G6 HAK X-M

DEPARTEMEN KEUANGAN RI
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

RESUME
Hak dan Kewajiban Importir dan Eksportir
dan
Transaksi Ekspor Impor

Mata Kuliah : Ekspor Impor
Dosen : Harry Waluya

Disusun Oleh:
II-G Administrasi Perpajakan

 Alfian Cahya Gumilang (03)
 Muhammad Valid S. R. (22)
 Rizqi Dharmawan (25)
 Sindhu Purnomo Aji (29)

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
2008

Resume BAB XI
Hak dan Kewajiban
Importir dan Eksportir

A. DEFINISI EKSPOR DAN IMPOR
Sebelum mengetahui apa hak dan kewajiban importer dan eksportir, alangkah lebih baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu ekspor dan impor.
Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Pelaku ekspor dinamakan Eksportir.
Impor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses impor umumnya adalah tindakan memasukan barang atau komoditas dari negara lain ke dalam negeri. Impor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Pelaku Impor disebut pula Importir.

B. HAK DAN KEWAJIBAN EKPORTIR DAN IMPORTIR
 Eksportir
Kewajiban: melakukan penyerahan barang
Hak: menerima pembayaran
 Importir
Kewajiban: melunasi harga pembayaran
Hak: menuntut penyerahan barang

C. FAKTOR-FAKTOR / KENDALA DALAM TRANSAKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL
1. Letak geografis berjauhan
2. Batas kenegaraan
3. Mata uang
4. Peraturan pemerintah yang terdapat di setiap negara di bidang perdagangan internasional

D. CARA-CARA PEMBAYARAN LUAR NEGERI
1. Pembayaran di muka (advance payment)
Bila importir memiliki devisa dollar maka importir dapat melakukan pembayaran, tunai dimuka kepada eksportir sebelum barang tiba. risikonya barang tiba tidak sesuai order mengganggu cash flow importir bagi eksportir tak perlu modal kerja.
 Kontrak jual beli (sales contract)
 Surat pesanan yang diterima penjual (eksportir) dari pembeli (importir)
 Keuntungan eksportir
 Kerugian importir – risiko
 Para pihak saling mengenal, percaya
 Pembelian jumlah relatif kecil atau nilai kecil

2. Wesel inkaso (collection draft)
 Penjual menyerahkan barang lebih dahulu
 Pembeli memenuhi pembayaran atas wesel yang diterbitkan oleh penjual/beneficiary setelah dokumen diterbitkan dokumen-dokumen dikirimkan oleh penjual (setelah wesel yang diterbitkan oleh penjual diakseptasi oleh importir)
 Keuntungan pembeli
 Kerugian penjual
 Apabila pembeli tidak mau mengambil alih dokumen dari bank koresponden, penjual akan mengalami kesukaran untuk mengurus barang-barang
 Saling percaya

3. Perhitungan kemudian (open account)
Bila eksportir mengirim barang kepada importir tanpa menuntut pembayaran pada saat itu. Bila barang sudah terjual, importir melakukan pembayaran barang sesuai order agent / importir resikonya bila importir menunda pembayaran
 Perhitungan kemudian
 Memindahkan rekening importir ke dalam rekening eksportir (pembayaran akan dilakukan di kemudian hari pada tanggal yang ditentukan, setelah barang dikirimkan)
 Keuntungan importir
 Sesudah penerimaan dokumen, importir bebas mengeluarkan barang di pelabuhan dan pembayaran dapat dibayar di kemudian hari
 Kerugian eksportir
 Saling percaya
 Eksportir dan importir punya hubungan induk-anak perusahan

4. Konsinyasi
 Eksportir tetap memegang hak milik atas barang
 Eksportir setuju pembayaran baru dilakukan kalau barang telah laku terjual di negara importir
 Sebelum barang terjual, importir boleh mengembalikan barang setiap waktu tanpa kewajiban membayar dan atas biaya eksportir
 Keuntungan importir
 Kerugian eksportir
5. Merchant L/C
 Importir membuka L/C untuk kepentingan eksportir
 Tanpa campur tangan bank
 Pembukanya bukan bank
 Bank hanya perantara penyampaian dokumen

6. Letter of Credit (Penarikan Wesel)
Dalam perdagangan internasional, sistem pembayaran dengan menggunakan Letter of Credit (atau disingkat L/C) adalah sistem yang paling baik dan fair baik bagi eksportir maupun importir. L/C merupakan sistem yang paling lazim digunakan para eksportir dan importir karena dalam pelaksanaan L/C, semua pihak, termasuk bank, hanya berurusan dengan dokumen, bukan dengan barang, jasa, atau pelaksanaan lainnya yang berkaitan dengan dokumen bersangkutan. Dengan menggunakan L/C para pihak mendapatkan perlakuan fair, karena kepemilikan atas barang yang diperdagangkan baru dapat berpindah tangan jika semua pihak telah memenuhi kewajibannya.

A. Definisi-Definisi dalam Transaksi Letter of Credit
Pengertian L/C
 Letter of Credit
Surat yang dikeluarkan oleh suatu bank (bank devisa) atas permintaan dari importir (nasabah/langganan bank tersebut) ditujukan negeri (relasi importir) memberi hak kepada eksportir untuk menarik wesel atas importir bersangkutan untuk sejumlah uang yang disebutkan dalam surat itu, bank yang bersangkutan menjamin untuk mengaksep wesel atau menguangkan wesel yang ditarik asal memenuhi syarat yang tercantum dalam surat
 Wesel/ Draft / Bill of Exchange
Perintah tertulis tanpa syarat yang ditujukan oleh yang mengeluarkan perintah (drawer), kepada orang lain(drawee), untuk melakukan pembayaran sejumlah uang kepada pemegang wesel pada waktu yang telah ditentukan
Pada umumnya L/C digunakan untuk membiayai penjualan barang/jasa jarak jauh antara eksportir dan importir.
Definisi L/C menurut CFG Sunaryati Hartono : ”Secara harfiah L/C dapat diterjemahkan sebagai Surat Hutang atau Surat Piutang atau Surat Tagihan, tetapi sebenarnya L/C lebih merupakan janji akan dilakukan pembayaran,apabila dan setelah terpenuhi syarat-syarat”
Bank Indonesia memberikan definisi mengenai L/C sbb :
”Letter of Credit adalah janji dari issuing bank untuk membayar sejumlah uang kepada eksportir sepanjang ia dapat memenuhi syarat dan kondisi Letter of Credit tersebut”
Sedangkan menurut Uniform Customs and Practice for Documentary Credit, ICC Publication No. 500 tahun 1993 (UCP 500), definisi L/C adalah : ”Setiap perjanjian, apapun namanya atau maksudnya, dimana suatu bank (Issuing Bank atau bank penerbit) bertindak atas permintaan dan instruksi seorang nasabah (Applicant/pembuka) atau atas namanya sendiri, untuk melakukan pembayaran kepada pihak ketiga atau kuasanya (orang yang ditunjuk oleh beneficiary/penerima L/C) atau memberikan kuasa kepada bank lain untuk melakukan pembayaran, atau untuk mengaksep dan membayar bill of exchange/wesel, atau memberi kuasa kepada bank lain untuk menegosiasi atas penyerahan dokumen-dokumen yang ditetapkan, asalkan memenuhi persyaratan dan kondisi L/C”

B. Dasar Hukum L/C
 Dasar hukum: Uniform Custom and Practice for Documentary Credits(UCP 500)
 Klasifikasi:
a) SKB Dalam Negeri (Domestic Documentary Letter of Credit) –SK Dir BI No. 27/38/Kep/Dir tanggal 30 Juni 1994 jo. SK Dir BI No. 29/150/Kep/Dir tanggal 31 Desember 1996
b) SKB Antar Negara (International Documentary Letter of Credit)
 Cara-cara pelaksanaan pembayaran dalam negeri: tunai, surat berharga: cek, wesel, surat sanggup / promes, bilyet giro, surat berharga komersial/commercial paper, dan L/C Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN)

C. Jenis-Jenis L/C
L/C menurut Sifatnya
a) Revocable L/C: L/C yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali/dibatalkan oleh opener atau opening bank tanpa persetujuan dari beneficiary.
b) Irrevocable L/C: L/C yang tidak bisa dibatalkan selama jangka waktu berlakunya (expiration date atau time of validity) yang ditentukan dalam L/C tersebut dan opening bank tetap menjamin.
c) Confirmed Irrevocable L/C.
 pembayaran dijamin sepenuhnya oleh opening bank maupun advising bank apabila semua persyaratan dipenuhi.
 tidak mudah dibatalkan karena sifatnya yang irrevocable dianggap paling aman dan sempurna

L/C menurut persyaratannya
a) Open (Clean) L/C : tidak dicantumkan persyaratan lain untuk penarikan suatu wesel (dengan kwitansi biasa)
b) Documentary L/C: harus dilengkapi dengan dokumen lain sebagaimana disebutkan dalam L/C.
c) Documentary L/C dengan Red Clause: kombinasi dari open L/C dan documentary L/C.
 Terdapat sebagian tertentu dari jumlah L/C yang tersedia dengan penyerahan kwitansi biasa (disebut dengan Red Clause) sehingga dapat ditarik oleh beneficiary dan sisanya dapat ditarik dengan melengkapi dokumen yang disyaratkan.
 Misalnya: Penetapan dengan persentase, Red Clause 30%. Red Clause ini adalah pembayaran di muka oleh opener kepada beneficiary yang dipergunakan untuk mengadakan persiapan-persiapan untuk memulai suatu transaksi.
d) Revolving L/C : kredit yang tersedia dipakai ulang tanpa mengadakan perubahan syarat khusus, dengan ditentukan batas maksimal penarikan.
Misalnya: US$15,000 per bulan, untuk validity 6 (enam) bulan. Artinya: secara otomatis akan tersedia dana sejumlah tersebut di atas sel ama 6 (enam) bulan.
Ada 2 (dua) macam Revolving L/C yaitu cumulative dan non cumulative
Misalnya:
 Cumulative: setiap jumlah yang tidak terpakai dalam bulan terdahulu masih dapat digunakan dalam bulan berikutnya.
 Noncumulative: jumlah yang tidak digunakan pada bulan yang lalu menjadi batal (tidak carry over).
e) Back to back L/C: penerima L/C atau beneficiary biasanya adalah perantara dan bukan pemilik barang. L/C dari luar negeri (negara opener) menjadi jaminan untuk membuka L/C dari negara perantara ke negara pemilik barang sebenarnya. L/C ini biasanya terjadi dalam perdagangan transito maupun perdagangan segitiga.
 Misalnya: Importir Indonesia membuka L/C pada pengusaha Singapura untuk mengimpor barang dari Jepang. Artinya: Pengusaha Singapura membuka L/C di Singapura ke Jepang dengan menjaminkan L/C dari importir Indonesia
f) Red Clause Letter Of Credit
Adalah suatu klausula yang memuat makna anti cipatory yaitu menyangkut sesuatu hal yang sifatnya didahulukan. Adapun yang didahulukan disini adalah pembayaran atas L/C oleh bank yang dilakukan sebelum dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan. Atas dasar inilah maka red clause L/C termasuk dalam golongan yang disebut anti cipatory credit.
g) Green Ink Clause Letter Of Credit
Green ink clause letter of credit hampir serupa dengan red clause L/C, yakni juga memberikan uang muka kepada beneficiary sebelum pengapalan barang-barang dilakukan.
h) Revolving Letter Of Credit
Dalam suatu kegiatan perdagangan luar negeri antara penjual dan pembeli sering terjadi serentetan transaksi secara kontinyu dan teratur baik waktu maupun jumlah. Adapun cara pembayarannya dapat dilakukan dengan pembukaan L/C seperti yang telah diutarakan di atas untuk masing-masing transaksi.
i) Stand by Letter Of Credit
Suatu jaminan khusus yang biasanya dipakai sebagai “stand by” oleh pihak beneficiary atau bank atas nama nasabahnya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan suatu kontrak atau gagal untuk membayar pinjaman atau memenuhi pinjaman lain bank yang bersangkutan akan membayar kepada beneficary atas penyerahan selembar sight draft dan surat pernyataan dari beneficiary, yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak dapat melaksanakan kontrak yang disetujui, membayar pinjaman atau memenuhi kewajiban lain itu.
D. Keuntungan L/C
 Keuntungan L/C bagi eksportir (Amir M.S., 1999:77)
1) Kepastian pembayaran dan menghindari risiko non-payment
2) Penguangan dokumen bisa langsung dilakukan
3) Biaya bank relatif kecil
4) Terhindar dari risiko pembatasan devisa
5) Kemungkinan memperoleh kredit tanpa bunga
 Keuntungan L/C bagi importir (Ibid):
1) Nama baik dan reputasi bank berpengaruh baik pada bonafiditas importir di mata eksportir.
2) L/C sebagai jaminan bagi importir bahwa dokumen akan diterima dalam keadaan lengkap dan utuh untuk diteliti oleh bank.
3) Importir dapat mencantumkan syarat-syarat pengamanan dalam L/C.

E. Akibat / Konsekuensi Penggunaan L/C
1) Bank devisa yang bersangkutan telah mengikatkan diri untuk menyetujui melakukan pembayaran setiap wesel yang ditarik atas L/C asalkan memenuhi persyaratan yang ditentukan atau yang dilengkapi dengan shipping document
2) Penyimpangan dari persyaratan dapat dijadikan alasan bagi bank untuk tidak mengaksep wesel yang ditarik oleh eksportir atau menolak L/C, misalnya: kesalahan tulis/ketik/tidak teliti
3) Bank harus meneliti kebenaran persyaratan dokumen (in strict conformity with the terms and conditions stated in the L/C concerned). Apabila ada kesalahan maka diadakanlah pembetulan atau perubahan. Alternatif lain adalah eksportir memberikan surat jaminan (Letter of Guarantee atau Letter of Indemnity) kepada bank atas kemungkinan klaim yang akan diajukan oleh importir
4) Pencantuman transferable L/C
5) Syarat partial shipment allowed, yaitu hak eksportir untuk mengirimkan barang secara bertahap
6) Syarat transhipment, yaitu pemindahan muatan dari satu kapal ke kapal yang lain sebelum sampai di tujuan, karena (rute) kapal pertama tidak singgah di pelabuhan tujuan

F. KELEMAHAN CARA LAIN SELAIN L/C
1. Cara-cara pelaksanaan pembayaran luar negeri (Amir M.S. 1996:36):
a) tunai
b) rekening terbuka
c) L/C
2. Kelemahan tunai dan rekening terbuka (Amir M.S., 1996:36):
a) Pembayaran oleh importir lebih dulu sehingga risiko importir besar (tunai)
b) Eksportir yang lokasinya jauh (tunai)
c) Bonafiditas eksportir yang tidak diketahui sepenuhnya oleh importir (tunai)
d) Pengirimman oleh eksportir lebih dulu sehingga risiko eksportir besar (rekening terbuka)

G. BANK DEVISA
1. Pengertian
Bank devisa adalah bank yang memperoleh surat penunjukan dari Bank Indonesia untuk dapat melakukan kegiatan usaha perbankan dalam valuta asing. Bank devisa dapat menawarkan jasa-jasa bank yang berkaitan dengan mata uang asing tersebut seperti transfer keluar negeri, jual beli valuta asing, transaksi eksport import, dan jasa-jasa valuta asing lainnya.
2. Syarat
Syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum suatu bank non devisa dapat diberikan izin untuk menjadi bank devisa, antara lain:
a) CAR minimum dalam bulan terakhir 8%;
b) tingkat kesehatan selama 24 bulan terakhir berturut-turut tergolong sehat;
c) modal disetor minimal Rp.150 miliar;
d) bank telah melakukan persiapan untuk melaksanakan kegiatan sebagai Bank Umum
Devisa meliputi: organisasi, sumber daya manusia, pedoman operasional kegiatan devisa.

3. Fungsi Bank Sebagai Perantara Pembayaran Luar Negeri
Dalam aktifitas perdagangan internasional baik dari segi ekspor maupun impor ternyata fungsi bank sangatlah penting, terutama fungsi sebagai perantara di bidang pelaksanaan teknis pembayaran luar negeri.
Untuk menjalankan tugas perantara dalam transaksi perdagangan internasional yang dimaksud, suatu bank tentu saja tidak akan dapat bekerja sendiri dan hal ini kiranya tidaklah mungkin apabila bank yang bersangkutan memang menginginkan tugasnya sebagai perantara harus berhasil baik. Untuk itu maka bank-bank tersebut harus mengadakan hubungan koresponden dengan bank-bank di luar negeri terutama dengan bank-bank prima yakni bank-bank yang dalam dunia perbankan dan perdagangan internasional tidak diragukan lagi bonafiditasnya serta moral dan financial standingnya. Oleh karena bank-bank di luar negeri tersebut seolah-olah merupakan agen dari bank yang bersangkutan, maka hubungan dimaksud sering dikenal dengan sebutan Agency Arrangement yang mengatur tentang caa-cara penyelesaian sehubungan dengan kepentingan-kepentingan yang menyangkut kegiatan bank masing-masing.
Di sinilah kiranya letak fungsi penting dari pada bank sebagai perantara dalam pembayaraan luar negeri, disamping untuk mempercepat dan mempermudah pelaksanaannya, hubungan koresponden yang demikian berarti adanya pemakaian jasa-jasa dari bank luar negeri, juga dapat memberikan keuntungan kepada bank-bank yang telah menunjuknya sebagai bank koresponden atas dasar prinsip resiprositas.
Dilihat dari sifatnya, suatu hubungan koresponden antara bank-bank di Indonesia dengan bank-bank di luar negeri dapat dilakukan dengan 3 macam cara:

a) Depository Correspondent
Yaitu suatu hubungan antara bank dengan bank di luar negeri dimana bank yang bersangkutan memelihara rekening pada bank luar negeri tersebut.
b) Non Depository Correspondent
Yaitu suat hubungan antara bank dengan bank di luar negeri dimana bank yang disebut pertama tidak memelihara rekening pada bank di luar negeri itu.
c) One Side Correspondent
Yaitu suatu hubungan antara bank dengan bank di luar negeri tanpa pemeliharaan suatu rekening.
Jadi, kita dapat menyimpulkan fungsi dari Bank Devisa adalah sebagai berikut:
• Transfer pembayaran
• Memberi kredit eksportir
• Menanggung resiko perubahan kurs.

Resume BAB XII
Garis Besar Pelaksanaan
Transaksi Ekspor dan Impor

A. PENDAHULUAN
Kegiatan perdagangan luar negeri yang meliputi transaksi ekspor dan impor barang maupun jasadapat dilaksanakan dengan baik, apabila hubungan pembayarannya dapat diselenggarakan dengan lancar dan terjamin bagi semua pihak. Adapun cara pembayaran yang lazim dilakukan ialah dengan cara yang tidak langsung, artinya melalui jasa perbankan.
Diantara beberapa cara pembayaran yang akan diuraikan diantaranya Letter of Credit atau Surat Kredit Berdokumen dianggap sebagai suatu cara pembayaran paling ideal saat ini. Oleh karena pelaksanaanya melibatkan kegiatan jasa perbankan yang masing-masing berada di negara berlainan, maka dirasa sangat perlu adanya kesesuaian cara pembayaran yang dilakukan oleh bank-bank itu dalam bentuk peraturan yang mengandung sifat keseragaman baik dalam cara maupun mengenai pengertiannya.
Walaupun pada hakikatnya dalam mekanisme pembayaran dengan L/C hanya terdapat 3 pihak utama yaitu pembeli, penjual, dan bank pembuka. Akan tetapi dalam perkembangan bentuk dan jenisnya ternyata telah melibatkan lebih daripada itu.
Perlu diketahui, bahwa bentuk L/C yang sekarang kita kenal adalah bentuk dimana bank membuka kredit atas amanat dari pembeli.
Cara pembayaran dengan L/C tentu saja tidak lepas dari adanya syarat dan kondisi yang ditetapkan oleh pihak yang bersangkutan. Salah satu dari persyaratan itu, ialah bahwa pembayaran baru dapat dilaksanakan apabila kepada bank telah diserahkan dokumen-dokumen yang secara formal telah memenuhi syarat yang ditetapkan dalam L/C itu.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa penyerahan dokumen adalah sebagai suatu syarat dilakukannya pembayaran. Namun demikian, tidak mustahil adakalanya terjadi penyimpangan dokumen dari syarat dan kondisi yang telah ditetapkan.

B. PENGERTIAN LETTER OF CREDIT
Yang dimaksud dengan letter of credit adalah letter of credit yang diterbitkan oleh bank dengan segala macam sifat dan jenisnya. Dalam transaksi jual beli antara eksportir dan importir, penggunaan L/C merupakan cara yang paling aman bagi eksportir maupun importir, karena adanya kepastian bahwa pembayaran akandilakukan apabila syarat L/C dipenuhi. Namun demikian cara pembayaran ini biayanya relatif lebih besar dibanding dengan cara pembayaran yang lain.
Atas L/C yang dibuka oleh importir, eksportir atau supplier di luar negeri diberi hak untuk menarik wesel sebesar nilai harga barang yang dikirimnya atas nama importir. Wesel ini beserta dokumen-dokumen pengapalan barangnya oleh eksportir disearahkan kepada bank koresponden yang menjadi penerima L/C untuk diambil alih.
Pembayaran yang dilakukan atas dasar L/C tersebut berarti bank koresponden membayar lebih dahulu atas nama bank pembuka L/C sehingga tampaknya ada unsur kredit. Jangka waktu antara pembayaran yang dilakukan bank penerima L/C dengan pembayaran yang dilakukan oleh bank pembuka L/C dikenakan sekedar bunga. Karena pembayaran atas dasar L/C ini dilakukan berdasarkan dokumen pengapalan barang, maka L/C yang dibuka sering disebut documentary letter of credit, yakni pembayaran L/C yang dijamin dengan dokumen.
Berikut ini diuraikan definisi istilah-istilah dalam kaitannya dengan transaksi ekspor dan impor menggunakan L/C :
1. Applicant atau Pemohon adalah pihak yang mengajukan permohonan penerbitan/pembukaan L/C applicant biasanya adalah importer.
2. Issuing Bank/Opening Bank atau Bank Penerbit adalah bank yang diminta oleh applicant untuk menerbitkan L/C.
3. Advising Bankatau Bank Penerus adalah bank koresponden dari Issuing Bank yang diminta untuk meneruskan L/C kepada eksportir.
4. Negotiating Bank atau Bank Penegosiasi adalah bank yang diberi kuasa oleh Issuing Bank untuk membayar sejumlah uang kepada beneficiary, sepanjang beneficiary telah menyerahkan dokumen-dokumen ekspor yang sesuai dengan syarat dan kondisi L/C.
5. Benefiary atau Penerima adalah pihak yang menerima L/C dan biasanya juga adalah eksportir.
6. Confirming Bank adalah bank yang ditunjuk oleh Issuing Bank untuk melakukan pembayaran dalam hal Issuing Bank cidera janji tidak melakukan pembayaran, sepanjang syarat dan kondisi L/C telah terpenuhi.
7. Sight L/C adalah L/C yang mensyaratkan pembayaran atas unjuk, dimana kewajiban bank untuk melakukan pembayaran adalah pada saat dokumen-dokumen diajukan kepadanya.
8. Usance L/C mensyaratkan pembayaran berjangka, dimana bank berkewajiban untuk membayar pada waktu tertentu pada masa yang akan datang, misalnya: 180 hari setelah tanggal B/L.
9. Negosiasi adalah pembelian dokumen oleh Negotiating Bank disertai pembayaran kepada beneficiary.

C. FUNGSI BANK SEBAGAI PERANTARA PEMBAYARAN LUAR NEGERI
Dalam aktifitas perdagangan internasional baik dari segi ekspor maupun impor ternyata fungsi bank sangatlah penting, terutama fungsi sebagai perantara di bidang pelaksanaan teknis pembayaran luar negeri.
Untuk menjalankan tugas perantara dalam transaksi perdagangan internasional yang dimaksud, suatu bank tentu saja tidak akan dapat bekerja sendiri dan hal ini kiranya tidaklah mungkin apabila bank yang bersangkutan memang menginginkan tugasnya sebagai perantara harus berhasil baik. Untuk itu maka bank-bank tersebut harus mengadakan hubungan koresponden dengan bank-bank di luar negeri terutama dengan bank-bank prima yakni bank-bank yang dalam dunia perbankan dan perdagangan internasional tidak diragukan lagi bonafiditasnya serta moral dan financial standingnya. Oleh karena bank-bank di luar negeri tersebut seolah-olah merupakan agen dari bank yang bersangkutan, maka hubungan dimaksud sering dikenal dengan sebutan Agency Arrangement yang mengatur tentang caa-cara penyelesaian sehubungan dengan kepentingan-kepentingan yang menyangkut kegiatan bank masing-masing.
Di sinilah kiranya letak fungsi penting dari pada bank sebagai perantara dalam pembayaraan luar negeri, disamping untuk mempercepat dan mempermudah pelaksanaannya, hubungan koresponden yang demikian berarti adanya pemakaian jasa-jasa dari bank luar negeri, juga dapat memberikan keuntungan kepada bank-bank yang telah menunjuknya sebagai bank koresponden atas dasar prinsip resiprositas.
Dilihat dari sifatnya, suatu hubungan koresponden antara bank-bank di Indonesia dengan bank-bank di luar negeri dapat dilakukan dengan 3 macam cara:
1. Depository Correspondent
Yaitu suatu hubungan antara bank dengan bank di luar negeri dimana bank yang bersangkutan memelihara rekening pada bank luar negeri tersebut.
2. Non Depository Correspondent
Yaitu suat hubungan antara bank dengan bank di luar negeri dimana bank yang disebut pertama tidak memelihara rekening pada bank di luar negeri itu.
3. One Side Correspondent
Yaitu suatu hubungan antara bank dengan bank di luar negeri tanpa pemeliharaan suatu rekening.

D. PIHAK-PIHAK DALAM LETTER OF KREDIT
Dalam suatu mekanisme L/C terlibat secara langsung beberapa pihak ialah:
a. Pembeli atau disebut juga buyer, importer
b. Penjual atau disebut juga seller atau exporter
c. Bank pembuka atau disebut juga opening bank, issuing bank
d. Bank penerus atau disebut juga advising bank
e. Bank pembayar atau paying bank
f. Bank pengaksep atau accepting bank
g. Bank penegosiasi atau negotiating bank
h. Bank penjamin atau confirming bank
Dalam keadaan yang sederhana suatu L/C menyangkut 3 pihak utama, ialah pembeli, penjual, dan bank pembuka.

E. KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM L/C
Mengenai hal ikhwal yang menyangkut kewajiban dan tanggung jawab bank sebagai pihak yang berurusan dengan dokumen-dokumen, telah diatur secara lengkap yang garis besarnya dapat dikemukan sebagai berikut:
1. Bank wajib memeriksa semua dokumen denganketelitian yang wajar untuk memperoleh kepastian bahwa dokumen-dokumen itu secara formal telah sesuai dengan L/C.
2. Bank yang memberi kuasa kepada bank lain untuk membayar, membuat pernyataan tertulis pembayaran berjangka, mengaksep, atau menegosisi dokumen, maka bank yang memberi kuasa tersebut akan terikat untuk mereimburse.
3. Issuing bank setelah menerima dokumen dan menganggap tidak sesuai dengan L/C yang bersangkutan, harus menetapkan apakah akan menerima atau menolaknya.
4. Penolakan dokumen harus diberitahukan dengan telekomunikasi atau sarana tercepat dengan mencantumkan penyimpangan-penyimpangan yang ditemui dan minta penegasan status dokumen tersebut.
5. Issuing bank akan kehilangan hak menyangkut bahwa dokumen-dokumen itu tidak sesuai dengan syarat-syarat L/C.
6. Bila bank pengirim dokumenmenyatakan terdapat penyimpangan pada dokumen dan memberitahukan bahwa pembayaran, pengaksepan, atau penegosiasian dengan syarat atau berdasarkan indemnity telah dilakukannya.
7. Bank-bank dianggap tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab mengenai:
 Bentuk, kecukupan, ketelitian, keaslian, pemalsuan atau keabsahan menurut hukum daripada tiap-tiap dokumen.
 Syarat-syarat khusus yang tertera dalam dokumen-dokumen atau yang ditambahakan padanya.
 Uraian, kwantitas, berat, kwalitas, kondisi, pengepakan, penyerahan, nilai atau adanya barang-barang.
 Itikad baik atau tindakan-tindakan dan atau kealpaan, kesanggupan membayar utang, pelaksanaan pekerjaan atau standing daripada si pengirim.
8. Bank-bank juga dianggap tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab atas akibat-akibat yang timbul karena kelambatan dan atau hilang dalam pengiriman daripada berita-berita, surat-surat atau dokumen-dokumen.
9. Bank-bank tidak terikat kewajiban atau tanggung jawab sebagai akibat yang timbul karena terputusnya bisnis mereka disebabkan hal-hal di luar kekuasaanya.
10. Bila bank memperbunakan jasa-jasa bank lain dalam melaksanakan instruksi applicant, maka hal tersebut adalah atas beban dan resiko applicant.

F. BENTUK DAN JENIS L/C
1. Revocable Letter Of Credit
Adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan lebih dahulu kepada beneficiary. Dari ketentuan tersebut menunjukan bahwa suatu L/C yang dapat ditarik kembali atau dibatalkan tidak menciptakan suatu ikatan hukum antara pihak bank dan beneficiary.
Sebenarnya bentuk revocable ini kurang tepat apabila disebut L/C karena tidak mengandung jaminan bahwa wesel-weselnya akan dibayar ketika diajukan, mengingat pembatalan mungkin telah terjadi tanpa pemberitahuan kepada beneficiary. Oleh karena itu bentuk L/C yang demikian kurang disukai oleh penjual dan jarang dipergunakan.
2. Irevocable Letter Of Credit
Adalah suatu L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan tanpa persetujuan semua pihak baik pembeli, penjual, maupun pihak bank yang bersangkutan. Selama jangka waktu berlakunya yang ditentukan dalam L/C, issuing bank tetap menjamin untuk membayar, mengaksep, atau menegosiasi wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut asalkan syarat-syarat dan kondisi yang ditetapkan didalamnya terpenuhi.
3. Confirmed Irrevocable Letter Of Credit
Sebagaimana diketahui sifat khusus suatu L/C adalah credit standing bank itu ditambahkan pada kredit standing pembeli dalam L/C yang bersangkutan. Namun demikian dapat terjadi kredit standing daripada issuing bank tidak memuaskan bagi pihak penjual, hal ini timbul apabila misalnya issuing bank hanya suatu bank lokal tanpa mempunyai reputasi internasional sehingga pihak penjual memandang perlu untuk meminta jaminan kepada advising bank. Dalam hal ini penjual akan mengajukan permohonan agar dibuka suatu confirmed L/C.
4. Transferable Letter Of Credit
Adalah suatu kredit yang memberikan hak kepada beneficiary untuk meminta kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan pembayaran atau akseptasi atau kepada setiap bank yang berhak melakukan negosiasi, untuk menyerahkan hak atas kredit itu seluruhnya atau sebagian kepada satu pihak ketiga atau lebih.
5. Back To Back Letter Of Credit
Back to back letter of credit ini dipakai dalam keadaan seperti halnya pada transferable L/C yakni, suatu transaksi dagang yang dilakukan dengan melalui pedagang perantara atau dalam keadaan dimana hubungan langsung antara pembeli dan supplier tidak dimungkinkan oleh peraturan-peraturan negara yang bersangkutan. Walaupun ada persamaan demikian tetapi tidak berarti bahwa ketentuan-ketentuan yang berlaku terhadap transferable L/C seluruhnya berlaku juga bagi back to back L/C.
6. Red Clause Letter Of Credit
Adalah suatu klausula yang memuat makna anti cipatory yaitu menyangkut sesuatu hal yang sifatnya didahulukan. Adapun yang didahulukan disini adalah pembayaran atas L/C oleh bank yang dilakukan sebelum dokumen-dokumen yang disyaratkan diserahkan. Atas dasar inilah maka red clause L/C termasuk dalam golongan yang disebut anti cipatory credit.
7. Green Ink Clause Letter Of Credit
Green ink clause letter of credit hampir serupa dengan red clause L/C, yakni juga memberikan uang muka kepada beneficiary sebelum pengapalan barang-barang dilakukan.
8. Revolving Letter Of Credit
Dalam suatu kegiatan perdagangan luar negeri antara penjual dan pembeli sering terjadi serentetan transaksi secara kontinyu dan teratur baik waktu maupun jumlah. Adapun cara pembayarannya dapat dilakukan dengan pembukaan L/C seperti yang telah diutarakan di atas untuk masing-masing transaksi.
9. Stand By Letter Of Credit
Suatu jaminan khusus yang biasanya dipakai sebagai “stand by” oleh pihak beneficiary atau bank atas nama nasabahnya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan suatu kontrak atau gagal untuk membayar pinjaman atau memenuhi pinjaman lain bank yang bersangkutan akan membayar kepada beneficary atas penyerahan selembar sight draft dan surat pernyataan dari beneficiary, yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak dapat melaksanakan kontrak yang disetujui, membayar pinjaman atau memenuhi kewajiban lain itu.

G. SYARAT USANCE L/C 1,3,6 BULAN
Adalah kondisi L/C dimana ada tempo pembayaran yaitu: 30, 60, 90, 120 dan 180
hari. Jadi ketika opening bank menerima dokumen negosiasi dari Negotiating
bank dia akan membayar sesuai tempo yang ditetapkan dalam LC. Biasanya tempo
di hitung dari Tanggal B/L.

1. H. PERSIAPAN EKSPOR IMPOR
Persiapan Ekspor Impor sebagai berikut :
a) Persiapan Administratif
Yang berhubungan dengan kegiatan administrasi (komputer, internet, email, fax, fotocopy, dll)
b) Persiapan Legalitas
Yang berhubungan dengan ijin-ijin prinsip atau lainnya (TDP, SIUP, NPWP, API, NPIK, ETPIK-BRIK dll)
c) Persiapan Fisik Barang
Kesiapan/ ketersediaan barang, jumlah, model pesanan serta hal-hal yang berhubungan dengan order / permintaan barang dari pembeli
d) Pengetahuan tentang ekspor-impor
Pengetahuan mengenai bisnis/ kegiatan/ proses penanganan ekspor dan impor.

I. PROSES PEMBUKAAN L/C
1. Importir minta kepada bank untuk membuka suatu L/C untuk dan atas nama eksportir. Importir bertindak sebagai opener. Bank bertindak sebagai . opening bank atau issuing bank
2. Pembukaan L/C dilakukan melalui bank koresponden di luar negeri. Bank koresponden disebut sebagai advising bank, notifying bank atau negotiating bank.
3. Advising bank memberitahukan kepada eksportir mengenai pembukaan L/C. Eksportir bertindak sebagai beneficiary.

J. SYARAT-SYARAT YANG HARUS DILENGKAPI DALAM PEMBUKAAN L/C
1. L/C harus merupakan commercial documentary L/C sehingga importir dapat menentukan persyaratan yang tercantum dalam L/C disesuaikan dengan kebutuhan, untuk pengamanan administrasi dan persyaratan dikeluarkannya Surat Izin Impor
Persyaratan:
a) Nama dan alamat penerima L/C
b) Besarnya jumlah dana atau kredit yang tersedia
c) Keharusan penerima L/C (eksportir) untuk menarik wesel
d) Jenis wesel, misalnya: wesel untuk (Demand/Sight Bill of Exchange) atau wesel berjangka (Time Draft atau Long Bill of Exchange)
e) Dokumen-dokumen beserta jumlah rangkapnya: duplicate untuk rangkap 2, triplicate untuk rangkap 3, untuk quadroplicate untuk rangkap 4
2. Kelengkapan dokumen, sebagai berikut:
a) draft/Bill of Exchange/Receipt
b) shipping documents
c) konosemen (full set of Bill of Lading)
d) faktur perdagangan (commercial invoice)
e) packing listpacking list(daftar pengepakan=daftar isi setiap peti)
f) weight note (daftar berat barang)
g) measurement list (daftar ukuran barang)
h) insurance certificate (polis asuransi)
i) inspection certificate (keterangan dari juru pemeriksa barang atau surveyor report)
j) certificate of origin (keterangan negara asal barang)
k) manufacturer’s certificates
l) chemical analysis(analisis kimia)
m) assembling guide book (buku petunjuk pemasangan)
n) layout scheme (skema susunan atau blue print)
o) instruction manual
p) consular invoice
q) brochure/leaflet (keterangan teknis atau gambar)
Penentuan persyaratan dokumen di atas, dibatasi pada dokumen yang benar–benar diperlukan; yang realistis sehingga dapat dipenuhi oleh eksportir; atau yang berguna sehingga efektif dan efisien

3. Uraian barang secara ringkas tetapi jelas
4. Persyaratan pengiriman barang, misalnya: pelabuhan muat ( loading port ) dan pelabuhan tujuan ( destination atau discharging port port)
5. Persyaratan yang diwajibkan oleh instansi yang berwenang, misaln ya: nomor import licence , nomor export licence , nomor order, nomor kontrak penjualan dan merek dagang dari barang misalnya: licence, licence,
6. Klausula tentang ada atau tidaknya hak penerima L/C untuk mengop erkan L/C kepada pihak lain atau supplier lain, dengan mencantumkan assignable L/C atau transferable L/C mengoperkan
7. Waktu berlakunya L/C harus lebih lama dari pada waktu pengapalan terakhir, sekurang kurangnya harus sama dengan tanggal pengapalan terakhir sekurang-port)

K. PROSEDUR TRANSAKSI LETTER OF CREDIT
1. Pihak penjual dan pembeli mengadakan negosiasi jual beli barang hingga terjadi kesepakatan.
2. Pihak pembeli diharuskan membuka L/C dalam negeri pada suatu bank (bank pembuka L/C)
3. Setelah L/C DN dibuka, oleh bank pembuka L/C segera memberitahukan kepada bankpembayar bahwa L/C DN telah dibuka dan agar disampaikan kepada si penjual barang.
4. Penjual barang mendapat pemberitahuan dari bank pembayar bahwa pembeli telah membuka L/C barang dagangan sudah dapat segera dikirim. Disini penjual barang meneliti apakah L/C terjadi perubahan dari syarat yang telah disetujui semula.
5. Pihak penjual menghubungi maskapai pelayaran atau perusahaan angkutan lainnya untuk mengirimkan barang-barang ke tempat tujuan.
6. Pada waktu pembeli menerima kabar dari perusahaan pengangkutan bahwa barang telah datang, maka pihak pembeli harus membuatkan certificate of receipts atau konosemen yang harus diserahkan kepada bank pembayar dan penjual. Hal ini dilakukan setelah memeriksa kebenaran L/C dengan faktur atau barang yang dikirim oleh si pembeli.
7. Atas dasar konosemen penjual segera menghubungi bank pembayar dengan menunjukan dokumen L/C dan surat pengantar dokumen disertai denga wesel yang berfungsi sebagai penyerahan dokumen dan penagihan pembayaran kepada bank pembayar.
8. Bank pembayar setelah menerime dokumen dari penjual segera menghubungi bank pembuka L/C. Oleh bank pembuka L/C segera memberitahukan penerimaan dokumen dilampiri dengan perhitungan-perhitungannya kepada pembeli.
9. Pembeli menerima dokumen dari bank pembuka L/C
10. Pembeli segera melunasi seluruh kewajibannya atas jual beli tersebut kepada bank pembuka L/C.
11. Bank pembuka L/C memberi konfirmasi penerimaan dokumen dan sekaligus memberitahukan bahwa si pembeli telah membayar. Dengan demikian memberi ijin kepada bank pembayar untuk melakukan pembayaran kepada si penjual. Kemudian semua arsip disimpan.
12. Oleh bank pembayar akan dilakukan pembayaran dengan memperhatikan diskonto atau perhitungan wesel.

L/C Opening Process &Cargo Shipment Process

L. PRAKTEK-PRAKTEK UMUM DALAM MENANGANI TRANSAKSI LETTER OF CREDIT
Dalam hubungan dengan penerapan aturan internal bank, maka semua bank telah menetapkan aturan baku dalam menangani transaksi ekspor impor dengan L/C :
1. Pada saat menerima L/C ekspor, prosedur yang harus dijalani adalah sbb :
a. Meyakini L/C harus diterbitkan oleh Bank koresponden
Bank koresponden adalah bank yang mempunyai hubungan korespondensi dengan Advising Bank. Korespondensi dalam perbankan diwujudkan dalam bentuk pertukaran angkat test untuk telex, SWIFT Authenticator Key, buku contoh tanda tangan, sehingga jika sebuah bank memerima berita, surat atau surat berharga dari bank korespondennya, maka bank tersebut dapat melakukan otentikasi untuk meyakini kebenaran dan keabsahannya.
b. Meyakini bahwa L/C tersebut tunduk pada UCP 500
c. Melakukan otentikasi terhadap L/C yang diterima dari Bank Penerbit dengan:
 Melakukan verifikasi test otentikasi dalam dalam L/C yang diteruskan dengan menggunakan telex atau mencocokkan tanda tangan yang ada dalam L/C dengan contoh tanda tangan yang ada pada adminsitrasi bank.
 Apabila L/C diteruskan melalui SWIFT dan bank penerbit sudah mempunyai hubungan koresponden dengan bank penerus, maka pada bagian atas SWIFT tersebut akan terdapat indentifiksi bahwa berita SWIFT tersebut telah diotentikasi oleh lembaga penyelenggara SWIFT. Bank harus meyakini adanya bukti otentikasi tersebut.
d. Memeriksa L/C untuk memastikan bahwa syarat-syarat dan kondisi yang ada didalamnya tidak bertentangan peraturan perundangan dan aturan internal bank.
e. Untuk L/C yang diterbitkan dari bank yang kurang terkenal atau berasal dari negara-negara yang resikonya tinggi atau high risk country, apalagi bila dalam jumlah besar, maka bank akan meminta agar L/C tersebut di-kofirm oleh bank yang bonafid (first class bank).
Konfirmasi dalam hal ini merupakan jaminan dari confirming bank yang akan membayar semua tagihan L/C apabila ternyata Issuing Bank wan prestasi untuk membayar tagihan L/C tersebut, sepanjang semua persyaratan dan kondisi L/C telah terpenuhi.
2. Prosedur yang berlaku di Negotiating bank pada saat memproses negosiasi pada umumnya adalah sbb:
a. Bank harus meyakini bahwa Issuing Bank cukup bonafid, sehingga dokumen yang akan dinegosiasi nantinya pasti dibayar. Untuk meyakini bonafiditas Issuing Bank, biasanya bank mempunyai aturan bahwa Issuing bank haruslah Bank yang sudah mempunyai commercial line atau oleh media masa Indonesia disebut sebagai bank koresponden. Sebenarnya terdapat perbedaan antara Commercial Line dengan bank koresponden.
Commercial Line adalah merupakan line atau limit yang ditetapkan oleh suatu bank terhadap bank lain dengan mempertimbangkan aspek resiko gagal bayar jika bank tersebut mempunyai kewajiban pembayaran. Commercial Line sendiri sebenarnya merupakan common practice di dunia perbankan dan merupakan salah satu cara untuk meminimalisir resiko bisnis
Sementara bank koresponden, biasanya hanya terbatas pada pertukaran sarana otentikasi surat, telex, SWIFT dan sarana korespondensi lainnya.
b. Tahapan selanjutnya adalah memeriksa dokumen-dokumen ekspor yang telah diserahkan oleh beneficiary untuk meyakini bahwa semua dokumen sudah sesuai dengan syarat dan kondisi L/C.
c. Apabila dokumen yang diajukan adalah untuk Usance L/C, maka Negotiating harus memintakan akseptasi terlebih dahulu kepada Issuing Bank.
Akseptasi adalah pernyataan dari Issuing Bank bahwa mereka mengaksep wesel dan berjanji akan membayar pada tanggal tertentu dikemudian hari (misalnya : 180 hari setelah tanggal Bill of Landing)
M. KESIMPULAN
Dari hasil penelaahan kata demi kata tersebut akhirnya kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa suatu hubungan pembayaran luar negeri diperlukan dalam penyelesaian lalu lintas bayar-membayar antara para pihak yang mengadakan usaha dimana mereka masing-masing berada di negara berlainan. Suatu hubungan pembayaran luar negeri pada hakekatnya diperlukan dalam penyelesaian transaksi-transaksi yang diadakan oleh para pihak, yaitu dalam transaksi-transaksi perdagangan internasional yang meliputi transaksi ekspor dan impor baik barang maupun jasa.
Oleh karena dilihat dari sudut resultatnya, suatu perdagangan luar negeri baru akan dapat dilaksanakan dengan baik apabila hubungan pembayarannya dapat diselenggarakan dengan baik pula, secara a contrario suatu hubungan pembayaran luar negeri baru ada setelah adanya transaksi perdagangan dengan luar negeri.
Sudah barang tentu para pihak dalam transaksi perdagangan internasional itu menginginkan agar transaksi yang mereka adakan dapat berjalan baik dan lancar tanpa adanya hambata-hambatan apapun. Keinginan yang demikian itu akan tampak lebih jelas dalam hal para pihak mengharapkan diperolehnya keuntungan yang maksimal daripada hasil transaksinya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Terwujudnya keuntungan yang maksimal bagi para pihak secara timbal balik merupakan salah satu tujuan utama daripada transaksi yang mereka adakan sehingga hasil itu baru akan nyata apabila cara pembayaran yang mereka tempuh cukup baik dan terjamin. Pada umumnya cara yang baik dan terjamin dimaksud yang lajim ditempuh dalam perdagangan luar negeri adalah cara pembayaran yang tidak langsung dalam arti melalui aktifitas perbankan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: