PSYCHOLOGY FORENSIC

M O D U L PSIKOLOGI FORENSIK AUDIT

DIGUNAKAN UNTUK DIKLAT FUNGSIONAL PEMBENTUKAN AUDITOR

O L E H : DRS. HARRY WALUYA, MM. / NIP.060042717

IV/C/WIDYAISWARA MADYA

 

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN UMUM

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN

JAKARTA DESEMBER 2008


Dasar-dasar Tehnik Audit Investigasi

3.1.Uraian dan Contoh

3.1.1.Forensik Audit

Forensik audit sudah lama ada, tetapi praktik forensik audit berkembang pesat ketika krisis ekonomi 1997 dimana tingkat korupsi menduduki peringkat tertinggi diantara negara-negara ASEAN. Istilah forensik audit muncul jika bersinggungan dengan bidang hukum dimana hasil audit investigatif dapat digunakan dalam proses penyelesaian hukum pengadilan lainnya.

Dengan audit investigasi, Forensik Audit dapat mengungkap kasus-kasus kejahatan korupsi dan hasil-hasilnya tindak pidana keuangan, dan kejahatan kerah putih lainnya. Tahapan audit investigasi terdiri dari pengumpulan data, analisis bukti dan membuat laporan bukti-bukti sebagai kelengkapan pembuktian di pengadilan. Forensik audit juga banyak menggunakan teknik dan metode dan terus menerus mengupdate perkembangan teknik dan metode didalam melakukan forensik audit.

 

3.1.2.Dasar-dasar Audit Investigasi

1.Teknik audit sebagaimana biasanya yang diterapkan dalam audit umum meliputi:

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>pemeriksaan fisik

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>konfirmasi

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>memeriksa dokumen

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>review analitikal

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>meminta penjelasan tertulis atau lisan kepada auditan

<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>menghitung kembali

<!–[if !supportLists]–>g. <!–[endif]–>mengamati wilayah dalam audit investigatif.

2.Audit investigatif

Audit investigasi adalah teknik-teknik audit yang dilakukan secara eksploratif, oleh auditor investigator yang mampu berfikir analitis dan menguasai gambaran besarnya terlebih dahulu, sebelum mencari wilayah garapan yang mendalam.

 

3.Review analitikal

menekankan pada penalaran, proses berfikirnya. Dengan penalaran yang baik, akan membawa seorang auditor investigator pada gambaran yang utuh mengenai wajar, layak, atau pantasnya suatu data individual disimpulkan telah melakukan kejahatan.

Review analitikal didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi dengan apa yang layaknya harus terjadi. Jika terjadi kesenjangan harus dicari jawabannya apakah karena pelanggaran pidana, kesalahan, kelalaian, atau salah merumuskan standar.

4.Teknik audit investigasi tanpa bukti dokumen

Selain teknik audit yang biasa digunakan dalam audit umum, ada beberapa teknik audit investigatif yang bisa diterapkan apabila tidak ditemukan bukti dokumen.

<!–[if !supportLists]–>a. <!–[endif]–>Net worth method dan

<!–[if !supportLists]–>b. <!–[endif]–>expenditure method adalah teknik audit untuk menelusuri ketidakwajaran penghasilan dan atau pola konsumsi pelaku tindak pidana.

5. Follow the money

Teknik lain adalah dengan menelusuri aliran uang (follow the money) yang selama ini dilakukan oleh PPATK. Meski hampir selalu bersinggungan dengan hukum, bukan berarti akuntansi forensik ini melulu atas permintaan aparat penegak hukum. Pada dasarnya siapapun bisa meminta digelarnya audit forensik, mulai dari masalah perceraian, konflik premi asuransi, gugatan perdata, hingga penilaian terhadap kinerja perusahaan.

3.1.3. Keberdayaan Ti dan Toleransi

Tak ada alasan bagi auditor untuk menjadi gentar menghadapi pelaku kriminal.

Begitu ada Ti yang baru, setiap users harus belajar dan belajar lagi. Tanpa mengurangi artinya bahwa auditor juga selalu tertinggal kemajuan teknologi. Ketika akan melakukan pemeriksaan, audit hanya terpaku pada efektivitas jaringan TI, terutama pada instansi sebesar manajemen yang maju organisasinya seperti Bank Indonesia atau BUMN.

Organisasi sebesar BI atau BUMN mempekerjakan tenaga ahli Ti dan terlebih dahulu melakukan studi kelayakan, menetapkan spesifikasi teknisnya, memperhitungkan benefit dan cost, kemudian pengadaannya ditenderkan. Modul pemeriksaan auditor pasti hanya mencocokan dimanakah penyimpangan dari rencana, harga dan spesifikasinya.

Auditor tidak perlu terkagum-kagum terhadap Ti, tetapi lihatlah mengapa vendor memenangkan tender ? Mungkinkah tender didukung kelengkapan dokumen dan memang rapih, apakah tidak dilakukan oleh satu orang saja ? Terkadang, kegiatan audit terhadap Ti terhalang oleh kegiatan yang dianggap strategis, sehingga audit merasa dirinya mengganggu stabilitas. Akhirnya, sepanjang besar manfaatnya, maka sedikit banyaknya penyimpangan dari Ti menjadi dapat dimaklumi, yang seharusnya organisasi besar itu menyadari bahwa pengadaan Ti juga tidak terlepas dari bebas KKN.

Seorang, audit harus berfungsi ganda, selain berfungsi sebagai pemeriksa, auditor juga harus bisa memberi contoh bagaimana mengoperasikan dan menggunakan TI dengan seefektif mungkin ? Akhirnya, rata-rata aktivitas organisasi / badan usaha di Indonesia mengakui bahwa penggunaan Ti masih sangat rendah. Penggunaan Ti hanya sebatas microsoft office saja, hal ini karena SDM ahli Ti juga langka dan mahal, sehingga Ti belum office otomation. Rapat Koordinasi/Seminar dengan BIN/KPK/PPATK, dimana kepolisian sebagai anggotanya, dan Itjen/kejaksaan, hanya sampai pada rumusan mata diklat, sedangkan detil SAP/GBPPnya belum. Dikatakan hanya mengetahui kulitnya saja, sedangkan isinya belum siap tersaji.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: