G6 Teori HO

DEPARTEMEN KEUANGAN RI
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

PERDAGANGAN
INTERNASIONAL

Mata Kuliah : Ekspor Impor
Dosen : Harry Waluya

Disusun Oleh:
Kelompok Belajar
Administrasi Perpajakan
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2008

 Alfian Cahya Gumilang (03)
 Muhammad Valid S. R. (22)
 Rizqi Darmawan (25)
 Sindhu Aji Purnomo (29)

RESUME BAB I
Perdagangan Internasional
A. Penawaran
Dilihat dari sisi penawaran, perdagangan didasari oleh perbedaan-perbedaan dalam biaya komparatif. Suatu negara mungkin lebih efisien dari yang lainnya apabila diukur oleh masukan per unit keluaran dalam memproduksi setiap komoditi yang dihasilkan, akan tetapi apabila memang sama-sama tidak lebih efisien pada setiap komoditi maka dasar untuk perdagangan akan tercipta. Hukum keunggulan komparatif menyatakan bahwa perdagangan memungkinkan suatu negara untuk menghasilkan barang-barang tertentu yang lebih banyak, relative lebih efisien dan mengekspornya untuk ditukar dengan barang-barang yang kurang memiliki keunggulan komparatif. Dengan demikian perdagangan bukanlah suatu zero sum game dimana salah satu pihak mendapat manfaat di atas kerugian yang lainnya. Seluruh dunia mendapat manfaat dari perdagangan dan kedua belah pihak sekurang-kurangnya sama sejahteranya dengan atau tanpa perdagangan.

Hukum Keunggulan Komparatif
Hukum keunggulan komparatif pertama kali diperkenalkan oleh David Ricardo pada awal abad 19 dengan mengasumsi biaya konstan. Dengan melupakan asumsi tersebut yang memungkinkan penggunaan biaya oportunitas yang semakin meningkat (atau menurun), tidak berarti akan membatalkan keunggulan komparatif.
Azas Keunggulan Komparatif
1. Memiliki Potensi Ekspor,
Bila komoditi ekspor itu memiliki keunggulan mutlak/komparatif dengan menekan biaya produksi, efisiensi dan tingkat produktifitas lebih tinggi dibanding negara lain.
2. Keunggulan Mutlak,
Bila langka secara alamiah dan terikat iklim. CPO, Karet, Lada, Timah, Tembaga hanya tumbuh / terkandung di bumi Indonesia

3. Keunggulan Komparatif, seperti hasil produk industri :
• tekstil,
• makanan/minuman kalengan
• semen,
• kayu lapis.
4. Sesuai dengan selera (taste)
seperti kayu jati, yang desain alamiahnya cocok dengan pasar di Eropa, Inggris/Amerika.
5. Cadangan Strategis Nasional
Misalnya, pada saat kekurangan beras. Ekspor beras mutu tinggi dengan harga mahal dan impor beras murah. Sehingga cadangan beras cukup untuk rakyat miskin (raskin).

Perbedaan internasional dalam biaya-biaya komparatif atau dalam kurva kemungkinan produksi sebagian berasal dari kenyataan bahwa:
• Barang-barang yang berbeda menggunakan factor produksi dengan nisbah yang berbeda, dan
• Negara-negara berbeda dalam kekayaan faktor produksinya.

Teori Heckscher-Ohlin
Penjelasan Heckscher-Ohlin tentang pola perdagangan dibangun diatas dua kenyataan tersebut yang menyatakan bahwa negara-negara cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan factor produksi yang relative melimpah secara lebih intensif, untuk ditukar dengan barang-barang yang menggunakan factor yang langka secara insentif.
Teori Heckscher-Ohlin menjelaskan beberapa pola perdagangan dengan baik. Negara-negara cenderung untuk mengekspor barang-barang yang menggunakan factor produksi yang relative melimpah secara intensif. Kemerosotan keunggulan komparatif Amerika Serikat dalam barang-barang yang padat teknologi setelah perang sejalan dengan kecenderungan yang menuju kea rah akumulasi masukan ilmiah dan modal yang lebih cepat di Jepang dan di negara-negara lainnya.

Asumsi HO
Hanya ada 2 Negara A dan Negara B
Hanya ada 2 Komoditi X dan Y
X dan Y sama-sama diproduksi A/B
Biaya berdasarkan upah tenaga kerja
Tidak ada pajak
Tidak ada biaya transportasi

Illustrasi HO
Sumber daya dari Negara A dan B di gambarkan dengan kurva PPC = production possibility curve / kurva kemungkinan berproduksi.

Kelemahan Teori Heckscher-Ohlin
Fakta lainnya ternyata tidak begitu cocok dengan H-O. beberapa perubahan dalam posisi persaingan yang terjadi baru-baru ini, terutama di Eropa, tidak cocok dengan data yang tersediamengenai kepemilikan factor produksi. Kecenderungan akhir-akhir ini menunjukan bahwa negara-negara industri menjadi sama kekayaan factor produksinya, yang berarti bahwa teori H-O yang menekankan pada perbedaan kekayaan factor produksi mungkin lambat laun akan menjadi kurang relevan. Perdagangan internasional sedikit demi sedikit bergeser kea rah perdagangan antara negara-negara yang sama daripada perdagangan antarsector industri yang sangat berbeda.
Tantangan Empiris baru terhadap teori H-O mungkin akan dapat terjawab dengan mengembangkan teori tersebut atau menggantinya. Para pakar ekonomi masih berdebat tentang jalan mana yang lebih menjanjikan. Teori H-O dapat menjelaskan lebih banyak apabila ia dikembangkan dengan memilah-milah factor produksi secara lebih spesifik. Atau teori tersebut dapat diganti dengan suatu pandangan baru yang menyatakan bahwa perdagangan sesungguhnya lebih banyak didasarkan pada manfaat dari adanya spesialisasi industri yang ditandai dengan skala ekonomis (atau skala penghasilan yang semakin meningkat atau biaya semakin menurun).

B. Permintaan
Berbagai efek terpenting dari perdagangan internasional dapat ditentukan apabila informasi tentang selera dan permintaan digabungkan dengan informasi tentang penawaran. Salah satu cara untuk menggambarkan pentingnya selera adalah dengan menggunakan kurva indeferen masyarakat. Cara lainnya adalah dengan menggunakan kurva permintaan yang dapat diturunkan dari kurva indeferen masyarakat, tetapi tidak selalu harus demikian.
Kedua belah pihak mungkin akan memperoleh manfaat agregat dari dibukanya pedagangan internasional. Kurva indeferen masyarakat menyiratkan hal tersbut dengan menunjukkan bahwa perdagangan memungkinkan masing-masing pihak untuk mencapai kepuasan agregat yang lebih tinggi. Kurva permintaan dan penawaran juga dapat mencapai hasil yang sama dalam cara yang lebih dapat diukur, yaitu yang memungkinkan kita untuk melihat efek perdagangan terhadap konsumen dan produsen barang-barang yang dapat diimpor di masing-masing negara. Efek kesejahteraan ini dapat diukur dengan menggunakan pirate surplus produsen dan surplus konsumen, meskipun agak sulit untuk menerapkannya pada sekumpulan orang tertentu. Akibatnya, perolehan manfaat yangditerima konsumen dari dibukanya perdagangan jelas lebih besar nilainya daripada kerugian para produsen yang barangnya disaingi barang-barang impor. Apabila orang-orang rela untuk menimbang bobot satu dollar rugi sama dengan satu dollar untung tanpa memandang siapa yang mengalaminya, maka perolehan manfaat secara nasional dari perdagangan sama dengan fungsi perdagangan sederhana yang volumenya dapat diukur dan diciptakan, serta perubahan harga yang disebabkan oleh adanya perdagangan.
Meskipun kedua belah pihak mungkin akan memperoleh manfaat dari perdagangan internasional, perolehan manfaat tersebut dibagikan antara negara yang tergantung pada nisbah harga yang paling berubah banyak. Manfaat yang diraih oleh suatu negara akan lebih banyak apabila rasio harga perdagangan (atau nisbah harga ekspor terhadap harga impor) berubah banyak.
Perbedaan selera pada dirinya merupakan dasar dari perdagangan yang saling menguntungkan. Apabila suatu negara berbeda dari dunia lainnya dalam pola selera tetapi tidak dalam kemampuan produksinya, maka perdagangan tersebut akan mengacu pada spesialisasi internasional dalam konsumsi dan bukannya dalam produksi.

C. Distribusi Pendapatan
Untuk mengetahui siapa yang menerima manfaat atau menderita kerugian karena adanya perdagangan atau restriksi terhadap perdagangan maka perlu memahami dulu bagaimana harga keluaran relative mempengaruhi penghasilan factor. Dalam model sederhana, dua factor dan dua komoditi, theorema Stolper-Samuelson menunjukkan bahwa dengan membuka perdagangan akan meningkatkan harga relative barang-barang yang diekspor, memberikan manfaat pendapatan yang jelas bagi factor produksi yang digunakan secara intensif dalam industri yang digunakan secara intensif dalm industri yang hasilnya dapat diekspor, dan juga mengakibatkan hilangnya pendapatan bagi factor yang digunakan secara intensif pada industri yang menyaingi impor. Dalam model yang sama, dengan menambahkan beberapa asumsi, dalil penyeimbangan harga factor produksi menunjukkan bahwa pedagangan bebas memberikan kesempatan kepada masing-masing factor produksi untuk menerima manfaat material yang sama bagi masing-masing industri.
Dalam hal kita ingin menggunakan teori tentang bagaimana perdagangan dan harga hasil produksi mempengaruhi distribusi pendapatan di antara factor-faktor produksi maka perlu untuk beranjak melampaui model dua factor dan dua produk yang sederhana. Analisis yang lebih luas telah melahirkan lebih sedikit bukti matematis yang jelas, tetapi menghasilkan beberapa prinsip yang sederhana. Pangsa penghasilan yang dibelanjakan oleh factor produksi, pada sesuatu yang dapat diekspor atau dapat diimpor, merupakan hal yang harus diperhitungkan dalam perdagangan luar negeri. Hal yang lainnya yaitu bahwa factor-faktor yang sangat terspesialisasikan pada barang-barang yang dapat diekspor dan produksi barang-barang yang dapat diimpor masing-masing dapat menerima manfaat dan mengalami kerugian yang jelas karena berkembangnya perdagangan.
Para pakar konomi telah berupaya sekuat tenaga untuk menemukan siapa sebenarnya yang menjadi pengekspor dan pengimpor factor produksi. Upaya mereka dipusatkan pada paradoks Leontiev yang memperlihatkan bahwa Amerika Serikat Mengekspor lebih sedikit barabg yang padat modal dan lebih banya barang yang padat karya dibandingkan dengan produksi barang-barang yang menyaingi impor. Paradoks ini mengacu pada pandangan yang lebih berhati-hati tapi bersungguh-sungguh tentang kandungan factor produksi dalam perdagangan luar negeri, khusunya Amerika Serikat.
Perhitungan tentang kandungan factor mengungkapkan bahwa factor-faktor diekspor atau diimpor secara implisit dalam barang yang dihasilakn melalui perdagangan. Baru-baru ini Amerika Serikat menjadi pengekspor jasa keterampilan dan lahan pertanian dan pengimpor hak-hak mineral(terutama melalui impor minyak bumi) dan tenaga tidak terampil. Kanada juga menjadi pengekpor jasa pertanian dan hal itulah yang menjadi kesamaanya dengan Amerika Serikat. Kanada mengekspor hak mineral, tenaga tidak terampil dan modal serta mengimpor keterampilan.
Dengan demikian jelaslah bahwa industri-industri ekspor Amerika Serikat melibatkan lebih banyak tenaga kerja daripada industri-industri Amerika Serikat yang menyaingi impor. Karena pengurangan impor Amerika Serikat secara umum mungkin akan mengakibatkan pengurangan ekspor yang sama nilainya maka pengurangan impor tersebut akan mengakibatkan kerugian bagi Amerika Serikat dalam hal lapangan pekerjaan dan upah, dimana hal itu berlawanan dengan argument yang seringkali dikemukakan yaitu untuk menyelamatkan lapangan kerja. Di pihak lain, menghilangkan hambatan impor Amerika Serikat yang ada sekarang mungkin hanya akan mengakibatkan Sedikit pengurangan lapangan kerja dan upah karena hambatan yag ada sekarang itu terpusat pada industri-industri padat karya yang menyaingi impor.

D. Perubahan Perdagangan
Dengan tumbuhnya perekonomian maka terdapat perubahan dalam teknologi, persediaan factor produksi dan permintaan. Sisi permintaan yang menghubungkan antara pertumbuhan dan perdagangan digambarkan oleh efek hukum Engel. Hukum Engel menyatakan bahwa apabila pendapatan meningkat maka orang akan mengurangi pangsa (Share) pengeluarannya untuk pangan yang dapat mengakibatkan penurunan harga barang-barang secara relative dalam perdagangan internasional, sementara harga barang lainnya tetap sama. Efek permintaan yang lainnya dilukiskan dengan hipotesis permintaan representative dari Linder. Linder berpendapat bahwa dengan meningkatnya pendapatan per kapita suatu negara, maka pola permintaan representatifnya akan mendorong perluasan produksi barang-barang mewah di dalam negeri. Perluasan ini akan mengakibatkan penurunan tersebut diatas karena dialihkan untuk barang-barang mewah tadi, yang kemudian menjadi barang ekspor baru yang memiliki keunggulan komparatif bagi negara yang bersangkutan. Dengan demikian, ia sebenarnya menyatakan bahwa negara-negara akan mengekspor barang yang merupakan permintaan representatifnya.
Pertumbuhan persediaan factor produksi dapat mempengaruhi perdagangan dengan berbagai cara. Apabila semua factor poduksi bertambah dengan kecepatan yang sama, atau apabila pertumbuhan suatu factor produksi digunakan dengan proporsi yang semua dalam semua industri maka perluasan produksi yang seimbang itu hanya akan meningkatkan volume perdagangan tanpa mempengaruhi harga relative, atau pangsa yang diperdagangkan dari yang dihasilkan. Apabila pertumbuhan factor produksi dalam suatu negara dapat memperluas ekspor maka perdagangan akan meningkat scara relative terhadap produksi, dan syarat perdagangan akan bergeser ke arah yang merugikan negara tersebut. Dalam kasus ekstrim tentang pertumbuhan yang menyengsarakan ini, pertumbuhan karena perkembangan ekspor akan menyebabkan kemerosotan rasio harga perdagangan yang demikian besarnya, sehingga keadaan di negara tersebut menjadi lebih buruk. Apabila pertumbuhan factor produksi tersebut terjadi pada industri pengganti impor maka akan berakibat mengurangi perdagangan dan meningkatkan rasio harga perdagangan untuk keuntungan negara yang bersangkutan. Di samping itu, analisis mengenai efek perdagangan tentang kemajuan teknologi merupakan analogi dari pertumbuhan factor produksi.
Kemungkinan terjadinya pertumbuhan yang menyengsarakan sebagai akibat dari bertambahnya ekspor menjadi lebih besar, seperti tampak dari serangkaian argument yang menyatakan bahwa negara-negara berkembang seharusnya memanfaatkan sumber daya mereka bukan untuk sector pertanian dan barang-barang tambang untuk ekspor, tetapi untuk industri. Beberapa di antara argumentasi tersebut telah diuji dan nampak hasil dari pengujian tersebut bahwa manfaat yang diperoleh dari dibukanya nperdagangan, pada tahap awal, mengalir terutama kepada para pengekspor barangprimer di negara yang baru melaksanakan perdagangan tersebut. Arti social dari hasil ini tergantung pada apakah para pengekspor barang primer adalah para petani pribumi, atau orang-orang asing yang berasal dari berbagai negar kaya. Kecenderungan rasio harga perdagangan dalam jangka panjang tampak tidak merugikan para pengekspor barang primer. Bagi kebanyakan barang primer lainnya adalah tidak benar bahwa daya beli mereka, apabila diukur dengan barang-barang manufaktur, telah merosot.
Perdagangan barang manufaktur sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, yaitu hanya dapat dipadukan dalam model perdagangan dasar dari Heckscher-Ohlin setelah dimodifikasi secara hati-hati. Teori perdagangan barang-barang manufaktur yang lebih baik harus mengikuti peranan teknologi dan penyebarannya antar bangsa. Pola perdagangan setiap barang manufaktur menunjukkan adanya kecocokan dengan hipotesis daur-barang dari Raymond Vernon, yang meramalkan bahwa apabila teknologi untuk menghasilkan sesuatu barang menjadi lebih baku dan static maka barang tersebut akan pindah ke negara-negara yang berpendapatan rendah yang biaya tenaga kerjanya merupakan dasar bagi keunggulan komparatif mereka ketimbang penelitian dan pengembangan. Keterkaitan antara perdagangan dan teknologi seperti itu dapat diterangkan oleh kerngka pemikiran Heckscher-Ohlin yang mengutamakan pemilikan factor produksi, yaitu bahwa semua keunggulan teknologi yang spesifik merupakan pemilikan kekayaan relative dari pengetahuan dan keterampilan.
Pemimpin teknologi dapaat tetap berpacu di garis depan dari evolusi daur barang untuk selama-lamanya asalkan terus menerus melahirkan inovasi. Bukanlah suatu keharusan secara ekonomi yang menyatakan bahwa kepemimpinan dapat diambil alih oleh pesaing luar negeri. Dalam hal ini ada keterbatasan bagi masing-masing argumentasi yang menyatakan bahwa para pengikut memiliki keunggulan di atas para pemimpin, karena tenaga kerjanya lebih murah, kemampuan untuk menunjang terknologi mutakhir tanpa mengembangkannya, atau kenyataan bahwa para pemimpin teknologi tersebut telah merosot investasinya, dan alat-alat yang dimilikinya sudah tua. Pemimpin teknologi dapat diambil alih, tetapi bukan karena daur-barang atau karena pemikiran ekonomi beberapa pemula. Kejatuhan para pemimpin teknologi mungkin berasal dari beberapa kekuatan yang tidak ada hubungannya dengan kepemimpinannya, atau karena kesalahn sikap dan kelembagaan yang disebabkan oleh keperintisannya itu, meskipun tidak selalu demikian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: