G1 KOMPARATIF

1. Ari Budiyono (05)
2. Harib Luthfi Faruzy (16)
3. Jhonny Marlintong Banjarnahor (18)
4. Kharisma Nugroho Erianto (20)

HUKUM KEUNGGULAN KOMPARATIF

Pendahuluan
Dalam teori perdagangan internasional terjadi perkembangan teori perdagangan teori perdagangan internasional. Dimulai dengan doktrin ekonomi yang dikenal dengan merkantilisme yang muncul pada abad ke tujuhbelas dan delapanbelas. Selanjutnya teori absolute yang dikembangkan oleh Adam Smith. Kemudian keunggulan komparatif yang dikembangkan oleh David Ricardo. Teori inilah yang lebih menjelaskan pola dan keuntungan perdagangan.
Pandangan merkantilis mengenai perdagangan
Pada abad ketujuhbelas dan delapanbelas, sekelompok orang telah menulis esai dan pamphlet mengenai perdagangan internasional yang memunculkan filosofi ekonomi yang disebut merkantilisme. Secara ringkas, penganut merkantilisme itu berpendapat bahwa satu- satunya cara bagi sebuah negara untuk menjadi kaya dan kuat adalah dengan melakukan sebanyak- banyak mungkin ekspor dan sesedikit mungkin impor. Surplus ekspor yang dihasilkan selanjutnya akan berbentuk emas lantakan, atau logam- logam mulia, khususnya emas dan perak. Semakin banyak emas dan perak yang dimiliki oleh sebuah negara, maka semakin kaya dan kuatlah Negara itu.
Kaum merkantilis menilai kekayaan sebuah Negara dengan stok cadangan logam mulia yang dimilikinya. Sebaliknya pada saat sekarang ini kita mengukur kekayaan suatu Negara dengan cadangan sumber daya manusia, hasil produksi manusia, serta kekayaan alam yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa. Jika kita telaah lebih lanjut, kita menemukan bahwa keinginan para merkantilisme untuk menumpuk emas dan perak ini cukup rasional. Dengan emiliki emas yang banyak, maka sangat mungkin untuk membeli perlengkapan senjata untuk mempertahankan Negara. Kekuatan angkatan bersenjata akan lebih mamudahkan dalam menaklukkan banyak koloni. Selain itu, banyak emas memungkinkan juga untuk mengembangkan bisnis.
Kaum merkantilis selalu melakukan pengendalian pemerintah terhadap semua aktivitas ekunomi dan mengajarkan nasionalisme ekonomi mereka bahwa sebuah Negara hanya dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan dengan mengorbankan Negara lain. Pandangan ini sangat penting karena mengingat dua alasan. Pertama, pemikiran Adam Smith, David Ricardo dan ekonom klasik lainnya hanya dapat dipahami dengan baik jika mereka dianggap sebagai reaksi terhadap pandangan kaum merkantilis dan peranan Negara yang sangat ketat. Kedua, pada saat ini terdapat kecenderungan munculnya kembali neo-merkantilisme oleh semakin tingginya tingkat pengangguran yang sangat dikhawatirkan oleh pemerintahan sebuah Negara. Hal ini mendorong pemerintah untuk melakukan restriksi terhadap impor agar dapat mendorong kembali produksi domestik dan kesempatan kerja.

2.3 Perdagangan berdasarkan
Keunggulan absolut dari Adam Smith
Smith mengawali penjelasannya dengan kebenaran sederhana bahwa dua Negara akan melakukan perdagangan secara sukarela jika kedua Negara tersebut mengalami keuntungan.
Menurut Adam Smith, perdagangan dua Negara didasarkan pada keunggulan absolut ( absolute advantage). Jika sebuah Negara lebih efisien daripada Negara lain dalam memproduksi sebuah komoditi, atau kurang efisien dari Negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya, maka kedua Negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing- masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi suatu komoditi dengan keunggulan absolute dan menukarkannya dengan komoditi lain dari Negara lain. Dengan cara demikian, sumber daya kedua Negara dapat dimanfaatkan dengan efisien. Output kedua komoditi pun akan meningkat.
Jadi berbeda dengan kaun merkantilis yang percaya bahwa sebuah Negara hanya dapat keuntungan dengan mengorbankan Negara lain. Adam Smith justru percaya bahwa semua Negara dapat memperoleh keuntungan melalui perdagangan dan dengan tegas menyarankan untuk menjalankan kebijakan yang dinamakan laissez-faire, yaitu suatu kebijakan ekonomi yang menyarankan sesedikit mungkin intervensi pemerintah terhadap perekonomian. Memang ada pengecualian terhadap kebijakan laissez-faire dan perdagangan bebas ini. Salah satu pengecualian yang paling penting adalah proteksi terhadap berbagai industri penting sebagai pertahanan Negara.
Dalam kenyataan, pembatasan arus bebas ini terutama dilakukan oleh sejumlah industri dan para pekerja yang terancam dengan adanya impor. Oleh karenanya, pembatasan perdagangan akan menguntungkan sedikit pihak dan merugikan banyak pihak.
2.4 Perdagangan Berdasarkan Keunggulan Komparatif: David Ricardo
Pada tahun 1817 David Ricardo menerbitkan buku berjudul Principles of Political Economy and Taxation, yang berisi penjelasan mengenai hukum keunggulan komparatif.
2.4a Hukum Keunggulan Komparatif
Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Hukum ini dapat dimengerti dengan melihat Tabel 2-2.
Tabel 2-2. Keunggulan Komparatif
AMERIKA SERIKAT INGGRIS
Gandum 6 1
Kain 4 2
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pekerja Inggris dapat memproduksi kain setengah kali dari kain yang diproduksi Amerika, sementara gandum hanya dapat diproduksi seperenam kali, maka Inggris dikatakan memiliki keunggulan komparatif dalam kain. Di lain pihak, karena keunggulan absolut pada gandum lebih besar (6:1) dibanding kain (4:2), maka Amerika memiliki keunggulan komparatif dalam gandum. Menurut hukum keunggulan komparatif, kedua Negara tersebut dapat memperoleh keuntungan jika Amerika Serikat melakukan spesialisasi dalam produksi gandum dan mengekspor sebagian dari produksi gandum tersebut serta menukarnya dengan kain dari Inggris. Pada saat yang sama, Inggris melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor kain. Dalam konteks dua negara dan dua komoditi, jika satu negara ditetapkan memiliki keunggulan komparatif dalam satu komoditi, maka negara lainnya harus dianggap memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi lainnya.
2.4b Keuntungan dari Perdagangan
Untuk membuktikan hukum keunggulan komparatif, kita harus dapat memperlihatkan bahwa Amerika Serikat dan Inggris dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor komoditi yang memiliki keunggulan komparatif. Untuk menunjukkan bahwa kedua negara dapat memperoleh keuntungan, misalnya Amerika Serikat dapat menukarkan 6 gandum dengan 6 kain dari Inggris. Dari perdagangan ini Amerika Serikat memperoleh keuntungan sebesar 2 kain karena AS hanya dapat menukar 6 gandum dengan 4 kain di dalam negeri. Inggris pun memperoleh keuntungan. Enam gandum yang diterima Inggris dari AS memerlukan enam jam untuk memproduksinya di dalam negeri. Namun Inggris dapat menggunakan enam jam ini untuk memproduksi 12 kain, dan hanya menyerahkan 6 kain untuk memperoleh 6 gandum dari AS. Dengan demikian Inggris mendapat keuntungan sebanyak 6 kain.
Dari contoh di atas kedua negara memperoleh keuntungan dengan menukarkan 6 gandum dengan 6 kain. Meski demikian, pertukaran ini bukanlah satu-satunya perdagangan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. AS dapat menukarkan 6 gandum dengan 4 kain di dalam negeri. Untuk itu, AS harus menukarnya dengan lebih dari 4 kain untuk mendapat keuntungan. Di Inggris, 6 gandum = 12 kain (dalam pengertian untuk memproduksinya dibutuhkan 6 jam). Oleh karena itu, Inggris bersedia menukar berapapun kain asal kurang dari 12 kain dengan 6 gandum untuk mendapat keuntungan. Jadi range untuk perdagangan yang saling menguntungkan adalah :
4 kain < 6 gandum < 12 kain
Jarak antara 12 kain dan 4 kain (8 kain) menggambarkan total keuntungan yang tersedia dalam perdagangan kedua negara dengan memperdagangkan 6 gandum. Dari contoh di atas AS memperoleh keuntungan 2 kain sedang Inggris 6 kain yang totalnya 8 kain. Jika AS menukarkan 6 gandum dengan 8 kain dari Inggris, kedua negara akan memperoleh keuntungan 4 kain.
Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari misalnya seorang pengacara dapat mengetik dua kali lebih cepat dari sekretarisnya. Oleh karena itu, pengacara memiliki keunggulan absolut terhadap sekretarisnya, baik dalam hal praktik hukum maupun dalam mengetik. Namun, karena sekretaris tidak memiliki pengetahuan mengenai praktik hukum, maka pengacara memiliki keunggulan komparatif dalam hukum. Sementara sekretaris memiliki keunggulan komparatif dalam mengetik. Menurut hukum keunggulan komparatif, pengacara tersebut harus menyerahkan seluruh pekerjaan mengetik kepada sekretarisnya. Sebagai contoh, bila pengacara mendapat $100 per jam kerja praktik hukum dan membayar sekretarisnya $10 per jam kerja untuk melakukan pengetikan. Bila pekerjaan pengetikan dikerjakan sendiri oleh pengacara, sebenarnya dia kehilangan $80 per jam. Alasannya, dia dapat menghemat $20 per jam karena dapat mengetik dua kali lebih cepat dari sekretarisnya, namun kehilangan kesempatan memperoleh $100 per jam dari praktik hukumnya.
2.4c Pengecualian terhadap Hukum Keunggulan Komparatif
Pengecualian terhadap hukum keunggulan komparatif terjadi bila kerugian absolut yang dimiliki suatu negara pada kedua komoditi sama besarnya, meskipun hal ini sangat jarang terjadi. Sebagai contoh dalam tabel 2-2 produksi gandum Inggris bukan 1 tapi 3. Akibatnya produktivitas Inggris dalam memproduksi kain dan gandum setengah dari produktivitas AS. Oleh karena itu tidak ada yang memiliki keunggulan komparatif. Seperti yang telah diungkap sebelumnya, AS hanya mau menukar 6 gandum dengan lebih dari 4 kain. Namun dalam kondisi seperti ini Inggris tidak mau menukar 4 kain untuk memperoleh 6 gandum dari AS karena dapat memproduksi sendiri 6 gandum maupun 4 kain dalam dua jam kerja. Pada akhirnya, dibutuhkan modifikasi pada pernyataan hukum keunggulan komparatif, yakni ‘meskipun sebuah negara memiliki kerugian absolut terhadap negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, masih terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak, kecuali jika kerugian absolut pada kedua komoditi tersebut memiliki proporsi yang sama.
2.4d Keunggulan Komparatif dalam Nilai Uang
Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun salah satu negara memiliki kerugian absolut dalam produksi kedua komoditi dibanding negara kedua, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan. Mari kita lihat contoh yang telah disebutkan di atas dengan menggunakan satuan mata uang.
Misalkan upah di AS $6 per jam. Karena satu jam kerja dapat menghasilkan 6 gandum, harga gandum adalah $1. Sedangkan untuk kain dapat menghasilkan 4 kain dalam satu jam, maka harga kain = $1.5. Misalnya pada saat yang sama upah di Inggris adalah £1 per jam. Karena dalam satu jam kerja dapat menghasilkan 1 gandum, maka harga gandum £1 di Inggris. Begitu pula dengan kain. Dalam satu jam kerja dapat dihasilkan 2 kain. Maka harga kain di Inggris adalah £0.5. Jika nilai tukar antara pound dan dollar adalah £1 = $2, maka harga gandum di Inggris = £1 = $2 dan harga kain = £0.5 = $1.
TABEL 2-3. Nilai Gandum dan kain di Amerika dan Inggris dalam Satuan Dolar pada Nilai Tukar £1 = $2
AMERIKA SERIKAT INGGRIS
Harga gandum $1,00 $2,00
Harga kain $1,50 $1,00
Dari tabel 2-3 kita dapat melihat bahwa harga gandum di AS lebih rendah daripada di Inggris sedangkan untuk harga kain lebih rendah di Inggris. Oleh karena harga gandum lebih rendah di AS, para pengusaha akan membeli gandum di AS dan menjualnya di Inggris yang kemudian ditukar dengan kain untuk dijual kembali di AS.
Jika nilai tukar antara pound dan dollar diubah menjadi £1 = $1, maka harga gandum dalam dollar di Inggris akan menjadi $1. Oleh karena harga ini sama dengan harga di AS, AS tidak dapat mengekspor gandum ke Inggris. Pada saat yang sama, Inggris semakin banyak mengekspor kain karena harga kain di Inggris menjadi $0,5. Dalam hal ini terjadi ketidakseimbangan perdagangan karena lebih menguntungkan Inggris.
Jika nilai tukar adalah £1 = $3, maka harga kain di Inggris akan menjadi $1,5. Akibatnya Inggris tidak bisa mengekspor kain ke AS. Perdagangan tidak menjadi seimbang karena lebih menguntungkan AS. Pada akhirnya nilai tukar pound dengan dollar akan berada pada tingkat yang memberikan keseimbangan perdagangan (dengan asumsi tidak terdapat campur tangan atau transaksi internasional lainnya).
2.5 Keunggulan Komparatif dan Biaya Oportunitas
Beberaapa asumsi yang dibuat David Ricardo dalam hokum keunggulan komparatifnya antara lain:
1. hanya terdapat dua negara dan dua komoditi;
2. perdagangan bersifat bebas;
3. terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam negara namun tidak ada mobilitas diantara dua negara;
4. biaya produksi konstan;
5. tidak terdapat biaya tansportasi;
6. tidak ada perubahan teknologi;
7. menggunakan teori tenaga kerja.
2.5a Keunggulan Komparatif dan Teori Nilai Tenaga Kerja
Menurut teori nilai tenaga kerja, nilai atau harga sebuah komoditi tergantung dari jumlah tenaga kerja yang dipakai untuk menghasilkan komoditi itu. Implikasinya (1) tenaga kerja merupakan satu-satunyaa faktor produksi, atau tenaga kerja dipakai dalam proporsi yang sama untuk semua komoditi dan (2) tenaga kerja bersifat homogen. Tetapi kenyataannya asumsi ini tidak benar dan tidak dapat dijadikan asumsi untuk mendasari teori keunggulan komparatif.
2.5b Teori Biaya Oportunitas
Menurut teori ini biaya sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk memperoleh sumber daya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan komoditi pertama. Konsekuensi teori ini negara mempunyai biaya opurtunitas lebih rendah dalam memproduksi sebuah komoditi dan memiliki kerugian komparatif dalam komoditi lainnya. Sehingga harus menspesialisasikan dirinya untuk memproduksi satu jenis komoditi yang biaya oportunitasnya lebih rendah dan bertransaksi dengan negara lain untuk memperoleh komoditi kedua.
2.5c Batas Kemungkinan Produksi pada Biaya Konstan
Biaya opurtunitas dapat digambarkan dengan kurva batas kemungkinan produksi atau kurva tansformasi. Kurva ini akan menunjukkan potensi kombinasi produksi suatu negara dengan sumber daya yang ada. Jika garis batas kemungkinan produksi merupakan garis lurus maka biaya oportunitas mereka adalah konstan. Hal ini timbul ketika (1) sumber daya atau faktor produksi bersifat substitusi sempurna dan (2) semua unit dan faktor produksi homogen. Hal ini memberikan dasar untuk terjadinya perdagangan antar negara demi memenuhi kebutuhan untuk tiap komoditi dengan proporsi kebutuhan masing-masing.
2.5d Biaya Oportunitas dan Harga Komoditi Relatif
Dalam kurva batas kemungkinan produksi kemiringan garis batas produksi sering disebut dengan tingkat transformasi marjinal (marginal rate of transformation). Dari kemiringan garis tersebut dapat dilihat besarnya biaya oportunitas dimana biaya oportunitas ini sama dengan harga komoditas relatif terhadap harga komoditas lainnya. Sehingga dengan melihat kemiringan suatu negara harus melakukan perdagangan dengan negara lain sesuai biaya oportunitas masing-masing, harga komoditi, serta kubutuhan masing-masing negara. Sehingga perbedaan harga komoditi relatif antara dua negara (ditunjukkan perbedaan kemiringan kurva transformasi mereka) merupakan refleksi dari keunggulan komparatif mereka dan memberikan dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua pihak.
2.6 Dasar dan keuntungan Perdagangan pada Biaya Konstan
Dalam situasi tanpa perdagangan, sebuah negara hanya mampu mengkonsumsi komoditi-komoditi yang diproduksinya sendiri. Sebagai akibatnya, batas kemungkinan produksi negara tersebut juga menggambarkan batas konsumsinya. Komoditi yang akan diproduksi bergantung pada keinginan masyarakat atau pada sisi permintaan.
2.6a Ilustrasi Keuntungan dari Perdagangan
Ambil contoh 2 negara sebut saja Amerika Serikat (US) dan Inggris (UK). Dalam situasi tanpa perdagangan Amerika serikat memiliki pilihan untuk memproduksi sebagaimana yang digambarkan di kurva kemungkinan produksi. Asumsikan saja US memilh kombinasi A (90G dan 60K). Sementara itu UK dalam situasi tanpa perdagangan juga memiliki pilihan memproduksi sebagaimana yang digambarkan dalam kurva kemungkinan produksi. Asumsikan saja UK memilih kombinasi A’ (40G dan 40K).
Dengan adanya perdagangan maka baik US maupun UK memiliki kesempatan untuk memaksimalkan produksi komuditas yang memiliki keunggulan komparatif. US akan melakukan spesialisasi produksi gandum dan Uk melakukan spesialisasi produksi kain. Hasilnya US memproduksi pada titik B (180G dan 0K) dan US memproduksi pada titik B’ (0G dan 120K). Asumsikan jika US bersepakat dengan UK untuk menukarkan 70G produksinya dengan 70K produksi UK. Hasilnya US akan memperoleh 110G dan 70K, sedangkan UK akan memperoleh 70G dan 50K. Perdagangan ini membuat US dan UK memperoleh keuntungan dibandingkan jika mereka tidak melakukan perdagangan. Jika dibandingkan dengan kombinasi A (90G dan 60K) maka kombinasi B (110G dan 70K) akan memberikan keuntungan 20G dan 10K bagi US. Begitupula dengan UK, dibandingkan dengan kombninasi A’ (40G dan 40K) maka kombinasi B’ (70G dan 50K) akan memberikan keuntungan 30G dan 10K. Jadi kesimpulannya perdagangan tersebut menghasilkan keuntungan.

2.6b Harga Komoditi Relatif dengan adanya Perdagangan

Pada panel kiri Sg(us+uk) merupakan kurva penawaran gandum gabungan dai US dan UK. Kurva ini memperlihatkan bahwa US dapat memperoduksi maksimum 180G = 0B pada Pg/Pk= 2/3, sedangkan UK dapat memproduksi maksimum 60G = BB* pada Pg/Pk = 2. Kurva Dg(us+uk) merupakan kurva permintaan gabungan terhadap gandum US dan UK. Kedua kurva ini saling memotong pada titik E dan menghasilkan kuantitas keseimbangan pada 180G (yang semuanya diproduksi di US) dan harga keseimbangan pada Pg/Pk = 1. Panel sebelah kanan memperlihatkan keseimbangan pada komoditi kain pada perpotongan kurva permintaan Dk(us+uk) dengan kurva penawaran Sk(uk+us) pada titik E’ dengan kuantitas keseimbangan sebesar 120K (yang semuanya diproduksi di UK) dan harga keseimbangan Pk/Pg = 1.
2.7 Pengujian Empiris Model Ricardo
Pengujian empiris pertama terhadap model perdagangan David Ricardo dilakukan oleh MacDoughall pada tahun 1951 dan 1952 dengan menggunakan data tahun 1937. Hasil yang diperoleh dari pengujian tersebut adalah bahwa Industri-industri yang memiliki produktivitas tenaga kerja relatif lebih tinggi di Amerika dibandingkan di Inggris untuk Industri-industri yang memiliki rasio ekspor Amerika terhadap Inggris lebih besar kenegara-negara lain. Hasil ini didukung oleh oleh pengujian yang dilakukan oleh Bela Ballasa dan Stern.
Dapat dilihat bahwa keunggulan komparatif nampaknya memang didasarkan pada perbedaan dalam produktivitas tenaga kerja, seperti yang dijelaskan oleh David Ricardo. Namun teori ini tidak menjelaskan alasan perbedaan produktivitas tenaga kerja di berbagai negara. Teori ini juga tidak menjelaskan mengenai pengaruh perdagangan Internasional terhadap pendapatan yang diperoleh oleh faktor produksi.

2 Tanggapan to “G1 KOMPARATIF”

  1. intasatipah Says:

    kirim kurva dong

  2. julfahmi Says:

    mas, tabelnya ada gak????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: