F2 KOMPARATIF

RESUME
HUKUM KEUNGGULAN KOMPARATIF

Disusun Oleh:
II-F Administrasi Perpajakan
 Agus Dwi Atmoko (02)
 Agustina Chandrawati (03)
 Arif Pristiawan (06)
 Baktiarman Ramadhan (07)
 Galuh Dwi Cahyani (13)
 Irwansyah Putra Lubis (18)
 Nur Kholis Arifin (27)
 Puput Waryanto (28)
 Wenny Fitriansari (31)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
2008

BAB 2
HUKUM KEUNGGULAN KOMPARATIF

2.1 PENDAHULUAN
2.2 PANDANGAN MERKANTILIS MENGENAI PERDAGANGAN
Sebelum adanya Buku The Wealth of The Nation karya Adam Smith (1776) banyak pemikiran mengenai perdagangan internasional yang ditulis oleh para pedagang, bangkir, pegawai pemerintahan, bahkan filosof di berbagai negara yang memunculkan filosofi Merkantilisme. Merkantilis beranggapan bahwa untuk menjadi kuat dan besar sebuah negara harus meningkatkan jumlah ekspor sebanyak-banyaknya dan mengurangi impor serendah-rendahnya. Pembayaran perdagangan antar negara tersebut berupa emas batangan dan perak yang kemudian disimpan sebagai cadangan negara. Dengan emas dan perak tersebut sebuah negara bisa membiayai angkatan perangnya dan mempertahankan negaranya. Namun itu semua baru bisa dilakukan hanya dengan mengorbankan negara lain, sehingga selanjutnya muncul konflik kepentingan nasional.
Kaum merkantilis mengukur kekayaan suatu negara dengan jumlah cadangan emas dan perak suatu negara, namun sekarang kekayaan suatu negara dinilai berdasarkan cadangan sumber daya manusia, hasil produksi manusia, serta kekayaan alam yang tersedia untuk memproduksi barang dan jasa. Semakin besar hal ini maka semakin besar juga peredaran barang dan jasa suatu negara yang mengakibatkan meningkatnya standar hidup bangsa tersebut.
Kaum merkantilis berusaha agar pemerintah mengendalikan perekonomian ( nasionalisme ekonomi ). Merka percaya bahwa sebuah negara baru dapat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan negara lain( perdagangan adalah zaro-sum game ). Hal ini disebabkan oleh 2 hal yaitu pertama, pandangan Adam Smith, David Ricardo dan ekonom klasik lainnya hanya dapat dipahami dengan baik bila mereka dianggap sebagai terhadap kaum merkantilis dan peranan negara yang ketat. Kedua, saat ini ada kecenderungan munculnya neomerkantilisme yang disebabkan tingginya tingkat pengangguran . hal ini mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan restriksi terhadap impor untuk mendorong produksi domestik dan meningkatkan lapangan kerja. Kenyataan ini karena pada periode 1815 – 1914, tidak ada negara yang tidak terpengaruh oleh pemikiran merkantilisme.

2.3 Perdagangan Berdasarkan Keunggulan Absolut dari Adam Smith
2.3a Keunggulan Absolut
Menurut Adam Smith , perdagangan antara dua negara didasarkan pada keunggulan absolut. Jika sebuah negara lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolute terhadap) negara lain dalam memproduksi sebuah komoditi, namun kurang efisien dibanding (atau memiliki kerugian absolute terhadap) negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing-masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditi yang memiliki keunggulan absolut. Melalui proses ini, sumber daya di kedua Negara dapat digunakan dalam cara yang paling efisien. Output kedua komoditi yang diproduksi pun akan meningkat. Peningkatan dalam output ini akan mengukur keuntungan dari spesialisasi produksi untuk kedua negara yang melakukan perdagangan.
Sebagai contoh, berdasarkan iklim wilayahnya, Negara Kanada merupakan lahan yang efisien untuk menanam gandu, namun kurang efisien untuk menanam pisang. Di pihak lain, Nikaragua merupakan tempat yang baik untuk menanam pisang namun kurang baik (kurang efisien) untuk menanam gandum. Dengan demikian, Kanada memiliki keunggulan absolute terhadap Nikaragua dalam tanaman gandum, namun memiliki kerugian absolut dalam komoditi pisang. Hal sebaliknya terjadi di Nikaragua.
Dalam kasus ini, sebuah negara berperilaku tidak berbeda dengan seorang individu yang tidak ingin memproduksi semua komoditi yang diperlukannya. Individu pun biasanya hanya mampu memproduksi komoditi yang dapat ia produksi dengan lebih efisien, kemudian menukarkan sebagian outputnya tersebut dengan komoditi lain yang ia inginkan atau ia butuhkan. Melalui cara ini, total output semua individu dapat dimaksimalkan.
Adam Smith percaya bahwa semua negara dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan dan dengan tegas menyarankan untuk menjalankan kebijakan yang dinamakan laissez-faire, yaitu suatu kebijakan yang menyarankan sesedikit mungkin intervensi pemerintah terhadap perekonomian. Keyakinan Adam smith tersebut juga dikemukakan oleh para ekonom klasik berikutnya. Melalui perdagangan, sumber daya dunia dapat didayagunakan secara efisien dan dapat memaksimumkan kesejahteraan dunia.
Jika kita melihat pandangan Adam Smith ini, sangatlah bertentangan jika pada saat ini sebagian besar negara di dunia ternyata memberlakukan banyak sekali pembatasan terhadap arus bebas perdagangan intrnasional, khususnya karena didasari oleh kepentingan kesejahteraan nasional. Dalam kenyataan, pembatasan arus bebas perdagangan ini terutama dilakukan oleh seumlah industri dan para pekerja yang terancam dengan adanya impor. Harus pula dicatat bahwa teori Smith ini sangat disambut baik oleh para pemilik usaha (yang dapat membayar upah lebih rendah karena harga makanan impor yang lebih rendah dan merugikan para pemilik tanah di Inggris (karena makanan menjadi semakin langka akibat banyaknya barang impor yang lebih murah).

2.3b Ilustrasi mengenai Keunggulan Absolut
Perhatikan Tabel 2-1 berikut!
Komoditi Amerika Serikat Inggris
Gandum (karung per jam kerja)
Kain (meter per jam kerja) 6
4 1
5

Dari tabel tampak bahwa satu jam kerja dapat menghasilkan 6 karung gandum di Amerika Serikat (AS), tetapi hanya menghasilkan 1 karung gandum di Inggris. Di lain pihak, satu jam tenaga kerja dapat menghasilkan 5 m kain di Inggris, dan hanya 4 m kain di AS.
Jadi, AS lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut terhadap) Inggris dalam memproduksi gandum. Sementara itu, Inggris lebih efisien daripada (atau memiliki keunggulan absolut terhadap) AS dalam memproduksi kain. Jika keduanya melakukan perdagangan maka AS akan berspesialisasi dalam memproduksi gandum dan menukarkan sebagian gandum tersebut dengan kain di Inggris. Sementara itu, Inggris akan berspesialisasi dalam memproduksi kain.
Permasalahan adanya salah satu pihak yang lebih untung tidaklah penting pada saat ini. Hal yang penting adalah kedua negara dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi dalam produksi dan perdagangan.
Meskipun demikian, pada saat ini keunggulan absolut hanya dapat menjelaskan sebagian kecill saja dari perdagangan dunia, khususnya perdagangan antar negara-negara maju dan berkembang. Sebagian besar perdagangan dunia, terutama perdagangan antarnegara maju, tidak dapat dijelaskan dengan teori keunggulan absolut ini.
2.4 Perdagangan Berdasarkan Keunggulan Komparatif: David Ricardo
Hukum ini merupakan salah satu hukum perdagangan internasional yang paling penting dan merupakan hukum ekonomi yang masih belum mendapat tantangan dari berbagai aplikasi dalam praktik.
2.4a Hukum Keunggulan Komparatif
Menurut hukum keunggulan komperatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding (atau memiliki keunggulan absolut terhadap) negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, namun masih terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Negara pertama harus melakukan spesialiasasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian absolut lebih kecil (ini merupakan komoditi dengan keunggulan komparatif).
Perhatikan tabel 2-2 berikut!
Komoditi Amerika Serikat Inggris
Gandum (karung per jam kerja)
Kain (meter per jam kerja) 6
4 1
2

Pada tabel ini Inggris hanya diasumsikan hanya memproduksi 2 m (bukan 5 m seperti pada tabel 2-1) kain per jam kerja. Jadi, saat ini negara Inggris memiliki kerugian absolut dalam produksi baik pada gandum maupun pada kain dibanding Amerika Serikat.
Meskipun demikian, karena pekerja Inggris dapat memproduksi kain setengah kali dari kain yang diproduksi Amerika, sementara gandum hanya dapat diproduksi seperenam kali dari yang diproduksi Amerika, maka Inggris dikatakan memiliki keunggulan komparatif dalam kain. Di lain pihak Amerika memiliki keunggulan absolut baik dalam kain maupun gandum dibanding dengan Inggris. Namun, karena keunggulan absolut pada gandum lebih besar (6 : 1) dibanding kain (4 : 2) maka Amerika memilki keunggulan komparatif dalam gandum.
Menurut hukum keunggulan komparatif, kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan jika Amerika Serikat melakukan spesialisasi dalam produksi gandum dan mengekspor sebagian dari produksi gandum tersebut serta menukarnya dengan kain dari Inggris. (Pada saat yang sama, Inggris melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor kain)
Dalam konteks dua negara dan dua komoditi, jika salah satu negara telah ditetapkan memiliki keunggulan komparatif dalam satu komoditi, maka negara satunya harus dianggap memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi lainnya.
2.4b Keuntungan dari Perdagangan
Sejauh ini kita telah menyatakan keunggulan komperatif dalam kalimat dan dalam contoh numeris sederhana.Untuk membuktikan hukum tersebut, kita harus dapat memperlihatkan Amerika Serikat dan Inggris keduanya dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor komoditi yang memiliki keunggulan komperatif.
Kita ketahui bagi Amerika Serikat situasinya akan sama saja jika negara paman sam ini hanya menerima 4K dari Inggris dan menukarnya dengan 6G.Sama halnya bagi inggris situasinya akan sama saja jika dia harus melepaskan 2K untuk memeroleh 1G.
Komoditi Amerika Serikat Inggris
Gandum (karung per jam kerja)
Kain (meter per jam kerja) 6
4 1
2

Untuk menunjukkan bahwa kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan, misalkan Amerika Serikat dapat menukarkan 6G dengan 6K dari Inggris. Amerika Serikat kemudian dapat memperoleh keuntungan sebesar 2K ( atau menghemat ½ jam kerja).Inggris juga memperoleh keuntungan 6K ( atau menghemat 3 jam kerja) ingat bahwa 6G yang yang diterima Inggris dari Amerika akan memerlukan 6 jam untuk memproduksinya di dalam negeri, namun Inggris dapat menggunakan 6 jam ini untuk memproduksi 12K dan hanya menyerahkan 6K untuk memperoleh 6G dari Amerika.
Jadi, range untuk memperdagangkan yang saling menguntungkan adalah 4K < 6G < 12K.
2.4c Pengecualian terhadap Hukum Keunggulan Komparatif
Pengecualian terjadi jika kerugian absolut yang dimiliki oleh suatu negara pada kedua komoditi sama besarnya. Sebagai contoh, jika di Inggris 1 jam kerja dapat memproduksi 3G maka produktivitas Inggris dalam memproduksi kain dan gandum adalah setengahnya dari produktivitas Amerika. Kedua negara tidak akan memiliki keunggulan komparatif pada kedua komoditi tersebut sehingga tidak akan terjadi perdagangan yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.
Oleh karenanya diperlukan sedikit modifikasi terhadap pernyataan hukum keunggulan komparatif, yaitu sebagai berikut: meskipun sebuah negara memiliki kerugian absolut terhadap negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, masih terdapat pasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak, kecuali jika kerugian absolut (salah satu negara) pada kedua komoditi tersebut memiliki proporsi yang sama . Pengecualian ini jarang sekali terjadi didunia nyata , kalaupun tejadi mungkin hanya bersifat kebetulan.

2.4d Keunggulan Komparatif dalam Nilai Uang
Dalam hukum keunggulan komparatif, meskipun salah satu negara(misalnya Inggris) memiliki kerugian absolute dalam produksi kedua komoditi dibanding negara kedua (misalnya Amerika Serikat), namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan. Hal ini dapat terjadi jika upah di negara Inggris lebih rendah dibanding di Amerika, sehingga memungkinkan harga kain (komoditi yang memiliki keunggulan komparatif di Inggris) yang lebih rendah pula, dan harga gandum lebih rendah di Amerika ketika kedua komoditi tersebut dinyatakan dalam satuan mata uang masing-masing Negara.

2.5 Keunggulan Komparatif dan Biaya Oportunitas
David Ricardo mendasarkan hukum keunggulan komparatifnya pada sejumlah asumsi yang disederhanakan, yaitu:

1. hanya terdapat dua Negara dan dua komoditi
2. perdagangan bersifat bebas
3. terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam Negara namun tidak ada mobilitas antara dua negara
4. biaya produksi konstan
5. tidak terdapat biaya transportasi
6. tidak ada perubahan teknologi
7. menggunakan teori nilai tenaga kerja

2.5a Keunggulan Komparatif dan Teori Nilai Tenaga Kerja
Menurut teori nilai tenaga kerja, nilai atau harga sebuah komoditi tergantung dari jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk membuat komoditi tersebut. Secara lebih spesifik, tenaga kerja bukanlah satu-satunya faktor produksi. Penggunaannya juga tidak dilakukan dalam proporsi yang tetap dan dalam jumlah yang sama pada semua komoditi. Misalnya, diperlukan lebih banyak peralatan mesin per pekerja dalam memproduksi sebuah komoditi dibanding dalam memproduksi komoditi lain. Selain itu, selalu terdapat kemungkinan dilakukannya subtitusi di antara tenaga kerja, barang-barang modal, dan faktor-faktor produksi lainnya dalam memproduksi berbagai komoditi. Selanjutnya, tenaga kerja tidak bersifat homogen karena berbeda-beda dalam pendidikan, produktivitas, dan upah yang diterimanya. Perbedaan produktivitas inilah yang digunakan dalam pengujian empiris terhadap teori keunggilan komparatif dari Ricardo. Dalam peristiwa apapun, teori keunggulan komparatif tidak perlu didasarkan pada teori nilai tenaga kerja, namun dapat diterangkan berdasarkan teori biaya oportunitas.

2.5b Teori Biaya Oportunitas
Biaya sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk memperoleh sumber daya yang cukup untuk memproduksi satu unit tambahan komoditi pertama. Di sini diasumsikan tenaga kerja bukan satu-satunya faktor produksi. Konsekuensinya, negara yang memiliki biaya oportunitas lebih rendah dalam memproduksi sebuah komoditi akan memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi pertama (dan memiliki kerugian komparatif dalam komoditi yang kedua).

2.5c Batas Kemungkinan Produksi pada Biaya Konstan

Amerika Serikat Inggris
Gandum Kain Gandum Kain
180 0 60 0
150 20 50 20
120 40 40 40
90 60 30 60
60 80 20 80
30 100 10 100
0 120 0 120

Kurva batas kemungkinan produksi (production possibility frontier) adalah sebuah kurva yang memperlihatkan berbagai alternatif kombinasi dua komoditi yang dapat diproduksi oleh sebuah negara dengan menggunakan semua sumber dayanya dengan teknologi yang terbaik yang dimilikinya.

Titik-titik di dalam atau di bawah batas kemungkinan produksi juga merupakan titik-titik yang mungkin untuk memproduksi, namun dengan cara yang tidak efisien. Sedangkan titik-titik di atas batas kemungkinan produksi tidak dapat diproduksi dengan sumber daya dan teknologi yang dimiliki negara tersebut. Garis batas yang berbentuk garis lurus artinya biaya oportunitasnya konstan.
Biaya oportunitas yang konstan timbul ketika:
1. Sumber daya atau faktor produksi bersifat substitusi sempurna atau digunakan dalam proporsi yang sama dalam memproduksi kedua komoditi.
2. Semua unit dari faktor produksi yang sama bersifat homogen atau memiliki kualitas yang sama.
Sebenarnya konsep biaya konstan tidaklah realistis. Biaya konstan hanya sebagai pengantar mudah untuk membahas kasus yang lebih realistis

2.5d Biaya Oportunitas dan Harga Komoditi Relatif
Telah diketahui bahwa biaya oportunitas gandum sama dengan jumlah kain yang harus dikorbankan negara untuk dapat memperoleh sumber daya yang cukup guna dapat memproduksi tambahan satu unit gandum. Hal ini diberikan oleh kemiringan (absolut) dari garis batas kemungkinan produksi, atau kurva transformasi, dan kadang disebut sebagai tingkat transformasi marginal (marginal rate of transformation).
Gambar 2-1 memperlihatkan bahwa kemiringan (absolut) kurva transformasi Amerika adalah 120/180 = 2/3 biaya oportunitas gandum di Amerika Serikat yang besarnya tetap konstan. Kemiringan kurva transformasi Inggris adalah 120/60 = 2 = biaya oportunitas gandum di Inggris yang besarnya tetap konstan. Berdasarkan asumsi bahwa harga sama dengan biaya produksi dan bahwa negara memproduksi gandum maupun kain, biaya oportunitas gandum sama dengan harga gandum relatif terhadap harga kain (P G/P K). Perhatikan bahwa pada biaya konstan, P G/P K ditentukan secara eksklusif oleh sisi produksi, atau penawaran, di setiap negara. Sisi permintaan sama sekali Belem dipertimbangkan dalam penentuan harga komoditi relatif.
Kesimpulannya, bahwa perbedaan harga komoditi relatif antara dua negara (ditunjukkan oleh perbedaan kemiringan pada kurva transformasi mereka) merupakan refleksi dari keunggulan komparatif mereka dan memberikan dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua pihak.
2.6 Dasar dan Keuntungan Perdagangan pada Biaya Konstan
Dalam situasi tanpa perdagangan, sebuah negara hanya dapat mengonsumsi komoditi-komoditi yang diproduksinya saja. Akibatnya, batas kemungkinan produksi negara tersebut juga menggambarkan batas konsumsinya.
2.6a Ilustrasi Keuntungan dari Perdagangan
Dalam situasi tanpa perdagangan, Amerika Serikat memproduksi dan mengonsumsi pada titik A dan Inggris pada titik A’. Dengan perdagangan, Amerika melakukan spesialisasi dalam memproduksi gandum dan memproduksi pada titik B, sementara Inggris melakukan spesialisasi dalam produksi kain dan memproduksi pada titik B’. Dengan menukarkan 70G untuk memperoleh 70K dari Inggris, Amerika Serikat akan mencapai konsumsi pada titik E (dan memperoleh keuntungan sebesar 20G dan 10K), sementara Inggris akan sampai pada tingkat konsumsi di titik E’ (dan memperoleh keuntungan 30G dan 10K).

2.6b Harga Komoditi Relatif dengan Adanya Perdagangan

Keseimbangan harga komoditi relatif dari permintaan dan penawaran dapat dilihat dari kurva di atas. Pada kurva sebelah kiri, SW(US+UK) merupakan kurva penawaran gandum gabungan dari Amerika dan Inggris. Kurva ini memperlihatkan bahwa Amerika dapat memproduksi maksimum 180W = 0B pada Pw / Pc = 2/3, sedangkan Inggris dapat memproduksi maksimum 60W = BB’ pada Pw / Pc = 2. Kurva DW(US+UK) merupakan kuva permintaan gabungan terhadap gandum dari Amerika dan Inggris. Kedua kurva ini saling memotong di titik E dan menghasilkan kuantitas keseimbangan pada 180W (yang semuanya diproduksi di Amerika) dan harga keseimbangan pada Pw/Pc = 1. Kurva sebelah kanan memperlihatkan keseimbangan untuk komoditi kain pada perpotongan kurva permintaan DC(UK+US) dengan kurva penawaran SC(UK+US) pada titik E’ dengan kuantitas keseimbangan sebesar 120C (yang semuanya diproduksi di Inggris) dan harga keseimbangan Pc/Pw = 1.
2.7 Pengujian Empiris Model Ricardo
Pengujian empiris pertama terhadap model perdagangan David Ricardo dilakukan oleh MacDougall pada tahun 1951 dan 1952 dengan menggunakan data tahun 1937. Hasil yang diperoleh dari pengujian tersebut menunjukkan bahwa industri-industri yang memiliki produktivitas tenaga kerja relatif lebih tinggi di Amerika dibandingkan Inggris, adalah industri yang memiliki rasio ekspor Amerika terhadap Inggris yang lebih tinggi ke negara-negara lainnya. Hasil ini didukung pula oleh Bela Ballasa dengan menggunakan data tahun 1950, dan oleh pengujian Stern yang menggunakan data 1959. Dengan demikian, dapat dilihat bahwa keunggulan komparatif nampaknya memang didasarkan pada perbedaan dalam produktivitas tenaga kerja seperti yang dikemukakan David Ricardo. Meskipun demikian, nampaknya model perdagangan David Ricardo tidak menjelaskan alasan timbulnya perbedaan produktivitas tenaga kerja di berbagai negara. Teori ini juga menjelaskan mengenai pengaruh perdagangan internasional terhadap pendapatan yang diperoleh faktor produksi.

LAMPIRAN

Keunggulan Komparatif Pada Situasi Lebih dari Dua Komoditi
Jika hanya ada dua negara dalam perdagangan internasional, untuk menentukan komoditi mana yang akan diimpor dan diekspor oleh kedua negara tersebut, terlebih dahulu kita harus menilai semua harga komoditi tersebut dalam satuan mata uang yang sama. Setelah komoditi tersebut dinilai dalam satuan mata uang yang sama, kita bandingkan harga suatu jenis komoditi di dua negara tersebut. Suatu negara cenderung akan mengekspor komoditi yang harganya lebih murah dibandingkan harga di negara lain dan akan mengimpor komoditi yang harganya lebih mahal dibandingkan di negara lain. Jika harga suatu komoditi sama dikedua negara, komoditi tersebut hanya akan dipakai sendiri oleh kedua negara tanpa melakukan perdagangan untuk komoditi tersebut.
Sebagai contoh pada tabel tedapat harga lima komoditas pada dua negara.
Komoditi Harga di Negara X ($) Harga di Negara Y (£)
A 2 6
B 4 4
C 6 3
D 8 2
E 10 1
Jika 1£ = 2 $, maka harga komoditi di negara Y adalah:
Komoditi Harga di Negara Y ($)
A 12
B 8
C 6
D 4
E 2
Harga komoditi A dan B di negara X lebih rendah daripada di negara Y, harga komoditi C sama dikedua negara, sementara harga Komoditi D dan E lebih tinggi di negara X daripada di negara Y. Hal ini akan mengakibatkan negara X akan mengekspor komoditi A dan B ke negara Y dan akan mengimpor komoditi D dan E dari negara Y. Sedangkan komoditi C tidak akan diperdagangkan.

Keunggulan Komparatif dalam Situasi Lebih dari Dua Negara
Misalkan kita memiliki dua komoditi (gandum dan kain) dan lima negara (A, B, C, D, dan E). Tabel 2-7 mengurutkan negara-negara ini dari mulai yang memiliki nilai PG/PK internal terendah sampai tertinggi. Dengan adanya perdagangan, keseimbangan PG/PK akan terbentuk di antara 1 dan 5. Yaitu, 1 < PG/PK < 5.

Negara A B C D E
PG/PK 1 2 3 4 5

Jika dengan perdagangan, keseimbangan PG/PK adalah 3, maka negara A dan B akan mengekspor gandum ke negara D dan E untuk ditukarkan dengan negara lain. Dalam kasus ini, negara C tidak akan ikut serta dalam perdagangan internasional karena harga PG/PK sebelum perdagangan sama dengan keseimbangan PG/PK setelah perdagangan.
Jika keseimbangan PG/PK dalam perdagangan adalah 4, maka negara A, B, dan C akan mengekspor gandum ke E untuk ditukar dengan kain, sedangkan negara D tidak ikut serta dalam perdagangan. Jika keseimbangan PG/PK = 2 dengan adanya perdagangan, maka negara A akan mengekspor gandum ke semuanegara lainnya, kecuali ke negara B, untuk ditukarkan dengan kain.
Generalisasi analisis ke terlalu banyak komoditi dan negara pada saat yang sama tidaklah praktis dan memang tidak perlu. Hal paling penting pada saat ini adalah bahwa kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan berdasarkan model sederhana mengenai dua komoditi dua negara dapat digeneralisasi dan jelas dapat diterapkan ke kasus banyak negara dan banyak komoditi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: