G5 Dampak X-M

ANI ASHARIDA (04)
DIAN PUTRI IRMAYANTI (12)
DWI WULANDARI (14)
GOLDA RUTH PURBA (15)
SRI UTHAMI DEWI (31)
UTARI MUHARMIASTI ASLAM (32)

EKONOMI INTERNASIONAL

1.1 Pengertian
Ilmu ekonomi internasional berusaha untuk mempelajari bagaimana hubungan ekonomi antara satu negara dengan negara lain dapat mempengaruhi alokasi sumberdaya baik antara dua negara tersebut maupun antar beberapa negara.

Karakteristik Ekonomi Internasional:
a. Mobilitas factor produksi seperti tenaga kerja dan modal relatif lebih sukar (immobilitas factor produksikan),
b. Sistem keuangan, perbankan, bahasa, kebudayaan serta politik yang berbeda,
c. Faktor-faktor produksi yang dimiliki (factor endowment) berbeda sehingga dapat menimbulkan perbedaan harga barang yang dihasilkan.

Aspek Ekonomi Internasional:
• Mikro: manyangkut masalah jual-beli secara internasional (yang sering dsebut dengan ekspor-impor).kegiatan perdagangan internasional ini tergantung pada keadaan pasar hasil produksi maupun pasar factor produksi.
• Makro: mempengaruhi pendapatan ataupun kesempatan kerja.

Mengapa Suatu Negara Perlu Berdagang dengan Negara Lain?
Perdagangan luar negeri sering timbul karena adanya perbedaan harga barang di berbagai negara.
Penyebab perbedaan harga:
• Perbedaan biaya produksi
• Perbedaan dalam pendapatan dan selera
• Pengaruh factor-faktor permintaan dan penawaran.

KEUNGGULAN KOMPARATIF
Secara fundamental, perdagangan internasional timbul bukan pada sisi konsumsi, tetapi pada sisi produksi. Perdagangan internasional timbul terutama sekali karena suatu negara bisa menghasilkan barang tertentu secara lebih efisien daripada negara lain. Bila negara A lebih efisien dalam produksi beras dan Negara B lebih efisien dalam produk tekstil, maka ada kecenderungan bagi A untuk mengekspor beras ke B, dan bagi B untuk mengekspor tekstil ke A.
Secara lebih mendalam, istilah ”lebih efisien” bisa mempunyai lebih dari satu arti. Satu Negara bisa lebih efisien secara mutlak dibanding Negara lain, misalnya Negara A bisa menghasilkan beras lebih murah daripada Negara B, artinya Negara A mempunyai keunggulan absolute terhadap Negara B dalam produksi beras. Kasus lain adalah bila suatu Negara lebih efisien secara relative dibanding dengan Negara lain, misalnya bila dibandingkan antara beras dan tekstil, Negara B lebih efisien dalam produksi tekstil daripada Negara C. Dalam hal ini, Negara B mempunyai keunggulan komparatif terhadap Negara C dalam produksi tekstil.
Teori keunggulan komparatif menyatakan bahwa suatu Negara mengekspor barang tertentu karena Negara tersebut bisa menghasilkan barang tersebut dengan biaya yang secar mutlak lebih murah daripada Negara lain. Suatu Negara hanya akan mengekspor barang yang mempunyai keunggulan komparatif tinggi dan mengimpor barang yang mempunyai keunggulan komparatif rendah. Jadi, jelas bahwa adanya keunggulan komparatif bisa menimbulkan manfaat perdagangan bagi kedua belah pihak, dan selanjutnya akan mendorong timbulnya perdagangan antarnegara.
Ada tiga faktor utama yang mempengaruhi keunggulan komparatif suatu Negara, di antaranya sebagai berikut:
a. Tersedianya faktor produksi dalam macam atau jumlah yang berbeda antara Negara satu dengan yang lain
b. Adanya kenyataan bahwa dalam cabang-cabang produksi tertentu orang bisa memproduksi secara lebih efisien (lebih murah) apabila skala produksi semakin besar.
c. Adanya perbedaan dalam corak dan laju kemajuan teknologi.

1. Ricardo
Ricardo membedakan dua keadaan:
• Perdagangan dalam negeri
Di dalam negeri perdagangan akan dijalankan atas dasar ongkos tenaga kerja saja (labor cost). Hal ini menurut Ricardo disebabkan karena adanya persaingan bebas dan kebebasan bergerak factor-faktor produksi tenaga kerja dan modal. Denagn demikian untuk perdagangan dalam negeri berlaku prinsip keuntungan/ongkos mutlak (Adam Smith). Masing-masing tempat akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang tertentu yang mempunyai ongkos tenaga kerja yang paling kecil dibandingkan dengan tempat-tempat lain dan menukarkannya dengan barang-barang yang dihasilkan oleh tempat-tempat lain tersebut.
• Perdagangan luar negeri
Perdagangan luar negeri tidak mungkin dilakukan atas dasar keuntungan/ongkos mutlak. Hal ini timbul karena factor-faktor produksi tidak dapat bergerak bebas antar Negara.
Dengan demikian dasar tukar dalam negeri ditentukan oleh ongkos tenaga kerja barang-barang tersebut. Di lain pihak, dalam perdagangan internasional ongkos tenaga kerja tidak menentukan dasar tukar barang-barang.
Menurut Ricardo yang menentukan adalah ongkos komparatif (comparative cost). Menurut teori ongkos komparatif, masing-masing Negara akan cenderung untuk melakukan spesialisasi dan mengekspor barang-barang yang diproduksi yang mempunyai keuntungan komparatif. Keuntungan ini diukur dalam ongkos riil yang mencerminkan ongkos tenaga kerja. Jadi walaupun perdagangan antar Negara tidak ditentukan, tapi tetap disandarkan atas teori nilai yang didasarkan atas tenaga kerja.

2. Jhon Stuart Mill
Suatu Negara akan memperoleh manfaat apabila jumlah jam kerja yang dibutuhakan untuk membuat seluruh (bukan satu satuan) barang-barang ekspornya lebih kecil daripada jumlah jam kerja yang dibutuhkan seandainya seluruh barang impornya harus diproduksi sendiri.

Teori Heckscher-Ohlin

Teori HO ini lebih menunjukkan tindakan suatu Negara yang tidak memiliki sumber daya alam. Suatu Negara bisa memiliki lebih sedikit faktor produksi seperti sumber daya alam dibanding Negara lain. Namun, dengan adanya hal itu, suatu Negara akan melakukan usaha agar roda perdagangan di Negara tersebut stabil walaupun tidak memiliki sumber daya alam. Contoh Negara yang menggunakan teori HO yaitu Jepang. Jepang bukan Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah, sehingga Jepang melakukan usaha dengan meningkatkan mutu sumber daya manusia yang dimiliki oleh Jepang. Itu pun membuktikan bahwa Jepang memiliki keunggulan kompetitif (daya saing) dengan Negara lain, contohnya saat ini Jepang telah banyak menciptakan produk otomotif maupun teknologi dan melakukan ekspor sehingga menjadi Negara yang surplus.
Konsepsi Heckscher-Ohlin
a) Perdagangan internasional/antar Negara tidaklah banyak berbeda dan hanya merupakan kelanjutan dari perdagangan antar daerah. Perbedaan pokoknya terletak pada masalah jarak. Atas dasar inilah maka Ohlin melepaskan anggapan (yang berasal dari teori klasik) bahwa dalam perdagangan internasional ongkos transport dapat diabaikan.
b) Barang yang diperdagangkan antar Negara tidaklah didasarkan atas keuntungan alamiah atau keuntungan yang diperkembangkan (dari Adam Smith) akan tetapi atas dasar proporsi serta intensits factor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang itu.

Teori H-O dalam batas definisinya yang paling sempit menyatakan bahwa:
a) Suatu Negara akan/sebaiknya menghasilkan barang-barang yang menggunakan factor produksi yang relative banyak (harga relative factor produksi murah), sehingga barangnaya murah karena ongkos produksinya pun murah. Misalnya, Indonesia yang memiliki banyak tenaga kerja sedangkan modalnya sedikit sebaiknya menghasilkan dan mengekspor barang padat karya, sedangkan Amerika sebaliknya, sebaiknya menghasilkan barang yang padat modal dan mengimpor barang yang padat karya.
b) Dengan mengutamakan produksi dan ekspornya pada barang-barang yang menggunakan factor produksi yang relaif banyak, maka harga factor produksi yang relative banyak itu akan naik.

Ikhtisar Teori H-O dalam perdagangan internasional
• Yang menentukan barang-barang apa yang akan diperdagangkan adalah adanya perbedaan dalam hadiah alam (factor endowment) yang mendorong masing-masing Negara melakukan spesialisasi atas dasar proporsi serta intensitas penggunaan factor produksi sesuai dengan hadiah alam tersebut—- proporsi dan intensitas factor produksi.
• Yang mendorong orang-orang untuk melakukan perdagangan internasional adalah diperolehnya manfaat perdagangan yang berbentuk keuntungan-keuntungan dari perbedaan ongkos produksi, yaitu adanya perbedaan ongkos produksi dalam uang menyebabkan keuntungan dalam harga barang-barang.
• Negara yang melakukan perdagangan internasional melakukan spesialisasi untuk memperoleh manfaat perdagangan yang optimal dengan realokasi factor-faktor produksi melalui kekuatan pasar dan pembagian kerja internasional.
• Keuntungan dari perdagangan internasional adalah Negara dan rakyat menjadi lebih makmur, demikian pula seluruh dunia.

Keuntungan Mutlak (Absolute)
Smith mengemukakan idenya tentang pembagian kerja internasional yang membawa pengaruh besar bagi perluasan pasar barang-barang internasional tersebut yang akibatnya berupa spesialisasi internasional yang dapat memberikan manfaat berupa kenaikan produksi dan konsumsi barang dan jasa. Sehingga masing-masing Negara akan berusaha untuk menekankan produksinya pada barang tertentu sesuai dengan keuntungan yang dimilikinya, baik berupa keuntungan alamiah (natural advantage) maupun keuntungan yang diperkembangkan (acquired advantage).
Keuntungan alamiah adalah keuntungan yang diperoleh karena suatu Negara memiliki SDA yang tidak dimiliki Negara lain. Sedangkan keuntungan yang diperkembangkan adalah keuntungan yang diperoleh karena suatu Negara telah mampu mengembangkan kemampuan dan keterampilan dalam menghasilkan produk yang belum dimiliki Negara lain.
Dengan kata lain masing-masing Negara yang melakukuan perdagangan internasional akan didorong untuk melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang yang mempunyai keuntungan mutlak (absolute advantage). Keuntungan mutlak adalah keuntungan yang dinyatakan dengan banyaknya jam/hari kerja yang dibutuhkan untuk membuat barang-barang tersebut. Keuntungan ini akan diperoleh apabila masing-masing Negara mampu memproduksikan barang-barang tertentu dengan jam/hari kerja yang lebih sedikit dibandingkan dengan jika barang-barang tersebut diproduksi oleh Negara lain.

Keuntungan Mutlak
(Jam Kerja per Satuan Output)

Kain Radio Dasar Tukar Dalam Negeri (DTD)
Indonesia 1/15 jam/meter 2 jam/buah 1 buah radio = 30 meter kain
Jepang 1/10 jam/meter 1 jam/buah 1 buah radio = 10 meter kain

Table di atas menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghasilkan kain dalam 4 menit per meter dan radio dalam 2 jam per buah. Jepang di lain pihak mampu menghasilkan kain dalam 6 menit per meter dan radio 1 jam per buah. Jadi jelas bahwa Indonesia mempunyai keuntungan mutlak dalam produksi kain dan Jepang dalam radio. Masing-masing Negara akan memperoleh keuntungan apabila Indonesia mengekspor kain dan mengimpor radio dari Jepang.

Teori Perdagangan Internasional (Menurut Adam Smith)
• Yang menentukan barang-barang apa yang akan diperdagangkan adalah adanya keuntungan mutlak yang memberi dasar untuk melakukan spesialisasi yaitu keuntungan alamiah dan keuntungan yang diperkembangakan.
• Yang mendorong orang-orang untuk melakukan perdagangan internasional adalah diperolehnya manfaat perdagangan yang berbentuk keuntungan-keuntungan tertentu, misalnya keuntungan dalam ongkos-ongkos produksi yang menyebabkan keuntungan dalam harga barang-barang.
• Negara-negara yang melakukan perdagangan internasional melakukan spesialisasi untuk memperoleh manfaat perdagangan yang optimal, diantaranya dengan realokasi factor-faktor produksi melalui kekuatan pasar (invisible hand) dan pembagian kerja internasional
• Keuntungan dengan adanya perdagangan internasional adalah Negara dan rakyat menjadi lebih makmur

MODEL EKONOMI TERBUKA

Ekspor dan impor
Di dalam ekonomi terbuka dua variabel perlu ditambahkan, yakni ekspor (X) dan impor (M) barang dan jasa. Karena ekspor berasal dar produksi dalam negeri dijual/dipakai oleh penduduk luar negeri, maka ekspor merupakan injeksi ke dalam aliran pendapatan seperti halnya investasi.sedankan impor merupakan kebocoran dari pendapatan, karena menimbulkan aliran modal ke luar neeri. Oleh karena iu, pendapatanyang ditimbulkan karena proses peoduksi dapat diunakan untuk membeli barang dan jasa dalam negeri (C). Atau keluar dari aliran pendapatan sebagai tabungan (S) atau pembelian barang dari luar negeri (M).
Ekspor bersih, yakni (X-M) adalah jembatan yang menghubungkan antara pendapatan nasional dengan transaksi internasional. Ekspor bersih merupakan salah satu komonen permintaan agregat: GNP = C + I + G + (X-M).
Untuk sementara sektor pemerintah ditiadakan, maka diperoleh: GNP = C + I + (X-M). Jika impor dikeluarkan dari konsumsi dan investasi, artinya C dan I hanya untuk membeli produksi dalam negeri maka pengeluaran agregat untuk produksi dalam negeri menjadi: GNP = C + I + X. Untuk satu periode tertentu, produksi yang dihasilkannilainya akan sama dengan pendapatan yang diciptakan dan pendapatan ini digunakan untuk konsumsi produksi dalam negeri, barang impor atau ditabung, sehingga: GNP = C + M + S. Konsekuensinya:
C + i + x =C + M + S atau I + x = S + M;
Sehingga: S = I + (X-M)
Artinya, surplus perdagangan internasional (X-M) menunjukkan akumulasi aset luar negeri atau sering disebut investasi luar negeri bersih (net foreign investment). Dengan demikian tabunan dalam negeri dapat ditanamkan di dalam negri (investasi) atau digunakan untuk membeli aset luar negeri melalui aliran modal ke luar negeri.
I + X = S + M adalah identitas pendapatan nasional yang selalu benar dalam realita. Tetapi ini tidak selalu menunjukkan bahwa apa yang direncanakan oleh individu baik sebagai investor, eksportir, penabung atau importir, pada suatu periode selalu sama. Apabila I + X = S + M itu sama dalam arti yang direncanakan ( I + X) yang direncanakan = (S + M) yang direncanakan, maka ekonomi (GNP) dikatakan dalam keadaan keseimbangan.
Dengan anggapan bahwa harga dan tingkat bunga tetap, maka impor seperti halnya tabungan tergantung (secara positif) pada pendapatan. Makin tinggi pendapatan, makin tinggi impor.
Impor tidak hanya tergantung pada pendapatan. Faktor lain yang juga mempengaruhi, seperti misalnya daya saing produksi dalam negeri, selera dan sebagainya. Perubahan faktor-faktor ini akan menggeser fungsi impor. Seperti misalnya karena inflasi terjadi di dalam negeri sehingga daya saing menurun, maka impor cenderung naik dan kurva impor bergeser ke atas.
Ekspor suatu negara adalah impor negara lain. Dengan harga dianggap tetap, ekspor tergantung dari pendapatan luar negeri bukan pendapatan nasional negara tersebut. Oleh karena itu dalam diagram ekspor-pendapatan nasional, fungsi ekspor digambarkan sebagai gaaris lurus horizontal. Artinya, ekspor tidak tergantung pada pendapatan nasional. Berapa pun besarnya pendapatan nasional,ekspor tetap. Ini berarti pendapatan nasional tidak mempengaruhi ekspor. Tetapi sebaliknya, seperti halnya investasi, ekspor mempengaruhi pendapatan nasional.
I + X merupakan injeksi dalam perekonomian, sedangkan S + M merupakan kebocoran.

PERDAGANGAN INTERNASIONAL DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

10.1 Peranan Perdagangan Internasional dalam Pertumbuhan Ekonomi

Teori mengenai perdagangan Internasional:
Menurut ahli ekonomi Klasik maupun Neo Klasik perdagangan internasional dapat mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara,Perdagangan internasional merupakan “motor pertumbuhan (engine of growth)”.

Ricardo salah satu penulis Klasik mengembangkan teori comparative advantage.yakni setiap negara akan mengekspor barang yang dapat dihasilkan dengan menggunakan factor produksi yang dimiliki oleh negara tersebut dalam jumlah besar dan mengimpor barang yang comparative advantagenya kecil.Kedua negara akan memperoleh keuntungan dengan melakukan perdagangan. Kenaikan perdagangan akan memperbesar potensi pertumbuhan ekonomi.
Beberapa kritik terhadap pandangan Klasik, antara lain:
a. Teori Klasik masih bersifat statis sehingga tidak dapat menjelaskan proses pertumbuhan yang pada dasarnya bersifat dinamis.
b. Perdagangan internasional justru menyebabkan ketidakmerataan antara negara miskin dengan negara maju, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan internasional.
c. Perdagangan internasional menyebabkan nilai tukar (terms of trade) negara berkembang mengalami penurunan,dikarenakan ekspornya masih terbatas pada barang-barang primer, sedangkan impornya berupa barang manufaktur.

10.2 Efek Pertumbuhan Faktor Produksi (Kasus Negara Kecil)
Pertumbuhan factor produksi, tercermin pada pergeeran keluar kurva kemungkinan produksi (production possibilities curve) yang diikuti pula pergeseran ke atas garis harga. Pergeseran ini akan mengakibatkan egara tersebut mencapai kurva indifferent yang lebih tinggi. Petumbuhan ekonomi cenderung meningkatkan kesejahteraan negara kecil tersebut.

Efek Terhadap Konsumsi berdasrkan Kurva indifferent.

Efek Terhadap produksi
Pertumbuhan dalam salah factor produksi akan selalu mengakibatkan penurunan produksi barang yang menggunakan factor produksi yang tidak bertambah.

DAMPAK PERDAGANGAN INTERNASIONAL
TERHADAP PEREKONOMIAN DALAM NEGERI

A. Pengaruh Ekonomis
Pengaruh ekonomis digolongkan menjadi pengaruh terhadap konsumsi, produksi, dan distribusi pendapatan.
1. Pengaruh terhadap konsumsi
Perdagangan internasional memberikan dampak terhadap konsumsi berupa kenaikan pendapatan riil dan demonstration effect.
a. Kenaikan pendapatan riil
Pembuktiannya dengan konsep transformasi yang mencakup:
– Transformasi melalui produksi, yakni memasukkan sumber-sumber ekonomi (input) ke dalam proses produksi yang menghasilkan barang jadi (output).
– Transformasi melalui perdagangan, yakni menukarkan suatu barang dengan suatu barang lain yang lebih dibutuhkan.
Ekonomi tertutup hanya menggunakan konsep transformasi melalui produksi, sedangkan dalam perekonomian terbuka, kedua komsep transformasi digunakan. Dengan demikian, sumber pendapatan riil semakin meningkat dan lebih besar daripada dalam perekonomian tertutup.
b. Demonstration effect (pengaruh percontohan)
Demonstration effect yakni poengaruh langsung perdagangan internasional terhadap pola dan kecenderungan konsumsi masyarakat. Pengaruhnya bisa bersifat positif maupun negative. Bersifat positif bila kecenderungan konsumsi mendorong kemauan berproduksi lebih besar. Bersifat negative bila perdagangan internasional mendorong konsumsi yang berlebihan sehingga mengakibatkan sumber ekonomi untuk investasi menjadi rendah dan pertumbuhan ekonomi turun.
2. Pengaruh terhadap produksi
Perdagangan internasional memberi pengaruh terhadap produksi dalam hal spesialisasi, peningkatan investasi, vent for surplus, dan produktivitas.
a. Spesialisasi
Perdagangan internasional mendorong spesialisasi dalam produksi barang di suatu negara karena keunggulan komparatif Negara tersebut.
– Spesialisasi yang tidak diimbangi dengan perdagangan internasional akan mengakibatkan kurangnya suatu barang kebutuhan dan menumpuknya produk spesialisasi. Dengan dibukanya perdagangan internasional, produk spesialisasi suatu negara dapat diekspor dan barang kebutuhan lain dapat diimpor dari Negara lain.
– Spesialisasi produksi yang hanya meliputi satu atau dua jenis barang tidak selalu memberi manfaat bagi negaran terutama bila terjadi kondisi berikut:
1. Ketidakstabilan pasar luar negeri
Misalnya: produk spesialisasi Negara A adalah kayu dan karet. Negara A memproduksi barang kebutuhan lain hanya dengan skala kecil, sehingga perlu melakukan impor. Bila harga pasar dunia atas produk kayu dan karet turun, Negara A akan mengalami kerugian dan keterpurukan ekonomi karena sumber pendapatan terbesar adalah dari komoditi tersebut. Produk lain yang diproduksi dalam skala kecil tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat dan tidak dapat menutup kerugian atas produk spesialisasi.
2. Ketidakamanan nasional
Misainya: Negara B melakukan spesialisasi produk mainan dan kosmetik, sedangkan produk lainnya harus diimpor. Bila kondisi Negara tidak aman, kegiatan ekspor impor akan terhambat sehingga produk impor yang dibutuhkan rakyat tidak dapat dipenuhi dengan baik. Produk spesialisasi pun akan menumpuk karena kegiatan ekspornya terhambat.

3. Dualisme
Dalam keadaan dualisme, produk spesialisasi suatu Negara hanya ditujukan untuk ekspor ke pasaran dunia dan tidak menyentuh / berhubungan dengan produk tradisional dalam negeri. Akibatnya terjadi ketimbangan dalam perekonomian, di mana hasil spesialisasi tidak memberikan manfaat bagi bangsa sendiri.
Untuk mengantisipasi kondisi-kondisi ini, spesialisasi harus didukung dan diikuti dengan diversifikasi produk, yakni tetap memproduksi barang kebutuhan lainnya walaupun dalam skala kecil guna mencukupi kebutuhan dalam negeri.
b. Peningkatan investasi
Perdagangan internasional meningkatkan pendapatan riil masyarakat. Kenaikan ini akan mendorong investasi. Akan tetapi, yang harus diperhatikan adalah :
1. Tujuan investasi, apakah ditujukan di dalam negeri atau ditransfer ke luar negeri.
2. Objek investasi, apakah untuk sector modern atau sector tradisional.
Investasi akan lebih menguntungkan Negara bila tujuan terbesar adalah untuk investasi dalam negeri dengan objek yang seimbang antara sector modern dan sector tradisional.
c. Vent for surplus
Vent for surplus artinya bisnis internasional menjadi sarana untuk memanfaatkan surplus sumber daya di suatu Negara sehingga dapat diberdayakan secara lebih efektif dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi Negara tersebut.
d. Produktivitas
Bisnis internasional mampu meningkatkan produktivitas suatu Negara dengan cara:
a) Economic of scale
Perdagangan internasional menambah luas pemasaran produk sehingga produksi bisa diperbesar dan dilakukan dengan cara yang lebih murah dan efisien atau yang disebut dengan economic of scale.

b) Teknologi baru
Melalui bisnis internasional, Negara-negara maju dapat memperkenalakan dan menjual barang berteknologi tinggi pada Negara-negara berkembang. Produsen-produsen dari Negara berkembang pun akan mempelajari teknologi baru tersebut dan mengembangkannya.
c) Rangsangan persaingan
Masuknya barang impor akan mendorong produsen dalam negeri untuk bersaing memperbaiki kualitas produknya dan mengembangkan inovasi agar produknya tidak kalah bersaing dengan produk impor.

3. Pengaruh terhadap distribusi pendapatan
Pandangan tentang pengaruh bisnis internasional terhadap distribusi pendapatan:
a. Pandangan neoklasik
Menurut pandangan ini, perdagangan internasional dan aliran modal internasional cenderung meratakan distribusi pendapatan di dalam suatu Negara maupun antarnegara. Misalnya: Negara A kaya akan SDA dan modal sehingga produk yang dikembangkan adalah produk padat capital. Negara B miskin akan SDA dan mdoal, tetapi kaya akan tenaga kerja sehingga produk yang dikembangkan adalah produk padat karya. Kedua negara tersebut dapat saling mengisi dan melengkapi dengan cara distribusi modal dan tenaga kerja sehingga tercapai distribusi pendapatan.
b. Pandangan antineoklasik
Menurut pandangan ini, perdagangan internasional akan menimbulkan jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin. Pihak yang bermodal besar cenderung berinvestasi kepada produsen barang modern, akibatnya produsen barang tradisional kekurangan modal dan tidak mampu berproduksi lagi.

B. Pengaruh Nonekonomis
Dampak bisnis internasiona ditinjau dari aspek nonekonomis adalah berubahnya aspek kebudayaan, politik, dan militer di suatu negara karena terpengaruh negara lain.
C. Analisis Matematis Dampak Bisnis Internasional
Misalnya:
Harga produk lokal 50.000. Permintaan atas produk tersebut 400. Kemudian muncul produk impor seharga 25.000 tanpa pengenaan pajak. Dengan munculnya produk impor yang harganya lebih murah, konsumen cenderung mengonsumsi produk impor sehingga permintaan naik menjadi 800. Produsen pun akan menurunkan produksi lokal menjadi 100 karena permintaan prodk lokal turun.
Dampak terhadap produksi lokal: penerimaan produsen berkurang, awalnya 50.000 x 400 = 20.000.000 setelah adanya produk impor penerimaannya menjadi 50.000 x 100 = 5.000.000.
Impor = consumsi – produksi
= 800 – 100
= 700 unit
Penerimaan Negara = jumlah impor x pajak atas impor per unit
= 700 x 0
= 0
Untuk mendorong produksi lokal dan meningkatkan penerimaan Negara, pemerintah menetapkan pajak atas impor.
a. Misalnya: pajak atas impor = 25.000 per unit.
Harga produk impor akan naik menjadi = harga produk impor + pajak = 25.000 +25.000= 50.000
Akibatnya permintaan produk akan turun karena kenaikan harga, yakni menjadi 400. Sementara itu, produsen produk lokal akan menaikkan produksinya menjadi 400 karena mampu bersaing dengan harga produk impor.
Impor = consumsi – produksi
= 400 – 400 = 0 unit
Penerimaan Negara = jumlah impor x pajak atas impor per unit
= 0 x 25.000
= 0
b. Misalnya: pajak atas impor = 10.000
Harga produk impor akan naik menjadi = harga produk impor + pajak = 25.000 +10.000= 35.000
Akibatnya permintaan produk turun karena kenaikan harga, yakni dari 800 menjadi 600. Sementara itu, produsen produk lokal akan menaikkan produksinya dari 100 menjadi 300 karena mampu bersaing dengan harga produk impor.
Impor = consumsi – produksi
= 600 – 300
= 300 unit
Penerimaan Negara = jumlah impor x pajak atas impor per unit
= 300 x 10.000
= 3.000.000

KESIMPULAN:
Kegiatan impor dapat menaikkan penerimaan Negara bila pemerintah menetapkan pajak atas impor. Namun, pengenaan pajak impor harus dilakukan dengan tepat, yakni memperhatikan factor harga, permintaan, dan penawaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: