuk menghitung efek netto bagi bagian dunia lainnya adalah jumlah perdagangan dan efek perdagangan terhadap harga-harga luar negeri. Dari studi gandum dan pakaian dapat dilihat karena manfaat yang diterima oleh bagian dunia lainnya seluas bidang f dan yang diterima oleh AS seluas b+d maka jelaslah bahwa seluruh dunia memperoleh manfaat dari perdagangan.

Perbedaan Selera sebagai Dasar Perdagangan
Dengan adanya perbedaan selera meskipun penawarannya tidak berbeda, perdagangan menyebabkan terjadinya spesialisasi yang lebih besar dalam konsumsi tetapi kurang spesialisasi dalam produksi.

BAB III
PERDAGANGAN DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

Teori-teori Perdagangan
a. Keunggulan Komparatif (comparative advantage)
1. Cost comparative advantage
Teori David Ricardo didasarkan pada nilai tenaga kerja atau theory of labor value yang menyatakan bahwa nilai atau harga suatu produ ditentukan olehjumlah waktu atau jam kerja yang diperlukan untuk memproduksinya.
Menurut teori cost comparative advantage (labor efficiency), suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi lebih efisien serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relative kurang/tidak efisien.
Manfaat perdagangan internasional
Keuntungan yang diperoleh masing-masing negara dari perdagangan internasional ini merupakan gain from trade atau manfaat perdagangan internasional karena adanya perbedaan labor efficiency atau cost comparative advantage.
2. Production comparative advantage
Suatu negara akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang dimana negara tersebut dapat berproduksi relative lebih produktif serta mengimpor barang dimana negara tersebut berproduksi relative kurang / tidak produktif.
Menurut teori klasik comparative advantage dari D.Ricardo, perdagangan internasional antara dua negara tetap dapat terjadi, walaupun hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolute, asalkan masing-masing negara memiliki perbedaan dalam labor efficiency (cost comparative advantage) dan atau labor productivity (production comparative advantage).

Kelemahan teori keunggulan komparatif
1. Perbedaan fungsi factor produksi(tenaga kerja) menimbulkan terjadinya perbedaan produktivitas ataupun perbedaan efisiensi. Akibatnya, terjadi perbedaan harga barang sejenis diantara dua negara
2. Jika fungsi factor produksi ( tenaga kerja sama) atau produktivitas dan efisiensi di dua negara sama, maka tentu tidak akan terjadi perdagangan internasional karena harga barang sejenis akan menjadi sama di dua negara
3. Tidak dapat menjelaskan mengapa terjadi perbedaan harga untuk barang atau produk sejenis walaupun fungsi factor produksi(produktivitas dan efisiensi) sama di kedua negara.
b. Keuntungan absolute ( absolute advantage) dari Adam Smith
Setiap negara akan memperoleh manfaat perdagangan internasional (gain from trade) karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak (absolute advantage), serta mengimpor barang jika negara tersebut memiliki ketidakunggulan mutlak (absolute disadvantage)
Teori absolute advantage didasarkan pada asumsi pokok antara lain sebagai berikut.
1. Faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja
2. Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama
3. Pertukaran dilakukan secara barter atau tanpa uang
4. Biaya transport diabaikan
Kelemahan teori Adam Smith
Perdagangan internasional akan terjadi dan menguntungkan kedua negara bila masing-masing negara memiliki keunggulan absolute yang berbeda. Dengan demikian, bila hanya satu negara yang memiliki keunggulan absolute untuk kedua jenis produk(teh dan sutra), maka tidak akan terjadi perdagangan internasional yang menguntungkan. Hal ini merupakan kelemahan teori absolute advantage Adam Smith.
c. Teorema Hecksher-Ohlin
Teorema Hecksher-Ohlin (H-O) berbunyi: Sebuah negara akan mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap factor produksi yang relative melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu bersamaan ia akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumber daya yang relative langka dan mahal di negara itu.
Sebuah negara yang relative kaya atau berkelimpahan tenaga kerja akan mengekspor komoditi-komoditi yang relative padat tenaga kerja dan mengimpor komoditi-komoditi yang relative padat modal.
Kelemahan teori Hecksher-Ohlin
1. Perbedaan harga barang sejenis dapat terjadi karena adanya perbedaan proporsi atau jumlah faktor produksi yang dimiliki masing-masing Negara dalam memproduksi barang tersebut.
2. Jika jumlah/proporsi factor produksi yang dimiliki masing-masing Negara relative sama, maka harga barang yang sejenis akan sama pula sehingga perdagangan internasional tidak akan terjadi
3. Walaupun jumlah/proporsi factor produksi yang dimiliki masing-masing Negara relative sama sehingga harga barang yang sejenis pun sama, ternyata perdagangan internasionalpun tetap dapat terjadi.

Distribusi Pendapatan
Perdagangan Internasional cenderung menyamakan tingkat upah di kedua negara dan juga menyamakan suku bunga riil di dua negara tersebut. Perdagangan antarnegara cenderung meningkatkan harga factor produksi yang relative melimpah dan murah di suatu Negara, dan dalam waktu bersamaan akan menurunkan harga factor produksinya yang relative langka dan mahal. Karena seluruh factor produksi tenaga kerja dan sumber daya modal telah terdayagunakan secara penuh (full employment) sebelum maupun sesudah berlangsungnya perdagangan, maka pendapatan riil tenaga kerja dan suku bunga riil bagi para pemilik modal akan bergerak kearah yang sama seperti kea rah yang dituju oleh pergerakan harga-harga factor produksi itu sendiri.
Perdagangan cenderung memperbesar tingkat pendapatan atau tingkat upah para pekerja dan dalam waktu bersamaan akan menurunkan suku bunga riil modal di Negara 1 yang yang merupakan Negara yang kaya tenaga kerja (sehingga tingkat upahnya relative rendah) dan yang mengalami kelangkaan modal (sehingga suku bunga riilnya sangat tinggi). Di sisi lain, perdagangan internasional juga menyebabkan pendapatan riil pekerja mengalami penurunan dalam waktu bersamaan, sehingga membuat suku bunga riil modal mengalami kenaikan di negara 2, yang merupakan negara kaya modal namun miskin tenaga kerja.
Karena di negara-negara maju pada umumnya, factor produksi modal merupakan sumber daya yang relative melimpah (sehingga harganya murah) sedangkan tenaga kerja merupakan factor produksi yang langka dan mahal, maka perdagangan internasional yang mereka lakukan cenderung menurunkan pendapatan riil para pekerja di negara itu dan dalam waktu bersamaan cenderung menaikkan suku bunga riil modal.
Kegiatan redistribusi pendapatan tidak hanya harus dilakukan dalam bentuk penyediaan serangkaian program latihan dan pendidikan bagi para pekerja yang kehilangan pekerjaan atau terdesak oleh impor, namun juga harus diwujudkan untuk pemberian keringanan pajak bagi para pekerja (tentunya juga harus disertai dengan penyediaan program-program bantuan social tertentu).

BAB IV
PERTUMBUHAN EKONOMI DAN PERUBAHAN PERDAGANGAN

Untuk memahami pola dan efek arus perdagangan yang berubah sepanjang waktu karena perekonomian dunia yang semakin berkembang, diperlukan hipotesis yang dapat diuji bagaimana caranya permintaan dan penawaran berubah sepanjang waktu dan bagaimana perubahan itu mempengaruhi perdagangan.
PERGESERAN PERMINTAAN
Kombinasi barang dan jasa yang dibeli masyarakat akan mengalami pergesaran yang diakibatkan oleh adanya pertumbuhan pendapatan per kapita. Ada dua pola perubahan permintaan, yaitu yang sudah cukup mantap dan dapat diperkirakan dan yang lebih spekulatif dan imaginatif.
Efek Engel dan Hukum Engel
Elastisitas permintaan terhadap pendapatan

Apabila orang terus membeli semua barang dan jasa tanpa memperhatikan berapa pendapatannya, maka elastisitas pendapatannya adalah satu (unity). Akan tetapi, pada kenyataannya beberapa barang menunjukkan pangsa yang menurun dibandingkan dengan seluruh permintaan meskipun pendapatannya meningkat (I 1).
Hukum Engel menyatakan bahwa apabila variabel harga dan demografi (ukuran keluarga dan komposisinya) dianggap tetap konstan, meningkatnya pendapatan akan menurunkan pengeluaran konsumen untuk pangan. Permintaan terhadap pangan akan meningkat, meskipun tidak secepat kenaikan pendapatan.
Hukum Engel menyiratkan apabila produktivitas tumbuh dengan kecepatan yang sama maka kenaikan pendapatan yang dihasilkan akan menggeser permintaan ke arah yang merugikan pangan. Dengan demikian harga pangan di pasar dunia turun secara relatif terhadap harga barang-barang mewah, termasuk di dalamnya barang manufaktur.

Hipotesis Permintaan Representatif dari Linder
Hipotesis ini menyatakan bahwa peningkatan pendapatan per kapita akan menggeser pola permintaan representatif suatu negara ke arah barang-barang mewah yang sekarang dapat dibeli oleh negara tersebut. Banyaknya permintaan akan barang mewah akan mengakibatkan para produsen berupaya untuk menyempurnakan teknologi penghasil barang-barang tersebut.

PERTAMBAHAN FAKTOR PRODUKSI
Pertumbuhan yang Sama Sekali Netral
Jika semua faktor produksi tumbuh dengan tingkat yang sama di semua negara, maka ratio modal per pekerja, keterampilan per pekerja, dan lahan per pekerja akan tetap sama di masing-masing negara, meskipun ketiga hal tersebut bertambah. Sehingga kurva kemungkinan produksi dan kurva penawaran akan mengembang tanpa berubah bentuk. Dalam kasus ini, perdagangan akan bergerak dengan arah, proporsi, dan ratio harga internasional yang sama, hanya volumenya saja yang berbeda. Satu-satunya faktor pertumbuhan yang berubah adalah volume produksi dan perdagangan secara absolut.
Ketidakseimbangan Pertumbuhan di Suatu Negara
Pertumbuhan faktor produksi yang tidak merata akan menyebabkan perubahan di sisi permintaan dan penawaran. Pada sisi permintaan, jika modal dan keterampilan tumbuh lebih cepat daripada tenaga kerja, maka pendapatan per kapita akan meningkat. Pada sisi penawaran, harus diteliti implikasi pertumbuhan faktor produksi yang tidak merata terhadap perekonomian yang menggunakan faktor produksi tersebut dalam proporsi dan sektor yang berbeda.
Pertumbuhan industri pengganti impor
Jika dalam suatu negara terdapat pertambahan modal yang cukup besar, maka produksi akan lebih difokuskan pada sektor yang penggunaan modalnya lebih intensif. Dalam hal ini, negara akan lebih banyak memproduksi barang-barang yang sebelumnya didapat dari impor karena modalnya lebih murah. Dengan demikian, negara dapat mengurangi impor dan pada akhirnya biaya marginal di negara tersebut akan menyamai harga dunia. Pertumbuhan yang bersifat mengurangi impor seperti ini akan mengurangi permintaan dan mungkin juga harga-harga barang impor menjadi merosot.
Pertumbuhan yang memperluas ekspor
Jika dalam suatu negara terdapat pertumbuhan faktor-faktor produksi yang menghasilkan barang yang diekspor. Masyarakat akan terdorong untuk memproduksi barang- barang tersebut sehingga akan menyebabkan jumlah ekspor menjadi bertambah banyak. Pertumbuhan yang memperluas ekspor seperti ini akan dapat meningkatkan perdagangan dunia dan mungkin akan mengurangi harga relatif barang-barang ekspor.
Implikasi Kebijakan
Perbedaan pertumbuhan antara industri pengganti impor dan industri yang mengembangkan ekspor memberikan panduan kepada pemerintah untuk dapat memilih sektor mana yang lebih menguntungkan jika dirangsang dengan tambahan investasi dan kelonggaran pajak.
Theorema Rybczynski
Peningkatan pertumbuhan suatu faktor secara relatif terhadap pertumbuhan faktor lainnya tidak hanya memperbesar pangsa keluaran sektor yang menggunakannya secara insentif, tetapi juga mengurangi keluaran sektor lainnya jika harga-harga di dunia konstan. Theorema Rybczynski mengatakan bahwa di dunia yang terdiri dari dua barang, apabila harganya konstan maka pertumbuhan faktor produksi tertentu akan mengurangi keluaran salah satu barang.

KASUS PERTUMBUHAN YANG MENYENGSARAKAN
Terdapat beberapa kasus ekstrim tentang berbagai kekurangan pertumbuhan ekonomi yang dilaksanakan melalui pengembangan ekspor, antara lain semakin memburuknya ratio harga perdagangan sehingga negara tersebut bukan hanya berkurang kesejahteraannya dibandingkan dengan melakukan investasi pada industri pengganti impor, tetapi juga membuat keadaan negara tersebut menjadi lebih buruk lagi dibandingkan dengan tidak ada pertumbuhan sama sekali.

POSISI PERDAGANGAN PARA PENGEKSPOR BARANG-BARANG PRIMER
Keraguan terhadap kebijakan keunggulan komparatif semakin berkembang menjadi suatu sikap menentang terhadap keortodokan para pakar ekonomi dan politisi di negara-negara pengekspor barang-barang primer. Usul kebijakan yang diajukan adalah negara-negara tersebut harus mengkonsentrasikan sumber dayanya pada industri modern dan mengurangi sumber daya untuk mengembangkan keluaran dan ekspor sektor primer. Salah satu usul kebijakan yang konkret adalah melarang impor barang-barang industri dan menggantinya dengan barang-barang industri produksi dalam negeri.

PERUBAHAN TEKNOLOGI DAN PERDAGANGAN
Seiring dengan perkembangan jaman, perdagangan dunia semakin dipengaruhi oleh teknologi modern. Negara-negara maju, pangsa produksi nasional bagi barang-barang hasil pengembangan metode produksi yang lebih canggih meningkat perlahan-lahan. Sekarang ini, lebih dari setengah dari nilai komoditi yang diperdagangkan adalah barang manufaktur produksi negara-negara maju.
Teknologi sebagai factor produksi
Kemajuan teknologi dapat dianggap sebagai suatu perubahan kekayaan faktor produksi. Suatu teknik baru yang menghasilkan sejenis barang secara lebih mudah, setara dengan perluasan persediaan faktor produksi. Kemajuan teknologi merupakan pengembangan pengetahuan. Dalam hubungannya dengan kemampuan teknik baru untuk menciptakan lapangan kerja, modal, dan faktor-faktor lainnya yang lebih produktif dapat dipandang sebagai pengembangan pasokan proporsi faktor produksi untuk meningkatkan produktivitasnya masing – masing. Dengan memandang teknologi sebagai salah satu faktor produksi yang menghasilkan pendapatan bagi faktor tersebut akan memudahkan untuk memahami data perdagangan dari negara – negara yang kekayaan teknologinya melimpah.
Barang-barang Baru dan Daur Barang
Pada saat suatu barang diciptakan, barang tersebut masih harus disempurnakan. Untuk penyempurnaan tersebut, diperlukan teknologi maju dan cenderung menjadi lebih baik apabila diproduksi di Negara-negara penemu atau pelanggan asalnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: