F3 TARIF

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN
SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA

RESUME MATERI INSTRUMEN TARIF
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekspor Impor

Oleh:

1. Agus Dwi Atmoko (2.F/02)
2. Agustina Chandrawati (2.F/03)
3. Arif Pristiawan (2.F/06)
4. Baktiarman Ramadhan (2.F/07)
5. Galuh Dwi Cahyani (2.F/13)
6. Irwan Syahputra L. (2.F/18)
7. Nur Kholis Arifin (2.F/27)
8. Puput Wuryanto (2.F/28)
9. Wenny Fitriansari (2.F/31)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
ADMINISTRASI PERPAJAKAN
2008
Hambatan Perdagangan : Tarif

8.1 Pendahuluan
Pada dasarnya perdagangan bebas akan dapat memaksimalkan output dunia dan keuntungan bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Namun, pada praktiknya masih banyak negara yang menerapkan hambatan dalam perdagangan internasional. Bentuk hambatan yang paling menonjol adalah tarif, meskipun di era modern sekarang ini peranan tarif tidak terlalu besar karena negara-negara lebih suka memproteksi produk mereka dengan hambatan nontarif.
Tarif adalah pajak atau cukai yang dikenakan untuk suatu komoditi yang diperdagangkan. Tarif merupakan bentuk kebijakan perdagangan yang paling tua dan secara tradisional telah menjadi sumber penerimaan pemerintah sejak lama.
Tarif dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis berdasarkan :
• Aspek asal komoditi
1. Tarif ekspor
Tarif ekspor sebenarnya memiliki potensi menyurutkan arus ekspor negara yang bersangkutan. Biasanya hal ini disebabkan pemerintah mengalami kesulitan dalam mengumpulkan pendapatan untuk kas negara. Contoh : Ghana, Brasil
2. Tarif impor
Tarif impor dapat digunakan sebagai alat kontrol agar produk dalam negeri tidak kesulitan dalam bersaing dengan produk impor. Contoh : Inggris dan Amerika Serikat
• Mekanisme perhitungan
1. Tarif Ad Valorem
Yaitu pajak yang dikenakan berdasarkan angka persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor. Sebagian besar negara Eropa memakai jenis tarif ini.
2. Tarif Spesifik
Yaitu pajak yang dikenakan sebagai beban tetap unit barang yang diimpor. Amerika Serikat menggunakan tarif ini dengan porsi yang sama besar dengan pajak ad valorem.
3. Tarif Campuran
Yaitu pajak yang disamping mengenakan pungutan tertentu juga memungut tambahan sekian persen lagi.
Dalam menganalisis dampak penerapan tarif, digunakan beberapa tahap analisis, yaitu :
1. Perspektif keseimbangan parsial
Dengan menggunakan kurva permintaan dan penawaran
2. Perspektif keseimbangan umum
Dengan melibatkan sejumlah kurva batas kemungkinan produksi (production possibility frontiers) dan kurva indiferen (indifference curve) dan kurva-kurva penawarannya (offer curves)
8.2 Analisis Keseimbangan Parsial terhadap Tarif
Analisis ini sangat tepat diterapkan pada negara kecil, yaitu negara yang kemampuan mempengaruhi harga dunia terbatas.

8.2a Dampak-dampak Keseimbangan Parsial Akibat Pemberlakuan Tarif

Dx dan Sx melambangkan kurva permintaan serta kurva penawaran komoditi X di negara 2. Dalam kondisi perdagangan bebas, harga komoditi C adalah Px=1 dolar per unit. Negara 2 akan mengonsumsinya sebanyak 70x (AB); 10x (AC); diantaranya merupakan produksi domestik, sedangkan 60x (CB) harus diimpor dari negara lain. Jika negara 2 memberlakukan tarif sebesar 100% terhadap komoditi X, maka Px melonjak menjadi 2 dolar per unit. Itulah harga yang harus ditanggung oleh konsumen di negara 2. Sedangkan harga bagi konsumen dunia tidak berubah. Akibatnya penduduk negara 2 akan menurunkan tingkat konsumsinya sebanyak 50x (GH), serta mengubah komposisinya; 20x (GJ) merupakan produk domestik, sedangkan 30x (JH) harus diimpor dari negara lain. Dengan demikian, dampak pemberlakuan tarif terhadap konsumsi domestik bersifat negatif, yakni sebesar (-)20x (BN). Sementara itu, dampak terhadap produksi meningkat bersifat positif, yakni sebesar 10x (CM). Namun secara keseluruhan, perberlakuan tarif itu merugikan perdagangan, yakni (-)30x (BN+CM), meskipun ia memeri pemasukan pada pemerintah negara 2 sebanyak 30 dolar (MJHN).
Dengan demikian, dampak tarif terhadap:
 Konsumsi >>berkurangnya konsumsi domestik akibat tarif ad valorem mencapai 20x (BN)
 Produksi >> peningkatan sebesar 10x (CM)
 Perdagangan >> turunnya impor sebesar 30x (BN+CM)
 Penerimaan pemerintah >> terciptanya pemasukan pemerintah sebesar 30 dolar (MJHN)
Analisis lebih lanjut :
 Semakin elastis dan mendatar Dx, kenaikan harga akibat tarif akan menimbulkan dampak konsumsi (consumption effect)
 Semakin elastis Sx, kenaikan harga akibat tarif akan menimbulkan dampak produksi (production effect)
 Semakin elastis Dx dan Sx, kenaikan harga akibat tarif akan meningkatkan dampak perdagangan (trade effect) dan memperkecil dampak pendapatan (revenue effect) bagi pemerintah.

8.2b Dampak Pemberlakuan Tarif terhadap Surplus Produsen dan Konsumen
Surplus konsumen (consumer surplus) mengukur besar-kecilnya keuntungan konsumen dari pembelian, yang berupa selisih antara harga yang sebenarnya dibayarkan dengan tingkat harga yang sanggup dia bayar. Jadi, surplus konsumen dari setiap unit barang yang terjual merupakan selisih antara harga aktual dengan tingkat harga yang sanggup ditanggung oleh konsumen secara sukarela. Misalnya, jika seorang konsumen sanggup membayar $8 untuk suatu barang, padahal harga di pasar hanya $3, maka konsumen tersebut memperoleh surplus dari barang yang bisa dibelinya, dan besarnya surplus bagi konsumen adalah $5. begitu juga sebaliknya. Jika produsen bersedia menjual barabg dengan harga $2, namun ternyata dia bisa menjualnya dengan harga $5, maka produsen memperoleh surplus sebesar $3.

Grafik Dampak Pemberlakuan Tarif terhadap Surplus Produsen dan Surplus Konsumen.

Grafik di sebelah kiri menunjukkan bahwa pemberlakuan tarif yang meningkatkan harga komoditi X dari Px = $1 menjadi Px = $2, selanjutnya mengakibatkan berkurangnya surplus konsumen, yaitu dari semula ARB=$122,5 menjadi GRH=$62,5. Sedangkan grafik di sebelah kanan memperlihatkan kenaikan surplus produsen akibat pemberlakuan tarif, sedangkan nilai kenaikan tersebut setara dengan luas AGJC=$15.

8.2c Biaya dan Manfaat Tarif
Tarif meningkatkan harga barang di negara pengimpor, sehingga sehingga kalangan konsumen di negar pengimpor secara relative merugi, sedangkan para produsen di negara pengimpor memperoleh keuntungan. Jadi, tarif membawa biaya sekaligus manfaat. Pendekatan yang biasa ditempuh untuk mengukur biaya dan manfaat tarif bergantung pada dua konsep yang lazim digunakan di dalam analisis mikro ekonomi, yaitu surplus konsumen dan surplus produsen.
Grafik biaya dan manfaat dalam keseimbangan parsial dalam pemberlakuan tarif

Gambar ini memperlihatkan bahwa kenaikan harga komoditi X dari Px=$1 menjadi Px=$2 akibat pemberlakuan pajak impor oleh pemerintah negara 2 sebesar 100%, segera mengakibatkan penurunan surplus konsumen sebanyak AGHB=a+b+c+d=15+5+30+10=60. Dari jumlah tersebut, $30 diantaranya diterima pemerintah dalam bentuk pajak impor, kemudian $15 lainnya (AGDC=a) diredistribusikan kepada para produsen komoditi X di dalam negeri dalam bentuk kenaikan rente atau surplus produsen, sedangkan $15 sisanya (setara dengan bidang segitiga CJM=$5, dan segitiga BHN=$10) merupakan biaya proteksi atau biaya bobot mati yang harus dipikul oleh perekonomian negara 2 secara keseluruhan.
Pengenaan tarif meredistribusikan pendapatan dari konsumen domestik (yang harus membayar lebih mahal untuk membeli komoditi yang diperlukannya) ke produsen domestik (yang menghasilkan komoditi yang diproteksi oleh tarif tersebut). Transfer pendapatan juga terjadi dari sektor ekonomi yang sumber dayanya melimpah ke sektor lain yang sumber dayanya kurang kompetitif. Tarif termasuk faktor penting yang selalu diperhatikan produsen maupun konsumen dalam mengambil keputusan, karena dengan adanya tarif maka impor menjadi lebih mahal daripada harganya yang akan berlaku seandainya tarif ataupun bentuk-bentuk hambatan perdagangan lainnya tidak ditiadakan.
Oleh karena manfaat dan biaya masing-masing jatuh ke pihak berlainan, maka evaluasi atas biaya-manfaat secara keseluruhan dari tarif bergantung pada sampai seberapa besarkah nilai manfaat atau keuntungan yang didapatkan oleh setiap kelompok. Jika sebagian besar surplus produsen jatuh ke pemilik sumber daya, sementara kondisi atau tingkat kesejahteraan konsumen menjadi lebih buruk daripada sebelumnya, maka tarif tersebut adalah barang mewah yang hanya bisa dibeli oleh kelompok masyarakat yang berkelebihan namun harus diproduksi oleh pekerja-pekerja dengan upah rendah.

8.3 Teori Struktur Tarif
8.3a Tingkat Produksi Efektif
Untuk mendukung usaha manufaktur dan pemrosesan dalam negeri yang akan menciptakan nilai tambah ekonomis dan lapangan pekerjaan, negara akan mengenakan tarif impor barang primer atau mentah yang lebih rendah daripada untuk barang setengah jadi atau barang jadi. Dalam kasus ini, tingkat proteksi efektif (effective rate of protection) yang dihitung atas dasar nilai tambah domestik, atau keuntungan dari proses-proses manufaktur yang berlangsung di dalam negeri akan jauh melampaui tingkat tarif nominal (dihitung atas dasar harga komoditi final atau sesudah kena pajak). Nilai tambah domestik (domestik value added) sama dengan harga final komoditi dikurangi biaya impor barang-barang input untuk keperluan produksi komoditi tersebut lebih lanjut di dalam negeri.
Pengenaan tarif atau bea masuk terhadap barang-barang impor pada dasarnya akan meningkatkan harga suatu barang yang dihasilkan oleh produsen dalam negeri. Dampak ini seringkali justru merupakan tujuan utama daripemberlakuan tarif, yaitu untuk melindungi produsen dalam negeri terhadap persaingan barang impor yang harganya lebih murah. Besarnya perlindungan ini biasanya dinyatakan dalam angka persentase dari harga yang berlaku jika perdagangan berlaku dengan bebas. Pengukuran ini sepintas dapat dilakukan dengan sangat mudah, bahkan besar kecilnya proteksi itu bisa dikaitkan langsung dengan besar tarifnya sendiri. Jika jenis tarifnya berbentuk pajak ad valorem yang besarnya proposional dengan nilai impor, maka tingkat tarif itu sendiri akan mengukur besarnya proteksi. Sedangkan jika jenis tarifnya adalah tarif spesifik, maka dengan membagi tarif dengan harga neto setelah tarif akan menghasilkan angka yang sama dengan tarif ad valorem. Namun pada kenyataannya, ada dua masalah yang harus diperhitungkan dalam menghitung tingkat proteksi dengan cara tersebut. Pertama, jika asumsi negara kecil bukan merupakan pertimbangan yang akurat, maka sebagian dampak tarif akan nampak menurunkan harga ekspor dan sebagian justru akan berupa peningkatan harga-harga domestik. Padahal dampak-dampak dari kebijakan perdagangan terhadap harga ekspor itu tidak jarang sangat berarti sehingga tidak boleh diukur secara serampangan saja. Yang kedua, tarif bisa menimbulkan dampak yang berbeda disetiap tahapan produksi suatu barang. Dengan masalah inilah para ekonom lebih banyak berpikir untuk memerinci perhitungan untukmengatur tingkat proteksi efektif yang sebetulnya diperoleh suatu sektor industri dengan adanya pemberlakuan tarif impor oleh pemerintah. Proteksi ini menjadi sangat penting mengingat kebijakan-kebijakan perdagangan yang bertujuan untuk meningkatkan pembangunan ekonomi ternyata sering mengakibatkan tingkat proteksi efektif yang jauh lebih tinggi daripada tarif nominanya.
Tingkat proteksi efektif biasanya diukur dengan rumus berikut:
g = t – aiti
1- ai
Di mana g = tingkat proteksi efektif bagi para produsen final.
t = tingkat tarif nominal yang dibebankan kepada konsumen komoditi final.
ai = rasio biaya komoditi input impor terhadap harga komoditi final dalam kondisi babas tarif.
ti = tingkat tarif nominal terhadap komoditi input yang diimpor.

8.3b Generalisasi dan Evaluasi Teori Proteksi Efektif
Kesimpulan-kesimpulan mengenai hubungan antara tingkat proteksi efektif (g) dengan tingkat tarif nominal (t) terhadap komoditi final sebagai berikut:
1. Jika ai = 0, maka g = t.
2. Pada nilai berapa pun untuk ai dan ti, semakin besar tingkat tarif nominal (t), akan semakin besar tingkat proteksi efektifnya (g).
3. Pada nilai berapa pun untuk t dan ti, semakin besar ai, akan semakin besar nilai g.
4. Nilai g akan lebih besar (sama dengan atau lebih kecil) dari t, jika nilai ti lebih kecil ( sama dengan atau lebih besar) dari t.
5. Apabila aiti lebih besar dari t, maka tingkat proteksi efektifnya menjadi negatif.

8.4 Analisis Keseimbangan Umum terhadap Pemberlakuan Tarif di Negara Kecil
8.4a Dampak-Dampak Keseimbangan Umum dari pEmberlakuan Tarif di Negar Kecil
Ketika sebuah negara kecil memberlakukan tarif terhadap barang-barang impornya, maka tidak akan mempengaruhi harga barang itu di pasaran internasional, yang berubah hanyalah harga barang tersebut di pasar domestiknya.
Walaupun setiap produsen dan konsumen domestik menghadapi kenaikan harga komoditi impor meningkat sebesar tarif yang dikenakan, namun harganya bagi perekonomian negara kecil tersebut secara keseluruhan konstan, karena kenaikan harga akibat kenaikan tarif itu diimbangi oleh terciptanya pemasukan pajak bagi pemerintah.
Contoh:
Jika harga yang berlaku di untuk komoditas itu, misal komoditas X di pasar internasional adalah 1 dolar per unit, sedangkan tarif ad valorem yang dikenakan negara kecil tadi 100%, maka para produsen domestik akan mampu menghadapi persaingan dari produsen luar negeri selama mereka sanggup memproduksi dan menjual komoditas X dengan harga tidak lebih dari 2 dolar per unit. Konsumen harus bayar 2 dolar untuk mendapatkan satu unit komoditas X, terlepas dari apakah komoditas itu impor atau hasil produksi dalam negeri (asumsi kualitas komoditas X sama untuk impor dan produksi dalam negeri). Namun, karena pemerintah memperoleh pemasukan tambahan sebesar tarif tadi, yakni 1 dolar per unit komoditas X yang diimpor, maka harga komoditas tersebut bagi perekonomian yang bersangkutan secara keseluruhan tetap 1 dolar per unit.

8.4b Ilustrasi Dampak Pengenaan Tarif di Negara Kecil
Kita ilustrasikan dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh pemberlakuan tarif terhadap keseimbangan umum (general equilibrium).
Contoh Kasus:
Kita gunakan Negara 1 dan Negara 2 sebagaimana Bab-bab terdahulu. Kita awali dengan menyimak batas-batas kemungkinan produksi (production possibility frontier) di negara 2. Negara 2 adalah negara yang kaya akan sumber daya modal sehingga ia pun mengkhususkan diri dalamproduksi komoditas Y yang bersifat padat modal dan mengekspornya untuk mengimpor komoditas X yang tidak diproduksikannya sendiri secara massal karena kelangkaan faktor produksi tenaga kerja (komoditas X tersebut bersifat padat karya).
Berdasarkan gafik berikut, kita lihat bbahwa PX/PY = 1 di pasar dunia, sedangkan negara 2 terlalu kecil untuk dapat mempengaruhi harga dunia atau harga yang berlaku untuk sesuatu produk di pasaran internasional, maka mau tidak mau ia harus memproduksi di titik B, sehingga ia akan menukar 60 unit komoditas X. Ketika pemerintah menetapkan tarif ad
valorem sebesar 100% terhadap komoditas X, harga komoditas itu bagi produsen dan konsumen domestik akan melonjak menjadi PX/PY = 2, sehingga para produsen domestik di negara 2 akan terdorong untuk berproduksi di titik F. Itu berarti negara 2 akan mengekspor 30Y dan mengimpor 30X; separuh di antaranya yakni GH atau 15X , akan langsung terarah ke konsumen domestik, sedangkan selebihnya, HH’ yang juga bernilai 15X akan menjelma sebagai pendapatan pajak yang bersumberdari pengenaan tarif ad valorem 100% terhadap komoditas X yang diimpor. Karena kita berasumsi bahwa pemerintah negara 2 menggunakan kebijakan tarif tersebut dalam rangka mendistribusikan pendapatan yang diperolehnya bagi warganya (agar beban pajak mereka tidak terlalu besar ), maka tingkat konsumsi setelah tarif dikenakan akan bergeser ke kurva indiferen II’, tepatnya titik H’ (titik perpotongan antara 2 garis putus-putus). Itu berarti tingkat konsumsi dan kesejahteraan (titik E) dalam perdagangan bebas lebih tinggi ketimbang tingkat konsumsi dan kesejahteraan (titik H’) yang ada setelah tarif tersebut diberlakukan.

Beberapa kesimpulan pokok
1. Dengan adnya tarif, tingkat kesejahteraan negara yang bersangkutan lebih rendah dibandingkan dengan kondisinya di masa perdagangan bebas. Hal ini dibuktikan dengan bergesernya konsumsi dari titik E ke H’ yang terletak pada kurva indiferen yang lebih rendah daripada sebelumnya.
2. Penurunan kesejahteraan bersumber dari dua sebab
(a) Perekonomian tidak lagi berproduksi pada titik yang memaksimumkan nilai pendapatan dan harga dunia
(b) Konsumen tidak dapat lagi berkonsumsi pada kurva indiferen tertinggi yang memaksimumkan kesejahteraan
3. Volume perdagangan mengalami kemerosotan dengan adanya tarif. Volume serta nilai-nilai ekspor dan impor sama-sama turun segera setelah dilaksanakannya pengenaan tarif itu dibandingkan dengan sebelumnya ketika perdagangan masih berlangsung secara bebas.

Semakin tinggi tarif yang dikenakan, semakin besar kerugian yang timbul. Misalnya pemerintah negara 2 mengenakantarif ad valorem sebesar 300% terhadap komoditas X yang diimpor, sehingga PX/PY = 4 bagi para produsen dan konsumen domestik. Kondisi ini akan mendorong perekonomian yang bersangkutan menuju kondisi autarki yaitu semua komoditas dibuat sendiri, dan perdagangan internasional praktis lenyap, atau ke titik A pada grafik di atas. Tarif impor gila-gilaan yang mematikan perdagangan internasional disebut prohibit tariff. Perekonomian dipaksa untuk terus-menerus berproduksi dan berkonsumsi di titik A, dan jelas itu merugikannya sendiri.

8.4c Teorema Stolper-Samuelson
Pada intinya, Teorema Stolper-Samuelson menjelaskan bahwa kenaikan dalam harga relatif suatu komoditi (misalnya kenaikan yang diakibatkan oleh pemberlakuan tarif) akan menaikkan tingkat penghasilan bagi faktor-faktor produksi yang digunakan secara intensif dalam produksi komoditi tersebut. Dengan demikian, tingkat hasil riil (real return) dari faktor produksi yang relatif langka tersebut akan meningkat begitu tarif diberlakukan.

8.5 ANALISIS KESEIMBANGAN UMUM terhadap PEMBERLAKUAN TARIF di NEGARA BESAR
Yang dimaksud negara besar disini adalah sebuah negara yang perekonomiannya cukup kuat sehingga mampu mempengaruhi harga-harga internasional.Volume perdagangannya begitu besar sehingga segala perubahan terhadapnya akan memberi pengaruh yang tidak bisa diabaikan terhadap kondisi perdagangan dunia pada umumnya.
8.5a Dampak-dampak Keseimbangan Umum dari Pemberlakuan Tarif di Negara Besar
Kurva tawar-menawar digunakan untuk menganalisis dampak-dampak keseimbangan umum yang ditimbulkan oleh pemberlakuan tarif di sebuah negara besar. Pada saat sebuah negara memberlakukan tarif impor , kurva tawar-menawarnya akan mengalami pergeseran atau berotasi menuju sumbu yangmengukur besar-kecilnya jumlah komoditi impornya berdasarkan tinggi-rendahnya tarif impor tadi. Pergeseran ini sendiri dikarenakan pada tingkat ekspor berapapun, para importir di negara-negara besar tsb akan terdorong untuk mengimpor lebih banyak komoditi agar mereka lebih leluasa membayar bea masuknya. Kenyataan negara tersebut cukup kuat tercermin pada bentuk lengkung pada kurva tawar-menawar dari negara-negara lain yang menjadi mitra dagangnya (jika kekuatan negara tersebut tidak berarti ,kurva tawar-menawar dari negar-negar yang menjadi mitra dagangnya akan berbentuk garis lurus).
8.5b Ilustrasi Dampak Pemberlakuan Tarif di Negar Besar
Pemberlakuan tarif oleh pemerintah negara besar yang bersangkutan akan menurunkan volume perdagangannya , namun dalam wakta bersamaan juga akan meningkatkan nilai tukar perdagangannya (terms of trade).Selanjutnya tingkat kesejahteraan secara keseluruhan akan dapat meningkat , menurun, atau konstan ,tergantung mana yang lebih unggul antara dampak negatif dari penurunan volume perdagangan atau dampak positif yang bersumber dari peningkatan nilai tukar perdagangannya.

8.6 TARIF OPTIMUM

8.6a Pengertian Konsep Tarif Optimum dan Pembalasan Tarif (Retaliation)
Tarif Optimum adalah tingkat tarif yang dapat memaksimalkan manfaat netto yang bersumber dari perbaikan nilai tukar perdagangan sehingga dapat melunturkan dampak negatif yang diakibatkan oleh berkurangnya volume perdagangan. Begitu sebuah negara besar beranjak dari perdagangan bebas dan memberlakukan tarif, maka sampai batas tertentu kesejahteraannya akan meningkat hingga ke titik maksimal, pada titik itulah tarifnya disebut sebagai tarif optimum.
Perlu diingat, meskipun tarif optimum dapat meningkatkan nilai tukar perdagangan negara besar, hal itu hanya berlangsung untu semantara saja oleh karena negara-negara lain yang menjadi mitra dagangnya dalam waktu bersamaan akan mengalami kemerosotan nilai tukar perdagangan, dam mereka tentunya tidak akan membiarkan dirinya dirugikan seperti itu. Peristiwa akan selalu terjadi secara otomatis karena sifat hubungan yang resiprokal secara negatif.Dalam situasi seperti ini tentu saja kesejahteraan merekapun semakin merosot, oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika negara-negara lain yang menjadi mitra dagangnya akan melakukan pembalasan dan ikut menerapkan tarif sampai ke titik optimum demi membela kepentingan mereka sendiri, nah hal seperti inilah yang disebut pembalasan tarif (retaliation).

LAMPIRAN

A.8.1 Dampak-dampak Keseimbangan Parsial dari Pemberlakuan Tarif di Negara Besar

Berikut adalah analisi mengenau dampak-dampak keseimbangan parsial dari dikenakannya tarif oleh pemerintah di sebuah negara besar.

Px
SH

SH+F+T
E

G J H
2,5
2,0 A a b c d
C M N B
1,67 k i

DH
1,00

20 25 40 50 X

SH merupakan kurva penawaran domestik untuk komoditas X suatu negara, sedangkan SF adalah kurva penawaran untuk komoditas X dari negara lain / kurva ekspor bg negara besar tadi. SH+F merupakan keseluruhan kurva X yang dihadapi oleh negara itu.
Apabila harga 1, maka konsumsi sejumlah 20 unit(10 diimpor, 10 diproduksi secara domestik). Melihat pola garis di atas, maka negara itu membayar semakin tinggi untuk meningkatkan jumlah impor barang untuk konsumsi.
Seandanya negara itu memberlakukan tarif impor sebesar 50%maka total kurva penawaran akan bergeser 50 persen menjadi SH+F+T. D berpotongan dengan SH+F+T di H. 25X dipasok oleh produsen dimestik dan 15X diimpor. Berkurangnya surplus konsumen yang diakibatkan tarif tadi = penjumlahan segi empat a,b,c,d = 22,5 dolar. a=11,25 diterima oleh produsen domestik dan c=7,5 diterima oleh pemerintah. Sisanya ( b+d )=3,75 merupakan biaya proteksi yang harus dipikul oleh negara tadi secara keseluruhan.
Pemerintah juga mendapat pemasukan tambahan sebesar IKMN=e=4,95 dolar. Hal ini terjadi karena dengan meningkatnya Px, tarif impor advalorem menurunkan konsumsi dan impor komoditi X di negara besar. Konsumen di negara lain harus membayar lebih mahal seharga 2,5 dolar. Dan pengekspor di luar negeri hanya mendapat 1,67 dolar. Dengan demikian para konsumen dan pengekspor negara lain tersebut harus memikul beban tarif konsumen domestik karena negara tersebut besar dan dapat mempengaruhi harga internasional.
Negara tersebut diuntungkan karena penerimaan akibat diberlakukannya tarif impor tersebut lebih besar daripada biaya proteksi. Yaitu neto 1,2 dolar. Namun keuntungan tersebut tidaklah selalu bertahan lma, keuntungan karena tarif impor yang merugikan negara kecil akan membuat negara-negara kecil tersebut akan melakukan hal serupa dan melakukan pembalasan , sehingga lama kelamaan tarif impor internasional akan turun, sehingga keuntungan dari spesialisasi produksi akan hilang karena perang tarif.

A.8.2 Derivasi Rumus Tingkat Proteksi Efektif

Tingkat Proteksi Efektif mengukur persentase kenaikan nilai tambah domestik ( domestics value-added ) yang bersumber dari pemberlakuan tarif.

V’ – V
g = —————– …(1)
V
g : tingkat proteksi efektif
V : nilai tambah domestik yang diperoleh dlm kondisi perdagangan bebas
V’ : nilai tambah domestik yang diperoleh dari pemberlakuan tarif terhadap komoditas final dan komoditi input

Umpamakan saja harga tetap internasional untuk suatu komoditi ( misal manterl yang terbuat dari wool ) adalah p. Umpamakan juga input yang diimpor ( wool, kancing, dll) juga memiliki harga yang tetap di Internasional. Jumlah biaya keseluruhan atas berbagai komoditi input di atas ialah:

a1p + a2p +… anp = Σaip

i mengacu pada setiap n komoditi input yang diimpor. A,p = keseluruhan biaya impor input untuk produksi manel dalam negeri. Jadi nilai tambah domestik atas produksi 1 mantel dlm pasar bebeas sama dengan harga tetap mantel di pasar internasional dikurangi dgn penjumlahan atas harga2 internasional dari setiap komoditi input yang diperdagangkan secara bebas( tanpa tarif ).

V = p -pΣai … (2)
= p(1 – Σai )

Jika tarif ( t ) diberlakukan maka,

V’ = p(1+t) – pΣai(1+t) … (3)

Jika persamaan 2 dan 3 disubstitusikan ke 1 maka :

V’ – V p( a + t ) – pΣai( 1 + ti ) – p( 1 – Σai )
g = ———– = ———————————————–
V p(a – Σai )

1 + t – Σai – Σaiti – 1 + Σai t – Σaiti
g = —————————————– = ——————
1 – Σai 1 – Σai

Kelemahan teori proteksi efektif ini terletak pada asumsinya bahwa ternologi produksi cenderung konstan. Dan lagi teori ini berpegang pada asumsi lemah lainnya yaitu harga2 internasional dari komoditi final dan input yang diimpor tidak terpengaruh tarif ( masih cenderung memakai pendekatan pada negara kecil )

A 8.3 Penjelasan Grafis Teorema Stolper-Samuelson

Titik A merupakan titik produksi autharki, B melambangkan produksi dalam kondisi perdagangan bebas, dan F melambangkan produksi setelah negara 2 mengenakan tarif impor terhadap komoditi X. titik F lebih jauh dari pusat sumbu Ox dan lebih dekat dengan sumbu Oy daripada B, hal ini menunjukkan akibat pemberlakuan tarif impor membuat negara 2 memproduksi lebih banyak komoditas X dan mengurangi produksi dalam komoditas Y.
Setiap unit tenaga kerja dikombinasikan dengan lebih banyak modal produksi kedua komoditi setelah tarif tadi dikenakan, maka tingkat produktivitas tenaga kerja pun meningkat, meningkat sehingga tingkat upahpun meningkat di sektor yang memproduksi X maupun Y. Bila kita asumsikan adanya persaingan bebas maka tingkat upah dikedua sektor lama kelamaan akan sama juga besarnya.

A8.4 Pengecualian Teorema Stolper-Samuelson: Paradoks Metzler

Istilah Paradoks Metzler mengacu pada kasus luar biasa di mana pemberlakuan tarif bukannya meningkatkan melainkan justru menurunkan harga relatif komoditi impor bagi produsen dan konsumen secara individual di negara yang memberlakukan tarif tersebut. Di samping itu, harga faktor produksi yang langka di negara tadi juga mengalami penurunan, sehingga teorema Stolper-Samuelson tidak lagi berlaku untuk kasus ini.
Lihat gambar halaman 308 Gambar 8-9.
Panel sebelah kiri pada Gambar ini memperlihatkan bahwa ketika Negara 2 memberlakukan tarif ekspor, harga relatif komoditi X mengalami penurunan menjadi PX/PY = 0,8. Itulah harga yang di hadapi oleh perekonomian Negara 2 secara keseluruhan. Akan tetapi bagi pelaku ekonomi di negara tersebut secara individual, pemberlakuan tarif tersebut meningkatkan harga relatif menjadi PX/PY = 1,1. Harga relatif itu lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang ada pada kondisi perdagangan bebas, yakni PX/PY = 1. Karena kenaikan harga relatif bagi pelaku-pelaku ekonomi secara individual di Negara 2 itu cenderung merugikan, maka mereka terdorong untuk memproduksi lebih banyak komoditi X (yang bersifat padat L atau tenaga kerja) sehingga upah atau harga tenaga kerja pun meningkat. Itu berarti pada kasus ini teorema Stolper-Samuelson masih berlaku. Sedangkan pada panel sebelah kanan, harga yang berlaku dalam kondisi perdagangan bebas (yakni di titik E) adalah PX/PY = 1,25. Pemberlakuan tarif ekspor yang sama oleh Negara 2 justru mengakibatkan harga relatif tersebut mengalami penurunan sehingga menjadi PX/PY = 1,1 (inilah harga yang dihadapi oleh para pelaku ekonomi secara individual di Negara 2). Akibat kemerosotan harga relatif tersebut, maka upah atau pendapatan tenaga kerja mengalami penurunan, padahal tenaga kerja merupakan faktor produksi yang langka di Negara 2. Itu berarti bahwa teorema Stolper-Samuelson tidak berlaku lagi, dan situasi inilah yang disebut sebagai Paradoks Metzler. Paradoks ini terjadi karena kurva tawar-menawar Negara 1 melengkung secara mendadak atau tiba-tiba saja menjadi inelastis tepat di titik E. Jika hal ini terjadi, maka pendapatan yang dikumpulkan pemerintah Negara 2 dari tarif ekspornya harus habis dibelanjakan untuk menambah konsumsi atas komoditi yang diimpornya. Dalam kenyataan sehari-hari, hal seperti itu nyaris mustahil.

A8.5 Dampak Jangka Pendek dari Pemberlakuan Tarif Terhadap Harga Faktor-Faktor Produksi

Tarif impor yang dikenakan Negara 2 (kaya akan sumber daya atau faktor produksi K) akan meningkatkan Px bila dibandingkan dengan kenaikan Px, sehingga sebagian tenaga kerja (faktor produksi mobil), yakni sebanyak DD’ akan berpindah dari sektor yang memproduksi komoditi Y ke sektor lain yang memproduksi komoditi Y ke sector lain yang memproduksi komoditi X. Itu berarti tingkat upah riil akan mengalamai penurunan jika dihitung dalam satuan nilai X, namun sebaliknya nampak meningkat jika dilihat dalam satuan nilai Y. Sedangkan harga atau tingkat hasil riil modal (faktor produks tidak mobil) akan meningkat, jika dihitung dalam satuan nilai X, namun nampak merosot jika dihitung dalam satuan nilai Y.

A8.6 Penghitungan Tarif Optimum
Tingkat tarif ekspor atau impor yang optimum dapat dihitung dengan rumus sederhana sebagai berikut:

t = 1 / (e – 1)

Huruf e adalah simbol nilai absolut dari elastisitas kurva penawaran negara lain yang menjadi mitra dagang negara 2.
Keuntungan yang diterima oleh suatu negara yang memberlakukan tarif optimum bersumber dari pengorbanan atau kerugian Negara-negara lain yang menjadi mitra dagangnya. Hampir bisa dipastikan mereka yang dirugikan akan melakukan tindakan pembalasan. Jadi meskipun bisa meraih keuntungan tambahan dari tarif, hal itu hanya sementara. Proses pembalasan akan terus terjadi sampai semua negara tidak saling menjalin hubungan perdagangan sehingga keuntungan-keuntungan yang dijanjikan oleh pedagangan internasional lenyap. Volume perdagangan akan jatuh ke titk nol. Kondisi yang merugikan itu hanya akan terhindar jika masing-masing pihak secara sadar berusaha menahan diri dalam mengejar tarif optimum. Namun hal ini menuntut pengrtian semua pihak, dan masing-masing negara harus mengendalikan niatnya dalam meraih keuntungan sepihak itu secara bersama-sama.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: