G1 X-M Prinsip Dasar

11/24/2008
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
ARI BUDIYONO (05), HARIB LUTHFI FARUZY (16), JHONNY MARLINTONG BANJARNAHOR (18), KHARISMA NUGROHO (21)
KELAS 2G

Prinsip dasar perdagangan internasional

Ilmu ekonomi internasional mengkaji saling ketergantungan antar Negara. Ilmu ini menganalisa arus barang, jasa, dan pembayaran antara sebuah Negara dengan Negara- Negara lain. Mempelajari perilaku transaksi-transaksi ekonomi internasional dan mekanisme bekerjanya perekonomian dunia pada umumnya. Saling ketergantungan diantara Negara- Negara ini dipengaruhi oleh dan selanjutnya mempengaruhi hubungan politik, sosial, budaya, dan militer antar Negara.
Secara spesifik, ilmu ekonomi internasional mengkaji teori perdagangan internasional, kebijakan perdagangan internasional, pasar valuta asing dan neraca pembayaran, serta ilmu makroekonomi pada perdagangan terbuka. Teori perdagangan internasional menganalisa terjadinya perdagangan internasional serta keuntungan yang diperolehnya. Ilmu ekonomi internasional telah mengalami perkembangan yang cukup panjang dan berkelanjutan sampai dengan dua abad terakhir.
Tujuan ekonomi internasional adalah melakukan prediksi dan menguraikan atau menjelaskan prediksi tersebut. Sebagian ilmu ekonomi internasional sangat diperlukan untuk memahami apa yang sedang berlangsung di dunia pada saat ini dan kita sebagai konsumen, warga Negara, serta pemberi hak pilih, dapat memperoleh informasi yang baik. Pada tingkat lebih praktis, ilmu ekonomi internasional diperlukan sebagai bekal bekerja pada perusahaan serta organisasi- organisasi internasional.
Instrumen Kebijakan Perdagangan
Terdapat sejumlah alasan mengapa banyak Negara menggunakan Instrumen Kebijakan Perdagangan Internasional. Banyak Negara yang beralih ke orientasi ekspor yang mendorong industri terjun ke perdagangan internasional. Tapi bukan itu saja alasan mengapa sekarang ini terdapat berbagai macam instrument perdagangan internasional.
Tarif impor, merupakan instrument pajak yang dikenakan pemerintah pada barang barang impor. Kuota impor adalah instrument pembatasan kuantitas barang yang dapat diimpor dalam kurun waktu tertentu. Voluntary eksport retraints (VER) merupakan instrument pembatasan yang dikenakan eksportir terhadap kuantitas barang yang diekspor pada kurun waktu tertentu. Pajak ekspor adalah instrument yang dikenakan pada barang yang diekspor. Subsidi ekspor merupakan subsidi yang dikenakan pada barang yang diekspor. Voluntary import expansion (VIE) adalah instrument yang lahir dari kesepakatan antara kedua Negara mitra dagang untuk meningkatkan kuantitas impor tertentu yang berasal dari salah satu Negara tersebut.
Dampak Kesejahteraan
Pengetahuan tentang jenis- jenis instrument ini membantu kita dalam mendalami dampak kesejahteraan ( welfare effect). Dampak kesejahteraan dari penerapan instrument kebijakan perdagangan perdagangan berbeda antara kasus Negara besar dan Negara kecil. Dampak kesejahteraan itu sendiri dianalisa dengan pendekatan partial equilibrium. Tanpa adanya perdagangan internasional suatu Negara akan mencapai kondisi equilibrium apabila ia dapat menjangkau kurva indiferen yang tertinggi.
Dampak keseimbangan parsial terhadap pemberlakuan tariff di Negara besar dan kecil. Dampak pemberlakuan tariff terhadap surplus konsumen dan produsen di Negara besar dan kecil. Dampak pemberlakuan kuota impor dan dampak dari kebijakan instrument lain akan dipelajari dalam ilmu ekonomi internasional.
HUKUM KEUNGGULAN KOMPARATIF
Perdagangan Berdasarkan Keunggulan Komparatif: David Ricardo
Pada tahun 1817 David Ricardo menerbitkan buku berjudul Principles of Political Economy and Taxation, yang berisi penjelasan mengenai hukum keunggulan komparatif.
a Hukum Keunggulan Komparatif
Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Hukum ini dapat dimengerti dengan melihat Tabel 2-2.
Tabel 2-2. Keunggulan Komparatif
AMERIKA SERIKAT INGGRIS
Gandum 6 1
Kain 4 2
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pekerja Inggris dapat memproduksi kain setengah kali dari kain yang diproduksi Amerika, sementara gandum hanya dapat diproduksi seperenam kali, maka Inggris dikatakan memiliki keunggulan komparatif dalam kain. Di lain pihak, karena keunggulan absolut pada gandum lebih besar (6:1) dibanding kain (4:2), maka Amerika memiliki keunggulan komparatif dalam gandum. Menurut hukum keunggulan komparatif, kedua Negara tersebut dapat memperoleh keuntungan jika Amerika Serikat melakukan spesialisasi dalam produksi gandum dan mengekspor sebagian dari produksi gandum tersebut serta menukarnya dengan kain dari Inggris. Pada saat yang sama, Inggris melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor kain. Dalam konteks dua negara dan dua komoditi, jika satu negara ditetapkan memiliki keunggulan komparatif dalam satu komoditi, maka negara lainnya harus dianggap memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi lainnya.

b Keuntungan dari Perdagangan
Untuk membuktikan hukum keunggulan komparatif, kita harus dapat memperlihatkan bahwa Amerika Serikat dan Inggris dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor komoditi yang memiliki keunggulan komparatif. Untuk menunjukkan bahwa kedua negara dapat memperoleh keuntungan, misalnya Amerika Serikat dapat menukarkan 6 gandum dengan 6 kain dari Inggris. Dari perdagangan ini Amerika Serikat memperoleh keuntungan sebesar 2 kain karena AS hanya dapat menukar 6 gandum dengan 4 kain di dalam negeri. Inggris pun memperoleh keuntungan. Enam gandum yang diterima Inggris dari AS memerlukan enam jam untuk memproduksinya di dalam negeri. Namun Inggris dapat menggunakan enam jam ini untuk memproduksi 12 kain, dan hanya menyerahkan 6 kain untuk memperoleh 6 gandum dari AS. Dengan demikian Inggris mendapat keuntungan sebanyak 6 kain.
Dari contoh di atas kedua negara memperoleh keuntungan dengan menukarkan 6 gandum dengan 6 kain. Meski demikian, pertukaran ini bukanlah satu-satunya perdagangan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. AS dapat menukarkan 6 gandum dengan 4 kain di dalam negeri. Untuk itu, AS harus menukarnya dengan lebih dari 4 kain untuk mendapat keuntungan. Di Inggris, 6 gandum = 12 kain (dalam pengertian untuk memproduksinya dibutuhkan 6 jam). Oleh karena itu, Inggris bersedia menukar berapapun kain asal kurang dari 12 kain dengan 6 gandum untuk mendapat keuntungan. Jadi range untuk perdagangan yang saling menguntungkan adalah :
4 kain < 6 gandum < 12 kain
Jarak antara 12 kain dan 4 kain (8 kain) menggambarkan total keuntungan yang tersedia dalam perdagangan kedua negara dengan memperdagangkan 6 gandum. Dari contoh di atas AS memperoleh keuntungan 2 kain sedang Inggris 6 kain yang totalnya 8 kain. Jika AS menukarkan 6 gandum dengan 8 kain dari Inggris, kedua negara akan memperoleh keuntungan 4 kain.
Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari misalnya seorang pengacara dapat mengetik dua kali lebih cepat dari sekretarisnya. Oleh karena itu, pengacara memiliki keunggulan absolut terhadap sekretarisnya, baik dalam hal praktik hukum maupun dalam mengetik. Namun, karena sekretaris tidak memiliki pengetahuan mengenai praktik hukum, maka pengacara memiliki keunggulan komparatif dalam hukum. Sementara sekretaris memiliki keunggulan komparatif dalam mengetik. Menurut hukum keunggulan komparatif, pengacara tersebut harus menyerahkan seluruh pekerjaan mengetik kepada sekretarisnya. Sebagai contoh, bila pengacara mendapat $100 per jam kerja praktik hukum dan membayar sekretarisnya $10 per jam kerja untuk melakukan pengetikan. Bila pekerjaan pengetikan dikerjakan sendiri oleh pengacara, sebenarnya dia kehilangan $80 per jam. Alasannya, dia dapat menghemat $20 per jam karena dapat mengetik dua kali lebih cepat dari sekretarisnya, namun kehilangan kesempatan memperoleh $100 per jam dari praktik hukumnya.
c Pengecualian terhadap Hukum Keunggulan Komparatif
Pengecualian terhadap hukum keunggulan komparatif terjadi bila kerugian absolut yang dimiliki suatu negara pada kedua komoditi sama besarnya, meskipun hal ini sangat jarang terjadi. Sebagai contoh dalam tabel 2-2 produksi gandum Inggris bukan 1 tapi 3. Akibatnya produktivitas Inggris dalam memproduksi kain dan gandum setengah dari produktivitas AS. Oleh karena itu tidak ada yang memiliki keunggulan komparatif. Seperti yang telah diungkap sebelumnya, AS hanya mau menukar 6 gandum dengan lebih dari 4 kain. Namun dalam kondisi seperti ini Inggris tidak mau menukar 4 kain untuk memperoleh 6 gandum dari AS karena dapat memproduksi sendiri 6 gandum maupun 4 kain dalam dua jam kerja. Pada akhirnya, dibutuhkan modifikasi pada pernyataan hukum keunggulan komparatif, yakni ‘meskipun sebuah negara memiliki kerugian absolut terhadap negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, masih terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak, kecuali jika kerugian absolut pada kedua komoditi tersebut memiliki proporsi yang sama.
d Keunggulan Komparatif dalam Nilai Uang
Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun salah satu negara memiliki kerugian absolut dalam produksi kedua komoditi dibanding negara kedua, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan. Mari kita lihat contoh yang telah disebutkan di atas dengan menggunakan satuan mata uang.
Misalkan upah di AS $6 per jam. Karena satu jam kerja dapat menghasilkan 6 gandum, harga gandum adalah $1. Sedangkan untuk kain dapat menghasilkan 4 kain dalam satu jam, maka harga kain = $1.5. Misalnya pada saat yang sama upah di Inggris adalah £1 per jam. Karena dalam satu jam kerja dapat menghasilkan 1 gandum, maka harga gandum £1 di Inggris. Begitu pula dengan kain. Dalam satu jam kerja dapat dihasilkan 2 kain. Maka harga kain di Inggris adalah £0.5. Jika nilai tukar antara pound dan dollar adalah £1 = $2, maka harga gandum di Inggris = £1 = $2 dan harga kain = £0.5 = $1.
TABEL 2-3. Nilai Gandum dan kain di Amerika dan Inggris dalam Satuan Dolar pada Nilai Tukar £1 = $2
AMERIKA SERIKAT INGGRIS
Harga gandum $1,00 $2,00
Harga kain $1,50 $1,00
Dari tabel 2-3 kita dapat melihat bahwa harga gandum di AS lebih rendah daripada di Inggris sedangkan untuk harga kain lebih rendah di Inggris. Oleh karena harga gandum lebih rendah di AS, para pengusaha akan membeli gandum di AS dan menjualnya di Inggris yang kemudian ditukar dengan kain untuk dijual kembali di AS.
Jika nilai tukar antara pound dan dollar diubah menjadi £1 = $1, maka harga gandum dalam dollar di Inggris akan menjadi $1. Oleh karena harga ini sama dengan harga di AS, AS tidak dapat mengekspor gandum ke Inggris. Pada saat yang sama, Inggris semakin banyak mengekspor kain karena harga kain di Inggris menjadi $0,5. Dalam hal ini terjadi ketidakseimbangan perdagangan karena lebih menguntungkan Inggris.
Jika nilai tukar adalah £1 = $3, maka harga kain di Inggris akan menjadi $1,5. Akibatnya Inggris tidak bisa mengekspor kain ke AS. Perdagangan tidak menjadi seimbang karena lebih menguntungkan AS. Pada akhirnya nilai tukar pound dengan dollar akan berada pada tingkat yang memberikan keseimbangan perdagangan (dengan asumsi tidak terdapat campur tangan atau transaksi internasional lainnya).
Keunggulan Komparatif dan Biaya Oportunitas
Beberaapa asumsi yang dibuat David Ricardo dalam hukum keunggulan komparatifnya antara lain:
1. hanya terdapat dua negara dan dua komoditi;
2. perdagangan bersifat bebas;
3. terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam negara namun tidak ada mobilitas diantara dua negara;
4. biaya produksi konstan;
5. tidak terdapat biaya tansportasi;
6. tidak ada perubahan teknologi;
7. menggunakan teori tenaga kerja.
a Keunggulan Komparatif dan Teori Nilai Tenaga Kerja
Menurut teori nilai tenaga kerja, nilai atau harga sebuah komoditi tergantung dari jumlah tenaga kerja yang dipakai untuk menghasilkan komoditi itu. Implikasinya (1) tenaga kerja merupakan satu-satunyaa faktor produksi, atau tenaga kerja dipakai dalam proporsi yang sama untuk semua komoditi dan (2) tenaga kerja bersifat homogen. Tetapi kenyataannya asumsi ini tidak benar dan tidak dapat dijadikan asumsi untuk mendasari teori keunggulan komparatif.
b Teori Biaya Oportunitas
Menurut teori ini biaya sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk memperoleh sumber daya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan komoditi pertama. Konsekuensi teori ini negara mempunyai biaya opurtunitas lebih rendah dalam memproduksi sebuah komoditi dan memiliki kerugian komparatif dalam komoditi lainnya. Sehingga harus menspesialisasikan dirinya untuk memproduksi satu jenis komoditi yang biaya oportunitasnya lebih rendah dan bertransaksi dengan negara lain untuk memperoleh komoditi kedua.
c Batas Kemungkinan Produksi pada Biaya Konstan
Biaya opurtunitas dapat digambarkan dengan kurva batas kemungkinan produksi atau kurva tansformasi. Kurva ini akan menunjukkan potensi kombinasi produksi suatu negara dengan sumber daya yang ada. Jika garis batas kemungkinan produksi merupakan garis lurus maka biaya oportunitas mereka adalah konstan. Hal ini timbul ketika (1) sumber daya atau faktor produksi bersifat substitusi sempurna dan (2) semua unit dan faktor produksi homogen. Hal ini memberikan dasar untuk terjadinya perdagangan antar negara demi memenuhi kebutuhan untuk tiap komoditi dengan proporsi kebutuhan masing-masing.
d Biaya Oportunitas dan Harga Komoditi Relatif
Dalam kurva batas kemungkinan produksi kemiringan garis batas produksi sering disebut dengan tingkat transformasi marjinal (marginal rate of transformation). Dari kemiringan garis tersebut dapat dilihat besarnya biaya oportunitas dimana biaya oportunitas ini sama dengan harga komoditas relatif terhadap harga komoditas lainnya. Sehingga dengan melihat kemiringan suatu negara harus melakukan perdagangan dengan negara lain sesuai biaya oportunitas masing-masing, harga komoditi, serta kubutuhan masing-masing negara. Sehingga perbedaan harga komoditi relatif antara dua negara (ditunjukkan perbedaan kemiringan kurva transformasi mereka) merupakan refleksi dari keunggulan komparatif mereka dan memberikan dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua pihak.
Dasar dan keuntungan Perdagangan pada Biaya Konstan
Dalam situasi tanpa perdagangan, sebuah negara hanya mampu mengkonsumsi komoditi-komoditi yang diproduksinya sendiri. Sebagai akibatnya, batas kemungkinan produksi negara tersebut juga menggambarkan batas konsumsinya. Komoditi yang akan diproduksi bergantung pada keinginan masyarakat atau pada sisi permintaan.
a Ilustrasi Keuntungan dari Perdagangan
Ambil contoh 2 negara sebut saja Amerika Serikat (US) dan Inggris (UK). Dalam situasi tanpa perdagangan Amerika serikat memiliki pilihan untuk memproduksi sebagaimana yang digambarkan di kurva kemungkinan produksi. Asumsikan saja US memilh kombinasi A (90G dan 60K). Sementara itu UK dalam situasi tanpa perdagangan juga memiliki pilihan memproduksi sebagaimana yang digambarkan dalam kurva kemungkinan produksi. Asumsikan saja UK memilih kombinasi A’ (40G dan 40K).
Dengan adanya perdagangan maka baik US maupun UK memiliki kesempatan untuk memaksimalkan produksi komuditas yang memiliki keunggulan komparatif. US akan melakukan spesialisasi produksi gandum dan Uk melakukan spesialisasi produksi kain. Hasilnya US memproduksi pada titik B (180G dan 0K) dan US memproduksi pada titik B’ (0G dan 120K). Asumsikan jika US bersepakat dengan UK untuk menukarkan 70G produksinya dengan 70K produksi UK. Hasilnya US akan memperoleh 110G dan 70K, sedangkan UK akan memperoleh 70G dan 50K. Perdagangan ini membuat US dan UK memperoleh keuntungan dibandingkan jika mereka tidak melakukan perdagangan. Jika dibandingkan dengan kombinasi A (90G dan 60K) maka kombinasi B (110G dan 70K) akan memberikan keuntungan 20G dan 10K bagi US. Begitupula dengan UK, dibandingkan dengan kombninasi A’ (40G dan 40K) maka kombinasi B’ (70G dan 50K) akan memberikan keuntungan 30G dan 10K. Jadi kesimpulannya perdagangan tersebut menghasilkan keuntungan.

2.6b Harga Komoditi Relatif dengan adanya Perdagangan

Pada panel kiri Sg(us+uk) merupakan kurva penawaran gandum gabungan dai US dan UK. Kurva ini memperlihatkan bahwa US dapat memperoduksi maksimum 180G = 0B pada Pg/Pk= 2/3, sedangkan UK dapat memproduksi maksimum 60G = BB* pada Pg/Pk = 2. Kurva Dg(us+uk) merupakan kurva permintaan gabungan terhadap gandum US dan UK. Kedua kurva ini saling memotong pada titik E dan menghasilkan kuantitas keseimbangan pada 180G (yang semuanya diproduksi di US) dan harga keseimbangan pada Pg/Pk = 1. Panel sebelah kanan memperlihatkan keseimbangan pada komoditi kain pada perpotongan kurva permintaan Dk(us+uk) dengan kurva penawaran Sk(uk+us) pada titik E’ dengan kuantitas keseimbangan sebesar 120K (yang semuanya diproduksi di UK) dan harga keseimbangan Pk/Pg = 1.
Pengujian Empiris Model Ricardo
Pengujian empiris pertama terhadap model perdagangan David Ricardo dilakukan oleh MacDoughall pada tahun 1951 dan 1952 dengan menggunakan data tahun 1937. Hasil yang diperoleh dari pengujian tersebut adalah bahwa industri-industri yang memiliki produktivitas tenaga kerja relatif lebih tinggi di Amerika dibandingkan di Inggris untuk Industri-industri yang memiliki rasio ekspor Amerika terhadap Inggris lebih besar ke negara-negara lain. Hasil ini didukung oleh pengujian yang dilakukan oleh Bela Ballasa dan Stern.
Dapat dilihat bahwa keunggulan komparatif nampaknya memang didasarkan pada perbedaan dalam produktivitas tenaga kerja, seperti yang dijelaskan oleh David Ricardo. Namun teori ini tidak menjelaskan alasan perbedaan produktivitas tenaga kerja di berbagai negara. Teori ini juga tidak menjelaskan mengenai pengaruh perdagangan Internasional terhadap pendapatan yang diperoleh oleh faktor produksi.
TEORI FAKTOR PROPORSI HECKSCHER-OHLIN
Di bagian ini, akan ditelaah dampak perdagangan internasional terhadap tingkat upah tenaga kerja yang mewakili seluruh faktor produksi, serta selisih pendapatan pekerja di suatu negara dengan negara yang lain. Kedua masalah ini merupakan pekerjaan rumah bagi para ekonomi modern. Sebagaimana yang diasumsikan dalam model perdagangan Ricardo, tenaga kerja menjadi satu-satunya faktor produksi. Namun dalam praktiknya, perbedaan sumber daya alam yang dimiliki negara-negara di dunia juga berdampak pada hubungan perdagangan. Contohnya antara Kanada dengan AS. Kanada mengekspor kayu ke AS bukan berarti pekerja Kanada leboh produktif dalam memproduksi kayu dibanding pekerja AS, akan tetapi karena jumlah penduduk Kanada yang relatif sedikit sehingga mempunyai hutan per kapita yang lebih luas daripada AS. Gagasan yang menyatakan bahwa sumber utama perdagangan internasional adalah adanya perbedaan sumber daya antarnegara dikembangkan oleh Eli Heckscher dan Bertil Ohlin.
Asumsi-Asumsi Teori Heckscher-Ohlin
Teori Heckscher-Ohlin didasarkan pada sejumlah asumsi untuk menyederhanakan rumusan permasalahan:
1. Hanya terdapat dua negara, dua komoditi, dan dua faktor produksi (tenaga kerja dan modal). Asumsi ini dibuat guna memungkinkan pengilustrasian teori pada suatu gambar dua dimensi.
2. Kedua negara memiliki dan menggunakan metode atau tingkat teknologi yang persis sama. Asumsi kedua ini menandakan kedua negara memiliki akses teknologi yang sama dan mereka menggunakan teknik-teknik produksi yang secara umum sama.
3. Komoditi pertama (x) bersifat padat karya (labor intensive), sedangkan komoditi kedua (y) bersifat padat modal (capital intensive). Hal ini berlaku untuk kedua negara. Asumsi ini menunjukkan bahwa komoditi X memerlukan lebih banyak tenaga kerja daripada modal dalam proses produksinya, sedangkan dalam pembuatan komoditi Y justru lebih banyak memerlukan modal daripada tenaga kerja.
4. Kedua komoditi diproduksi berdasarkan skala hasil yang konstan, dan hal ini sama-sama terjadi di kedua negara. Asumsi keempat ini mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja dan modal dalam produksi setiap komoditi akan meningkatkan outputnya dalam proporsi yang sama.
5. Kedua negara sama-sama tetap memproduksi kedua jenis komoditi secara sekaligus. Asumsi kelima ini menyatakan bahwa meskipun telah terlibat dalam perdagangan bebas kedua negara akan tetap memproduksi komoditi X dan komoditi Y sekaligus.
6. Selera atau preferensi-preferensi permintaan para konsumen yang ada di kedua negara persisi sama. Asumsi ini bermakna bahwa preferensi-preferensi permintaan yang tercermin pada bentuk dan lokasi kurva-kurva indiferen di kedua negara tersebut indentik.
7. Terdapat kompetisi sempurna dalam pasar produk dan juga pasar faktor. Asumsi ini bermakna bahwa jumlah produsen, konsumen, dan pedagang komoditi X maupun komoditi Y di kedua negara itu sangat banyak, dan masing-masing terlalu kecil atau lemah untuk mempengaruhi harga-harga yang tengah berlaku atas komoditi-komoditi tersebut.
8. Terdapat mobilitas faktor internal yang sempurna dalam ruang lingkup masing-masing negara namun tidak ada mobilitas faktor antarnegara/internasional. Asumsi ini berarti faktor-faktor produksi dapat bebas bergerak dalam ruang lingkup suatu negara, namun tidak ada mobilitas faktor antarnegara.
9. Sama sekali tidak ada biaya-biaya transportasi, tarif, atau berbagai bentuk hambatan lainnya. Asumsi kesembilan ini mengindikasikan bahwa kegiatan-kegiatan spesialisasi produksi akan terus berlangsung sampai harga-harga relatif dan absolut dari berbagai komoditi yang diperdagangkan persis sama di setiap negara yang melakukan perdagangan.
10. Semua sumber daya produktif atau faktor produksi yang ada di masing-masing negara dapat dikerahkan secara penuh dalam kegiatan-kegiatan produksi. Asumsi ini menandakan bahwa dalam model Heckscher-Ohlin, tidak diperhitungkan adanya sumber-sumber daya atau faktor produksi yang menganggur di negara mana pun.
11. Perdagangan yang terjadi di antara negara 1 dan negara 2 sepenuhnya seimbang. Asumsi ini bermakna bahwa total nilai ekspor dari suatu negara persis sama dengan total nilai impor dari negara yang menjadi mitra dagangnya.
Teorema Heckscher-Ohlin
Pada tahun 1919, Eli Heckscher menerbitkan artikel berjudul ‘Dampak Perdagangan Luar Negeri terhadap Distribusi Pendapatan’ yang sepuluh tahun kemudian dikembangkan dan dirumuskan dengan lebih jelas oleh mantan mahasiswanya yang bernama Bertil Ohlin. Karena itulah teori ini dikenal dengan teori Heckscher-Ohlin.
Intisari dari teorema Heckscher-Ohlin berbunyi sebagai berikut: Sebuah negara akan mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu, dan dalam waktu bersamaan ia akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumber daya yang relatif langka dan mahal di negara itu. Dari semua unsur yang menyebabkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam harga-harga relatif komoditi dan keunggulan komparatif bagi masing-masing negara, teorema Heckscher-Ohlin menonjolkan perbedaan dalam kelimpahan faktor secara relatif sebagai dasar penentu utama keunggulan komparatif bagi masing-masing negara. Atas dasar ini, teorema Heckscher-Ohlin sering disebut sebagai teori kepemilikan faktor (factor endowment theory) atau teori proporsi faktor (factor-proportions theory).
Dengan demikian teorema Heckscher-Ohlin juga memberikan penjelasan mengenai proses terbentuknya keunggulan komparatif, jadi bukan hanya sekadar mengasumsikannya sehingga seolah-olah hal itu ada dengan sendirinya.
Gambar Kerangka dan Karakter Keseimbangan Umum dalam Teori Heckscher-Ohlin
Bermula pada sudut kanan bawah diagram, kita melihat bahwa distribusi kepemilikan faktor produksi, atau distribusi pendapatan dan selera menentukan tinggi rendahnya permintaan atas komoditi-komoditi yang diperdagangkan. Permintaan faktor produksi selanjutnya dapat diderivikasikan dari kurva permintaan komoditi final. Permintaan dan penawaran faktor-faktor produksi itulah yang akan menentukan harganya. Lebih lanjut, harga faktor-faktor produksi dan teknologi akan ikut menentukan harga komoditi final. Perbedaan harga relatif komoditi (final) di antara negara-negara yang terlibat dalam perdagangan akan menentukan keuntungan komparatif bagi masing-masing negara dan juga pola perdagangan yang akan berlangsung di antara mereka.

Harga-harga komoditi
Harga-harga faktor produksi

Permintaan turunan/derivatif untuk faktor-faktor produksi

Permintaan komoditi final

Teknologi Penawaran faktor-faktor produksi Selera Distribusi kepemilikan faktor-faktor produksi
Dari gambar di atas, model perdagangan Heckscher-Ohlin dikatakan sudah memiliki karakter sebagai sebuah model keseimbangan umum (general equilibrium model). Meski demikian, teorema Heckscher-Ohlin masih menyisihkan arti penting perbedaan dalam ketersediaan atau penawaran faktor-faktor produksi secara fisik di antara negara-negara yang terlibat dalam perdagangan. Dari kenyataan ini, maka secara implisit kita dapat menarik kesimpulan bahwa perbedaan dalam penawaran berbagai faktor produksi di setiap negara itulah yang menjadi penyebab berbedanya harga-harga faktor secara relatif di antara negara-negara tersebut.

KEDUDUKAN KOMODITI INDONESIA
Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, khususnya Indonesia, Malaysia, dan Thailand bila menyatukan peranannya dalam perdagangan internasional akan menjadi produsen utama komoditi timah, karet, dan kayu. Selain itu, saat ini CPO tengah memiliki potensi ekspor yang sangat tinggi sebagai bahan baku utama biodiesel.
Namun kondisi saat ini yang dialami Indonesia sungguh memprihatinkan. Indonesia lalai dalam menginventarisasi kuantitas kekayaan alamnya sehingga banyak terjadi penjarahan kekayaan alam Indonesia oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya, Indonesia banyak kehilangan potensi pendapatan negaranya. Faktor lain yang menyebabkan produk Indonesia kurang bisa bersaing di pasar internasional adalah :
1. Masalah pengumpulan produk ekspor dari tempat-tempat terpencil dan tersebar.
2. Kurangnya koperasi dan banyaknya tengkulak.
3. Kurangnya infrastruktur jalan hingga ke pelosok.
4. Tidak ada perhatian dari pemerintah dan bank untuk memajukan industri kecil dalam negeri.
5. Banyaknya pungli, dll.

Dampak Kesejahteraan dari Kebijakan Perdagangan

1. Autharky dan Free Trade
Kebijakan perdagangan yang bersifat autharky adalah sistem perdagangan suatu negara yang sifatnya tertutup atau suatu negara yang memakai kebijakan untuk tidak melakukan perdagangan internasional. Jadi negara yang memakai kebijakan ini berusaha memenuhi semua kebutuhannya sendiri tanpa bantuan dari negara lain. Efek negatif yang dapat timbul adalah tidak efisiennya penggunaan sumber-sumber daya produksi dalam negri.

S

Po

Qo D

Grafik di atas menggambarkan permintaan dan penawaran dalam kebijakan autharky. Grafik itu berlaku untuk semua jenis barang yang diproduksi dan konsumsi dalam negara tersebut. Pada sistem seperti autharky besarnya produksi akan sama dengan konsumsi. Yaitu produksi sejumlah Qo seluruhnya akan dikonsumsi oleh masyarakat pada harga Po. Kebijakan seperti ini biasanya diambil pemerintah untuk perlindungan pada barang-barang hasil produksi dalam negri.
Jadi bila melihat keterangan di atas sebuah negara sepertinya tidak perlu melakukan perdagangan internasional demi pemenuhan kebutuhan. Tetapi bila kita merujuk pada teori keunggulan komparatif disebutkan bahwa sebuah negara mempunyai keunggulan komparatif untuk memproduksi suatu jenis barang dengan biaya produksi lebih murah dan hasil produksi lebih banyak. Jadi akan lebih menguntungkan jika negara dapat mengarahkan sumber-sumber produksinya untuk menghasilkan lebih banyak barang yang merupakan barang unggulannya dan untuk memenuhi akan barang yang lain maka dilakukanlah perdagangan dengan negara lain.

S Po Pi D

Qsi Qo Qdi

Grafik di atas menunjukkan kurva permintaan suatu negara yang baru berubah dari kebijakan autharky menjadi kebijakan free trade atau perdagangan bebas dengan negara lain. Dapat dilihat bahwa harga barang impor (Pi) jauh lebih murah dari harga awal (Po). Dengan asumsi kualitas barang impor dan lokal sama maka lambat laun harga akan turun menjadi Pi baik lokal maupun impor. Hal ini menyebabkan penawaran barang dari produsen lokal menurun dari Qo menjadi Qsi, sementara permintaan meningkat dari Qo menjadi Qdi. Kenaikan permintaan ini dapat terpenuhi dengan masuknya barang impor. Tetapi masalahnya adalah penurunan produksi daam negri, turunnya pendapatan produsen yang pada akhirnya mendorong pemotongan penggunaan sumber produksi sampai pemotongan jumlah tenaga kerja. Sehingga timbul pengangguran dan mendorong timbulnya kelesuan ekonomi.
Untuk mencegah hal seperti ini maka pemerintah harus menerepkan kebijakan tarif pajak untuk impor. Pengenaan pajak ini akan mendorong naiknya harga barang impor. Kenaikan harga barang impor akan mendorong kemampuan barang lokal untuk bersaing dalam memenuhi permintaan konsumen. Tetapi pemerintah harus berupaya agar tarif yang dikenakan tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Karena kalau terlalu tinggi akan mendorong naiknya harga barang impor melebihi harga wajar dan konsumen akan beralih ke barang lokal. Dengan tidak adanya minat mengonsumsi barang impor maka pemerintah akan kehilangan penerimaan pajak dari impor karena tidak adanya barang impor yang masuk. Jadi pemerintah harus berusaha menetapkan tarif yang efektif dimana negara tetap menerima penghasilan dari pajak impor dan barang produksi lokal tetap dapat bersaing di pasaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: