G4 REZIM DEVISA

BAB VII
PRINSIP DASAR DALAM KERJASAMA PERDAGANGAN

A. PRINSIP DASAR DALAM KERJASAMA PERDAGANGAN
Berdasarkan General Agreement on Tariffs and Trade, prinsip dasar dalam perdagangan internasional antara lain :
1. Most Favored Nation
2. Reciprocity
3. National treatment
1. Most Favored Nation
Most Favored Nation adalah kemudahan yang diperoleh negara mitra dagang, misalnya tarif rendah. Most Favored nation merupakan prinsip utama dari GATT. MFN mengharuskan setiap contracting perties memberikan perlakuan yang sama dalam kebijaksanaan perdagangan dengan negara lain.
2. Reciprocity
Recipricity adalah perlakuan istimewa bagi negara mitra dagang bila berpihak ke negara asal barang.
3. National Treatment
National treatment adalah perlakuan nasional /keuntungan istimewa bagi warga negara

B. CUSTOM UNION
Ada dua cara untuk melakukan pembebasan perdagangan, yakni dengan pendekatan internasional dan regional. Pendekatan Internasional contohnya adalah yang dilakukan oleh GATT. Pendekatan regional menyangkut kerja sama / perjanjian antara beberapa negara dengan tujuan melakukan perdagangan bebas di antara mereka, tetapi tetap mengenakan rintangan terhadap negara yang tidak mengikuti kerja sama atau perjanjian tersebut. Bentuk kerja sama atau perjanjian ini adalah free trade, common markets, dan custom unions.
Free trade timbul jika dua negara / lebih menghapuskan bea masuk untuk anggota. Common market terjadi apabila mereka membentuk custom unions seperti free trade tetapi dengan pengenaan tarif yang seragam terhadap negara lain dengan tambahan adanya lalu lintas faktor produksi secara bebas di antara negara anggota.

C. KONSEP TRADE CREATION DAN TRADE DIVERSION
Teori custom unions pertama kali dikemukakan oleh Jacob Viner. Dia mengemukakan bahwa customs union mengandung unsure perdagangan bebas serta unsur proteksi yang lebih besar, sehingga tidak dapat diipastikan custom unions akan meningkatkan kesejahteraan suatu negara. Customs unions akan menimbulkan dua efek yang saling berlawanan. Pembentukan customs unions dapat menimbulkan trade creation yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan trade diversion yang dapat menurunkan kesejahteraan. Efek akhirnya tergantung mana yang lebih kuat.
Pembentukan customs unions biasanya menyebabkan pergeseran/perpindahan lokasi produksi suatu barang dari suatu negara ke negara lain. Apabila pergeseran lokasi produksi tersebut dapat menciptakan sesuatu yang baru dalam perdagangan, maka custom unions menimbulkan trade creation. Namun, apabila pergeseran lokasi hanya memindahkan produksi dari suatu negara ke negara lain, maka yang terjadi adalah trade diversion yang justru menurunkan kesejahteraan.

D. EFEK TERHADAP PRODUKSI
1. Trade Creation
Misalkan ada 3 negara, yakni A, B, C. Masing-masing negara menghasilkan barang X.
Negara Biaya rata-rata (Rp) Negara A mengenakan bea masuk 100% Negara A membebaskan tariff terhadab B, tetapi tidak terhadap C
A 50 50 50
B 40 80 40
C 30 60 60

Dalam keadaan perdagangan bebas, negara C akan mengekspor barang X ke negara A dan B. Jika negara A mengenakan tariff bea masuk 100%, maka negara A akan menghasilkan barang sendiri barang X (50<80<60). Apabila negara A dan B membentuk customs unions, dan saling menghapus bea masuk (tetapi tetap mengenakan terhadap negara C), maka biayanya untuk negara A,B,C adalah 50, 40, dan 60. Hal ini menyebabkan negara A memilih untuk tidak menghasilkan barang X dan mengimpor barang X dari negara B karena lebih murah (40<50<60). Pembentukan custom unions menyebabkan pergeseran produksi dalam negeri A yang biayanya 50 ke produksi negara B yang lebih murah (40) dan negara A mengimpordari negara B. Hal ini disebut trade creation dan dapat memperbaiki alokasi sumber daya.

2. Trade Diversion
Negara Biaya rata-rata (Rp) Negara A mengenakan biaya masuk 50% (Rp) Negara A membebaskan tariff terhadap B, tetapi tidak terhadap C
A 50 50 50
B 40 60 40
C 30 45 45

Biaya produksi barang Y di ketiga negara sama, yang berbeda tariff, yakni 50%. Sebelum custom unions, negara A mengimpor barang X dari negara C (45<50<60). Namun, setelah custom unions, negara A mengimpor barang Y dari negara B karena harga barang B tidak dikenakan tarif bea masuk (40<45<50). Pergeseran produksi bergerak dari negara yang biaya produksinya rendah (negara C) ke negara yang biaya produksinya tinggi (negara B). Pergeseran ini mneyebabkan alokasi sumber dayatidak efisien sehingga dapat menurunkan kesejahteraan.
Analisis di atas hanya menekankan efek customs union terhadap produksi. Efek konsumsi dapat mempunyai efek terhadap konsumsi juga, seperti yang dikemukakan oleh Meade dan Lipsey yang dianilisis bersama-sama oleh Johnson.

E. EFEK TERHADAP KONSUMSI
1. Trade Creation

Kurva DD dan SS menunjukkan permintaan dan pewaran negara A. Untuk menyederhakan, misalkan kurva penawaran negara B elastic sempurna, seperti garis PP. Kurva PP ditambah tariff T akan menjadi kurva TT. Sebelum pemnbentukan customs unions (anggap biaya rata-rata negara C lebih tinggi daripada OP), konsumsi negara A sebesar OQ3. Pendapatan dari tariff sebesar G1F2F3G2. Setelah pembentukan custom unions, negara A membebaskan tariff terhadap B. Konsumsi negara A naik menjadi OQ4, produksi turun menjadi OQ1, impor naik menjadi OQ4 dan pendapatan dari tariff hilang.
Keuntungan total dari adanya trade creation adalah F1F2G1 ditambah dengan F3F4G2. Besarnya keuntungan total ini tergantung oleh:
1. Besarnya tariff
2. Elastisitas penawaran negara A
3. Elastisitas permintaan
Secara umum, dapat dikatakan makin tinggi tariff (sebelum custom unions) serta makin elastic permintaan dan penawaran negara A akan semakin besar pula keuntungan karena adanya trade creation.

2. Trade Diversion

Sebelum custom unions negara A mengimpor barang X dari negara C yang relative lebih efisien. Namun, setelah pembentukan custom unions, negara A mengimpor barang Y dari negara B (partner) yang kurang efisien, dan dapat dijual kepada konsumen dengan harga yang lebih murah karena diskriminasi tariff.

BAB VIII
REZIM DEVISA

A. KEBUTUHAN DEVISA
Devisa dibutuhkan oleh suatu negara untuk melakukan peran-peran seperti di bawah ini:
Untuk mengimpor barang konsumsi, bahan baku, peralatan, barang modal, mesin/sparepart.dsb.
Melunasi jasa asuransi, pelayaran, rekayasa, dan perjalanan.
Membiayai kantor perwakilan.
Melunasi cicilan hutang & bunganya.

B. PENGGUNAAN DEVISA
Tata ekonomi Indonesia sampai akhir 1970-an dapat dikatakan didominasi pleh sektor pertanian, perkebunan, dan ekstraktif. Sejak Proklamasi sampai munculnya Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri kita belum dapat memperbaiki tata ekonmi nasional yang masih pincang. Salah satu upaya untuk mengubah struktur ekonomi yang masih pincang tersebut adalah dengan pengembangan industrialisasi.
Dengan mulainya industrialisasi maka dibutuhkan devisa yang cukup besar untuk mengimpor perlengkapan proyek-proyek industri manufakturing aneka jenis sesuai dengan jenis proyek yang dibuat. Industri generasi pertama yang dikembangkan di Indonesia adalah jenis industri subtitusi impor, yaitu barang-barang konsumsi yang tadinya diimpor lalu dicoba dibuat di dalam negeri seperti tekstil, pakaian jadi, terigu, makanan kaleng, dan obat-obatan. Selain itu berkembang pula industri untuk menunjang Peningkatan Produksi dalam negeri, misal industri Petro Kimia yang menghasilkan pupuk. Industri tersebut berhasil meningkatkan produk tanaman pangan yang secara tidak langsung ikut mendorong produksi makanan ternak dan mendorong kenaikan produksi pertanian.
Untuk mendirikan industri-industri tersebut dibutuhkan devisa yang besar untuk mengimpor barang modal (mesin dan peralatan), bahan baku, suku cadang, dan bahan penolong lainnya. Sebelum proyek industri baru ini didirikan, sebagian besar devisa kita terpaksa dipakai untuk mengimpor barang konsumsi seperti tekstil, terigu, barang tenun, dan lain-lain. Setelah kita mulai dengan industrialisasi, maka devisa kita lebih banyak dipakai untuk mengimpor mesin dan bahan baku.
Dapat dilihat bahwa semakin giat kita melakukan industrialisasi semakin banyak devisa dibutuhkan. Yang berbeda hanyalah penggunaannya. Dahulu devisa lebih banyak untuk mengimpor barang konsumsi sekarang berubah lebih banyak untuk mengimpor barang modal dan bahan baku.

C. PEMBOROSAN DEVISA
Dari tahun ke tahun, devisa yang sangat besar yang bersumber dari hasil ekspor migas dan nonmigas serta hasil jasa dan pariwisata digunakan untuk pembangunan proyek-proyek industri maupun proyek untuk prasarana seperti jalan, jembatan, dermaga, landasan udara dan lain-lain. Devisa tersebut banyak pula yang bersumber dari pinjaman luar negeri yang harus dikembalikan suatu saat nanti. Hal ini tentunya menjadi beban bagi generasi yang akan datang. Memahami kejadian ini, sewajarnya kita prihatin dan berhati-hati dalam membelanjakan devisa yang ada.
Dari fakta yang ada masih banyak pemborosan devisa dalam pembangunan, termasuk dalam sektor industri. Contoh kasus dalam pemborosan devisa dalam sektor industri di antaranya industri tekstil yang tidak mampu memasarkan hasil produksinya di dalam negeri karena pasaran sudah jenuh sedangkan ekspor mengalami kemacetan karena sistem kuota dan proteksi yang dialami di pasaran internasional serta ekonomi biaya tinggi sehingga tidak mampu bersaing. Selain itu dari kalangan industri sendiri mengakui bahwa industri tekstil sudah ketinggalan zaman ( padahal umur teknis masih panjang) sehingga diperlukan restrukturisasi yang memerlukan biaya devisa yang tidak kepalang tanggung. Industri kayu lapis yang dikarbit untuk bisa memegnag hegemoni dalam perdagangan internasional ternyata banyak yang lumpuh sebelum lahir karena pasaran merosot. Reschedulling proyek-proyek pemerintah juga merupakan contoh pemborosan devisa.

D. SUMBER DEVISA
Sumber diperolehnya devisa Negara dapat dibagi menjadi dua jenis penerimaan. Yaitu penerimaan devisa dari luar negeri dan dari dalam negeri.
1. Sumber devisa dari luar negeri, antara lain:
Impor modal / asing
Pinjaman dari lembaga internasional
IGGI, WB, CGI, ADB
Grants atau hadiah dari PBB/UNDP, UNESCO
Laba PMA di luar negeri

2. Sumber devisa dari dalam negeri, antara lain:
Hasil penjualan ekspor barang/jasa.
Ekspor karet, kopi, minyak tanah, timah
Ekspor tekstil, kau lapis
Ekspor udang
Ekspor anyaman rotan dan topi pandan
Ekspor jasa uang tambang (freight / ferry)
Asuransi ekspor dan charges bank.
Jasa pariwisata, hotel/restoran.
DAFTAR PUSTAKA

Amir M.S. Ekspor Impor : Teori dan Penerapannya. Jakarta: PT Pustaka Binaman Pressindo, 1999
Nopirin. 1999. Ekonomi Internasional. Yogyakarta: BPFE.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: