F4 TARIF

Kelas 2F pajak
1. Ariani Wahyuni
2. Danis Suma Wijaya
3. Desi Restu Cahyani
4. Dian Nugraha Santosa
5. Muda Gempita Harahap
6. M. Syukron Fauzi
7. Tonny Ardyanto
8. Yuliana Rohmawati

INSTRUMEN TARIF

8.1 Pendahuluan
• Perdagangan bebas (free trade) akan dapat memaksimalkan output dunia dan keuntungan bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Namun kenyataannya, hampir setiap negara masih menerapkan berbagai bentuk hambatan terhadap berlangsungnya perdagangan internasional secara bebas, terutama yang berkaitan erat dengan praktek dan kepentingan perdagangan atau komersial dari masing-masing negara. Hambatan-hambatan tersebut biasa disebut kebijakan perdagangan (trade policy) atau kebijakan komersial (commercial policy).
• Salah satu bentuk hambatan perdagangan yang paling penting adalah tarif. Tarif merupakan bentuk kebijakan perdagangan yang paling tua dan secara tradisional telah digunakan sebagai sumber penerimaan pemerintah sejak lama.
• Jenis-jenis tarif ditinjau dari aspek asal komoditi yaitu:
1. Tarif impor (import tariff), yaitu pajak yang dikenakan untuk setiap komoditi yang diimpor dari negara lain.
2. Tarif ekspor (export tariff), yaitu pajak untuk suatu komoditi yang diekspor.
• Jenis-jenis tarif ditinjau dari mekanisme perhitungannya yaitu:
1. Tarif ad valorem (ad valorem tariffs), adalah pajak yang dikenakan berdasarkan angka presentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor. Misalnya: suatu negara memungut tarif 25% atas harga dari setiap unit mobil yang diimpor.
2. Tarif spesifik (specific tariffs), adalah tarif yang dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor. Misalnya: pungutan 3 dollar untuk setiap barel minyak.
3. Tarif campuran (compound tariff), adalah gabungan dari tarif ad valorem dan tarif spesifik. Di samping mengenakan pungutan dalam jumlah tertentu, tarif ini juga memungut sekian persen lagi.
• Jenis-jenis tarif impor:
1. Tarif Tunggal (Single Column Tariff)
Yaitu tarif atas barang impor dalam % untuk satu komoditi dari negara mana saja.
2. Tarif Umum (General/Conventiopnal Tariff)
Yaitu tarif untuk komoditi yang besarnya berbeda terhadap barang impor setiap negara.
• Peranan tarif di negara-negara industri telah menurun dalam era modern sekarang ini, khususnya untuk sektor manufaktur, karena pemerintah dari berbagai negara kini lebih suka dan terbiasa melindungi industri-industri domestik mereka dengan memberlakukan berbagai macam dan bentuk hambatan non tarif.
8.2 Analisis Keseimbangan Parsial Akibat Pemberlakuan Tarif
• Merupakan instrumen analitis paling sesuai untuk mempelajari kasus pemberlakuan tarif oleh sebuah negara kecil, serta keterkaitannya dengan output industri domestiknya yang juga relatif kecil.
8.2a Dampak-Dampak Keseimbangan Parsial Akibat Pemberlakuan Tarif
• Dampak pemberlakuan tarif terhadap konsumsi (consumption effect of the tariff), yaitu berkurangnya konsumsi domestik akibat pengenaan tarif ad valorem.
• Dampak pengenaan tarif terhadap produksi (production effect of the tariff), yaitu peningkatan produk domestik akibat adanya tarif.
• Dampak pengenaan tarif terhadap perdagangan (trade effect of the tariff), yaitu terjadinya penurunan terhadap impor.
• Dampak pengenaan tarif terhadap penerimaan pemerintah (revenue effect of the tariff), yaitu terciptanya pemasukan bagi pemerintah.

8.2b Dampak Pemberlakuan Tarif Terhadap Surplus Produsen dan Konsumen
Kenaikan harga komiditi X dari 1 dolar menjadi 2 dolar yang diakibatkan pemberlakuan tarif 100% oleh pemerintah terhadap barang-barang impor, pada gilirannya akan menurunkan surplus konsumen dan akan meningkatkan surplus produsen. Surplus konsumen (consumer surplus) mengukur besar kecilnya keuntungan konsumen dari pembelian, yang berupa selisih antara harga yang sebenarnya dibayarkannya dengan tingkat harga yang sanggup ia bayar. Surplus produsen (producer surplus) jika produsen mampu menjual barang yang lebih tinggi dari tingkat harga yang ia inginkan atau ia terima dengan senang hati.
Seorang konsumen akan mau membayar 3 dolar untuk unit ke-30 barang X, sedangkan dalam kenyataannya mereka dapat membelinya seharga 1 dolar, maka mereka pun menikmati surplus konsumen sebesar 2 dolar. Demikian pula ketika mereka memperoleh unit ke-50, mereka mau membayar 2 dolar sehingga surplus kosumen sebesar 1 dolar. Sedangkan untuk unit ke-70 mereka hanya mau membayar sebesar 1 dolar sehingga surplus konsumen sama dengan nol. Secera keseluruhan sebelum adanya tarif total surplus konsumen mencapai 122,5 dolar. Ketika pemerintah memberlakukan tarif 100 % terhadap barang-barang impor, harga barang X mengalami kenaikan menjadi 2 dolar. Pembelian barang X mengalami penurunan menjadi 50 unit. Sejak adanya tarif, konsumen harus membayar 100 dolar untuk 50 unit barang X. Hal ini menyebabkan surplus konsumen menurun sebesar 60 dolar dari 122,5 dolar menjadi 62,5 dolar. Dengan demikian, jelaslah bahwa pemberlakuan tarif impor tersebut mengurangi surplus konsumen.
Sebelum dikenakan tarif, harga barang X adalah 1 dolar. Dalam situasi ini, produsen domestik hanya memproduksi 10 unit barang X dan untuk itu mereka hanya memperoleh 10 dolar. Setelah pemerintah memberlakukan tarif impor, harga barang X mengalami kenaikan menjadi 2 dolar. Para produsen domestik meningkatkan produksinya menjadi 20 unit sehingga memperoleh 40 dolar. Peningkatan pendapatan sebesar 30 dolar. Karena yang 15 dolar merupakan biaya produksi maka yang 15 dolar sisanya merupakan surplus produsen. Jelaslah pula bahwa pemberlakuan tarif meningkatkan surplus produsen.

8.2c Biaya dan Manfaat Tarif
Tarif dapat meningkatkan barang di negara pengimpor sehingga kalangan konsumen di negara pengimpor secara relatif merugi, sedangkan para produsen di negara pengimpor memperoleh keuntungan.Jadi tarif membawa biaya sekaligus manfaat.
Saat pemerintah mengenakan tarif sebesar 100% terhadap barang impor maka harga barang X langsung mengalami kenaikan dari 1 dolar menjadi 2 dolar. Konsumsi atas komoditi ini pun turun dari 70 unit menjadi 50 unit. Dalam waktu bersamaan, produsen domestik meningkatkan produksinya dari 10 unit menjadi 20 unit. Impor turun dari 60 unit menjadi 30 unit dan pemerintah menerima pemasukan sebesar 30 dolar dalam bentuk pajak impor. Hal ini menyebabkan surplus konsumen mengalami penurunan sebesar 60 dolar dan peningkatan surplus produsen sebesar 15 dolar. Dari total kerugian konsumen itu, 30 di antaranya diterima oleh pemerintah dalam bentuk pajak impor, kemudian 15 dolar lainnya diredistribusikan kepada para produsen barang X di dalam negeri dalam bentuk kenaikan rente atau surplus produsen, 15 dolar sisanya merupakan biaya proteksi (protection cost) atau biaya bobot mati (deadweight lost) yang merupakan bentuk kerugian yang harus ditanggung oleh perekonomian negara bersangkutan.
Dampak Pengenaan tarif
1. Harga barang impor menjadi lebih mahal
Hal ini menyebabkan penurunan konsumsi oleh konsumen, produsen akan memproduksi barang dimana biaya marjinal (marginal cost) sama dengan harga setelah tarif.
2. Meredistribusikan pendapatan dari konsumen domestik ke produsen domestik.
3. Mereditribusikan pendapatan dari sektor ekonomi yang sumber dayanya melimpah ke sektor lain yang sumber dayanya kurang kompetitif.
Komponen produksi dari biaya proteksi atau biaya bobot mati akan mengalami kenaikan karena pemberlakuan tarif impor. Hal ini mengakibatkan adanya pengalihan sumber daya dari sektor ekonomi yang sumber dayanya melimpah (komoditi yang biasa diekspor) ke sektor lain yang sumber dayanya kurang kompetitif (komoditi yang lebih menguntungkan jika diimpor dari negara lain).
4. Dampak negatif tarif berupa production distortion lost
Tarif menyebabkan produsen domestik memproduksi terlalu banyak barang sehingga tidak semuanya bisa dijual dengan harga yang menguntungkan
5. Consumption distortion loss yaitu menyebabkan konsumen mengonsumsi barang terlalu sedikit

8.3 Teori Struktur Tarif
Tarif nominal adalah angka yang dinyatakan sebagai pajak impor. Dalam kenyataannya tarif menimbulkan dampak proteksi yang lebih besar daripada angka tersebut.
Olleh sebab itu kita harus mempelajari pengertian , cara penghitungan dan arti penting tingkat proteksi efektif tersebut.
8.3a Tingkat Proteksi Efektif
Tingkat proteksi efektif yang dihitung atas dasar nilai tambah domestik, atau keuntungan dari proses manifaktur di dalam negreri, akan jauh melampaui tingkat tarif nominal ( dihitung atas dasar harga komoditi final atau setelah kena pajak ). Nilai tambah domestik sama dengan harga final komoditi dikurangi dengan biaya impor barang input untuk keperluan produksikomoditi tersebut di dalam negeri.
Tingkat proteksi efektif penting bagi para produsen dan para pembuat keputusan (yang memutuskan tarif) untuk mengetahui seberapa efektifkah proteksi yang di berikan pemerintah bagi proses manufaktur domestik.
Pada dasarnya pengenaan tarif atau bea masuk terhadap barang impor akan meningkatkan harga barang yag dihasilkan produsen dalam negri. Dampak ini yang menjadi tujuan pengenaan tarif untuk melindungi produsen dalam negeri terhadap persaingan impor yang harganya lebih murah. Namun seberapa besar tarif dikenakan harus hati hati dalam memutuskan karena akan berdampak seberapa besar proteksi yang di berikan.
Cotoh : produsen kain wool domestik memerlukan impor kain wool 80 dolar, dan harga pasaran internasional mantel wool jadi 100,dan pemerintah mengenakan tarif 10% untuk mantel wool jadi. Maka harga mantel di dalam negeri pun 110. Maka produsen mendapat keuntungan lebih dari sebelum di kenakan tarif, dari yang sebelumnya 20 menjadi 30. Dan terdapat kenaikan keuntungan sebesar 50% ((10/20)x100%=50%). Dengan demikian proteksi efektifnya sebesar 50%.
Tingkat proteksi efektif juga bisanya dihitung berdasarkan rumus berikut :

g = tingkat proteksi efektif bage para produsen komoditi final
t = tingkat tarif nominal yang dibebankan pada komsumen komoditi final
ai = rasio biaya komoditi input impor terhadap harga komoditi final dalam kondisi bebas tarif
ti = tingkat tarif nominal terhadap komoditi impor yang diimpor.

8.3b Generalisasi dan Evaluasi Teori Proteksi Efektif

Hubungan antara tingkat proteksi efektif (g) dan tingkat tarif nominal (t) tehadap komoditi final, yaitu:
1. Jika rasio komoditi input impor terhadap harga komoditi final dalam kondisi bebas tarif (ai) = 0 maka tingkat proteksi bagi para produsen komoditi final (g) = tingkat tarif nominal yang dibebankan kepada konsumen komoditi final(t).
2. Pada nilai berapa pun untuk rasio komoditi input impor terhadap haraga komoditi final dalam kondisi bebas tarif (ai) dan tingkat tarif nominal terhadap komoditi input yang diimpor (ti), semakin besar tingkat tarif nominal (t), akan semalin besr tingkat proteksi efektifnya (g).
3. Pada nilai berapa pun untuk tingkat tarif nominal (t) dan tingkat tarif nominal terhadap komoditi input yang diimpor (ti), semakin besar rasio komoditi inpu impor terhadap harga komoditi final dalam kondisi bebas tarif, akan semakin besar nilai tingkat proteksi efektif (g).
4. Nilai tingkat proteksi efektif (g) akan makin besar (sama dengan, atau lebih kecil) dari tingkat tarif nominal, jika nilai tingkat tarif nominal terhadap komoditi input yang diimpor (ti) kebih kecil (sama dengan atau lebih besar) dari tingkat tarif nominal (t).
5. Apabila rasio biaya komoditi input impor terhadap harga komoditi final dalam kondisi bebas tarif terhadap tingkat tarif nominal terhadap komoditi input yanhg diimpor lebih besar dari tingkat tariff nominal (t),maka tingkat proteksi efektifnya menjadi negative.

Tarif terhadap komoditi input akan sama dengan sama dengan pajak tambahan (PPN) bagi produsen domestic yang akan meningkatkan biaya produksi, serta sekaligus akan menurukan tingkat proteksi efektif bagi produsen (yang bersumber dari pemberlakuan tarif terhadap komoditi final impor yang menjadi saingannya), sehinagga pada akhirnya bersifat kontraproduktif dan akan menurunkan tingkat produksi domestik.Jadi, jika tarif terhadap komoditi final yang diimpor akan menguntungkan produsen, maka tafit terhadap komoditi input yang diimpor akan merugikan mereka.Artinya tingkat produksi domestik dalam kondisi perdagangan bebas justru lebih tinggi ketimbang dalam kondisi tarif yang mengutamakan pemberlakuan tarif untuk melindungi dan memacu tingkat produksi domestik.

Kelemahan konsep tingkat tarif nominal antara lain tidak dapat memberikan petunjuk apa pun mengenai kadar proteksi yang sesungguhnya dari pemerintah kepada produsen domestik melaalui pemberlakuan tarif terhadap komoditi-komoditi impor dan juga banyak di sektor industri diberbagai Negara yang memiliki struktur tarif kecil atau nol untuk komoditi input dan tarif yang cukup tinggi terhadap komoditi final yang diimpor.

8.4a Dampak-dampak keseimbamgan umum dari pemberlakuan tarif di Negara kecil

Ketika sebuah Negara kecil memberlakukan tariff terhadap barang-barang impornya, tidak akam mempengaruhi harga-harga barang di pasaran internasional. Tetapi harga barang domestic sendri yang berubah, sehingga, pihak yang harus menghadapi segara implikasi kenaikan harga-harga adalah konsumen dan produsen di Negara kecil yamg bersamgkutan tetapi harga perekonomian Negara kecil tersebut secara keseluruhan tetap konstan, karena kenaikan harga akibat tarif itu diimbangi oleh perciptanya pemasukan pajak bagi pemerintah

Pemerintah dineraga kecil yang mengenakan tarif ini semata-mata sebagai alat untuk menghimpun dana demi memberi subsidi baga konsumen public. Artinya pemerintah negar kecil tersebut tidak ingin mengenakan pajak internal yang terlalu besar terhadap warganya guna membiayai aneka pengeluaran Negara, dan sebagai gantinya , pemerintah memungut pajak impor.
8.4b Ilustrasi Dampak Pengenaan Tarif Di Negara Kecil
Dengan adanya tarif, tingkat kesejahteraan negara yang bersangkutan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan kondisinya di masa perdagangan bebas.
Penurunan kesejahteraan bersumber dari dua sebab, yakni :
a. Perekonomian tidak lagi berproduksi pada titik yang memaksimumkan nilai pendapatan dan harga dunia
b. Konsumen tidak dapat lagi berkonsumsi pada kurva indiferen tertinggi yang memaksimumkan kesejahteraan. Baik (a) maupun (b) diakibatkan oleh kenyataan bahwa konsumen dan produsen domestik menghadapi harga yang berbeda dengan harga dunia. Penurunan kesejahteraan (The Loss in Welfare) terjadi karena kegiatan produksi yang tidak efisien. Hal ini merupakan kondisi (a) padanan keseimbangan umum dari kerugian akibat piuh produksi (production distortion loss) yang telah dijelaskan dalam pendekatan keseimbangan parsial dalam bab ini dan melambangkan penurunan kesejahteraan sebagaiakibat dari konsumsi yang tidak efisien sehingga ini juga merupakan (b) padanan dari kerugian akibat piuh konsumsi (Consumption Distortion Loss)
Volume Perdagangan mengalami kemerosotan dengan adanya tarif. Volume serta nilai-nilai ekspor dan impor sama-sama turun segera setelah dilaksanakannya pengenaan tarif itu dibandingkan dengan sebelumnya ketika perdagangan masih berlangsung secara bebas.
8.4c Teorema Stolper-Samuelson
Teorema ini menjelaskan bahwa kenaikan dalam harga relatif suatu komoditi (misalnya kenaikan yang diakibatkan oleh pemberlakuan tarif) akan menaikkan tingkat penghasilan bagi faktor-faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam produksi komoditi tersebut. Dengan demikian, tingkat hasil riil dari faktor produksi yang relatif langka tersebut akan meningkat begitu tarif diberlakukan.
Pemberlakuan tarif impor terhadap ssalah satu komoditi oleh pemerintah negara pengimpor meningkatkan perbandingan harga di negara tersebut dan dalam waktu berrsamaan juga meningkatkan harga atau tingkat hasil bagi tenaga kerja (yang merupakan faktor produksi langka di negara tersebut).\
Secara keseluruhan , perekonomian negara pengimpor akan mengalami kerugian akibat pemberlakuan tarif. Hal itu hanya akan menguntungkan pemilik faktor produksi yang relatif langka (dalam hal ini adalah tenaga kerja), dan keuntungan mereka itu diperoleh atas pengorbanan pemilik faktor produksi yang relatif melimpah di negara tersebut. Pemikiran ini senantiasa berlaku untuk negara-negara kecil, dan hampir selalu untuk negara-negar besar dengan beberapa pengecualian.
8.5 Dampak-Dampak Keseimbangan Umum Dari Pemberlakuan Tarif Di Negara Besar
Pemberlakuan Tarif oleh pemerintah negara besar yang bersangkutan akan menurunkan volume perdagangannya, namun dalam waktu bersamaan juga akan meningkatkan nilai tukat perdagangannya (terms Of Trade). Volume Perdagangan itu sendiri cenderung menurunkan tingkat kesejahteraan negara besar tadi secara keseluruhan, sekalipun di sisi lain meningkatnya nilai tukar perdagangan cenderung menambah kesejahteraannya. Tentu saja meningkat atau menurunnya kesejahteraan negara tersebut ditentukan oleh kekuatan yang lebih unggul, yakni apakah kekuatan positif dari perbaikan nilai tukar perdagangan atau kekuatan negatif yang diakibatkan oleh kemerosotan volume perdagangan.
8.6 Tarif Optimum
8.6a Pengertian Konsep Tarif Optimum dan Pembalasan Tarif (Retaliation)
Tarif optimum adalah tingkat tarif yang dapat memaksimalkan manfaat nettoyang bersumber dariperbaikan nilai tukar perdagangan sehingga dapat melunturkan dampak negatif yang diakibatkan oleh berkurangnya volume perdagangan. Begitu sebuah negara memberlakukan tarif, maka sampai batas tertentu kesejahteraannya akan meningkat hingga ke titik maksimal. Pada titik itulah tarifnya disebut tarif optimum. Jika pemerintah negara yang bersangkutan mengubah tarif itu, maka tarif tersebut tidak lagi optimum sehingga tidak lagi dapat meningkatkan kesejahteraannya bahkan, ia akan merugi. Pada akhirnya negara tersebut justru terdorong untuk mengenakan tarif prohibitif yang hanya akan membuatnya terjerumus ke dalam autarki yang sangat merugikannya sendiri.
Perlu diingat, pengaruh dari tarif optimum ini hanya akan berlangsung sementara saja, oleh karena negara lain yang menjadi mitra dagangnya akan mengalami kemerosotan nilai tukar perdagangan, dan mereka tentu tidak akan membiarkan dirinya dirugikan.Peristiwa ini terjadi karen hubungan kedua negara yang bersifat resiprokal secara negatif. Artinya, jika nilai tukar negara yang satu membaik, maka nilai tukar negara yang lain akan mengalami kemerosotan. Kalau negara pelaku tarif masih diuntungkan oleh meningkatnya nilai tukar perdagangan, maka negara yang menjadi mitra dagang akan mengalami kerugian ganda. Yakni, yang pertama, volume perdagangan merka anjlok, sedangkan yang kedua, nilai tukar perdagangan merka menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika negara yang menjadi mitra dagang akan melakukan pembalasan dan ikut menerapkan tarif sampai ke titik optimum. Meskipun tindakan ini dapat mengembalikan sebagian pendapatan yang hilang, tindakan ini justru kian menciutkan volume perdagangan semua negara.
Seandainya negara lain yang menjadi mitra dagang tidak melakukan pembalasan tarif, keuntungan yang diperoleh oleh negara yang memberlakukan tarif itu pun lebih kecil dibandingkan dengan kerugian yang dialami oleh mitra dagangnya sehingga secara keseluruhan perekonomian dunia tetap saja mengalami kerugian. Jelas bahwa pemberlakuan tarif tidak memunculkan skenario apapun yang lebih baik dibandingkan dengan situasi dalam kondisi perdagangan bebas.
8.6b Ilustrasi Tarif Optimum dan Pembalasan Tarif
Berbagai perundingan dan perjanjian perdagangan internasional dewasa ini menganggap tarif impor optimum itu sama berbahayanya dengan tarif ekspor optimum.Yang terakhir,negara-negara kecil tidak bisa mencapaitarif optimum,karena setiap tarif yang diberlakukan oleh negara kecil kan membawa akibat berupa kemerosotan nilai tukar perdagangan yang disertai dengan penciutan volume perdagangannya. Oleh sebab itu tarif sama sekali tidak dapat meningkatkan kesejahteraan negara kecil. Sedangkan untuk negara besar, tarif hanya akan meningkatkankesejahteraan apabila tidak ada tindakan pembalasan dari mitra-mitra dagangnya, dan kemungkinan seperti itu boleh dikatakan mustahil karena tidak ada negara yang rela dirugikan begitu saja. Jadi jelaslah bahwa pilihan yang terbaik bagi negara besar maupun kecil adalah perdagangan bebas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: