PSYCHOLOGY FORENSIC

14 Desember 2008

M O D U L PSIKOLOGI FORENSIK AUDIT

DIGUNAKAN UNTUK DIKLAT FUNGSIONAL PEMBENTUKAN AUDITOR

O L E H : DRS. HARRY WALUYA, MM. / NIP.060042717

IV/C/WIDYAISWARA MADYA

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN UMUM

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

DEPARTEMEN KEUANGAN

JAKARTA DESEMBER 2008

Teknologi Informasi untuk Audit

4.1.Uraian dan Contoh

4.1.1. Pemanfaatan Teknologi Informasi

Forensik auditor mutlak harus menggunakan Teknologi Informasi (Ti) dalam upaya melakukan audit investigasi.

1.Ti komputer banyak membantu auditor untuk bekerja dengan kecepatan tinggi dan mendapatkan data dan informasi serta bukti-bukti yang bermutu.

2.Kepada setiap auditor harus diberikan Ti komputer berbentuk Laptop, sehingga kegiatan operasional dalam audit investigasinya efektif, dan diyakini mendapatkan kasus-kasus tindak pidana korupsi.

3.Forensik auditor harus dapat menggunakan Ti untuk melakukan analisis dan menemukan kecurangan dari laporan keuangan, Neraca, Laporan Rugi/Laba, laporan untuk memenuhi permintaan regulator (laporan pajak, laporan ke Bank Indonesia, dll), dan laporan-laporan untuk mendukung proses pengambilan keputusan oleh manajemen perusahaan.

4.Forensik auditor juga harus memahami analisis sistem dan desain tentang keandalan dan keamanan Ti yang digunakan oleh perusahaan, untuk tujuan eksternal auditor maupun internal auditor sebagai bagian pengendalian sistem.

4.1.2. Redesign System Informasi

Komputer Ti sekarang berbeda dengan Main Computers jaman gajah.

Komputer Ti sebesar Laptop bisa beroperasi dengan kecepatan setinggi 2 GB, dan mampu memuat data hingga 200 GB, punya WiFi dan bisa menggunakan modem 3G untuk internet, serta didukung berbagai operating system dan microsoft office termasuk database. Pembelian Hardware Computer Laptop dan Softwarenya (Rp 10 – 15 juta/unit) dapat dicicil melalui leasing, dengan harga yang terjangkau uang saku seorang auditor. Jadi tidak mahal dan sebagai komputer pribadi pasti terjaga perawatannya.

Bedanya implementasi e-government dengan berbelanja Main Frame Ti berukuran sangat besar, tetapi lemot dan kapasitasnya rendah. Tetapi Main Frame inilah yang menjadi proyek pembelian hardware maupun software Ti. Yang membedakan Main Frame adalah belanja Ti yang yang diidentik dengan harga mark up, karena tindakan korupsi membuatnya menjadi mahal (sd Rp.300 juta/unit).

Sepandai-pandainya auditor, ternyata auditor sebagai manusia juga terbatas pengetahuannya. Sekalipun auditor dari BPK yang berwenang melakukan pemeriksaan pengadaan komputer Ti sebagai barang. Auditor menyatakan audit Ti sejauh ini tidak memiliki standardisasi. Auditor tidak bisa membedakan Ti dengan barang. Harga Ti benar-benar menjadi mahal, ingat ketika penemuan technology itu sendiri menggusur Ti generasi sebelumnya, ketika window menggusur under dos.

Walaupun komputer Main Frame dulu itu mahal, yang penting sejauh mana efektivitas penggunaan Ti untuk merekam transaksi keuangan dan non keuangan. Yang menarik perhatian kita, bagaimana Main Frame merekam data bea impor, data cukai dan data pajak negara ? Yang akan kita susupi adalah tempat dimana ada penyimpangan korupsi.

4.1.3.Manfaat Ti untuk Audit

Auditor menggunakan Ti sebagai alat procesing pengumpulan data/informasi dan analisis bukti-bukti untuk menentukan apakah audit forensik menggunakan sistem komputer untuk mengurai aset financial menjadi asset non-financial serta menemukan siapa pemiliknya. Dari seorang auditor ke auditor yang lain, Ti di dalam suatu organisasi seharusnya mampu menjaga integritas database, dan dapat membantu pencapaian tujuan unit organisasi inteligent secara efektif, untuk mengungkapkan sumber kasus-kasus yang besar nilainya.

1. Manfaat Pengendalian Umum (General Control).

Ti dalam pengendalian umum ditujukan pada pengamanan integritas data yang tersimpan dalam media komputer, yang suatu waktu memudahkan program aplikasi dalam melakukan pemrosesan data.

2. Manfaat Pengendalian Aplikasi (Application Control)

Dengan pengendalian aplikasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa data input benar-benar valid, dengan sistem procesing yang benar, dan ada hubungannya dengan output yang akan dikendalikkan.

Kegiatan audit terhadap Ti sekaligus audit pengendalin aplikasi dan audit/ pemeriksaan atas pengendalian umum. Adapun tahapan-tahapan dalam audit Ti tidak berbeda dengan audit pada umumnya, yaitu mutlak melakukan tahapan perencanaan dan studi pendahuluan, agar auditor mengenal benar-benar objek yang akan diperiksa. Dengan tahapan perencanaan ini, auditor akan menghasilkan desain program audit yang memudahkan kegiatan audit selanjutnya. Dimana auditor Ti melaksanakan pengumpulan bukti-bukti melalui teknik-teknik survei, interview, observasi dan review analisis.

File Softcopy dan Software

Dengan kemajuan Ti, auditor menerapkan teknik audit berbantuan komputer yang dapat mengambil bukti-bukti data elektronis dalam bentuk file softcopy. Auditor dapat mengunakan software untuk menganalisa data-data, untuk mengelompokan data-data transaksi penjualan, pembelian, transaksi aktivitas persediaan, aktivitas nasabah, dan lain-lain.

Penulisan Laporan

Sesuai dengan standar auditing ISACA (Information Systems Audit and Control Association), selain melakukan pekerjaan lapangan, auditor juga harus menyusun laporan yang mencakup tujuan pemeriksaan, sifat dan kedalaman pemeriksaan yang dilakukan. Laporan ini juga harus menyebutkan organisasi yang diperiksa, pihak pengguna laporan yang dituju dan batasan-batasan distribusi laporan. Laporan juga harus memasukkan temuan, kesimpulan, rekomendasi sebagaimana layaknya laporan audit pada umumnya.

Psikologi dan Komunikasi Audit

Psikologi Forensik adalah pendekatan personal dalam investigasi kasus tindak kriminal dan korupsi. Psikologi forensik sangat penting bagi auditor untuk mengungkap perkara peradilan sekaligus merehabilitasi pelaku tindak kriminal korupsi, yang selama ini hanya dilakukan oleh polisi, jaksa, dan hakim.

Bilamana auditor mengunakan prosedur penyidikan pelaku kriminal yang dipadukan dengan psikologi forensik maka auditor akan lebih mudah mengungkapan tindakan pelaku kejahatan korupsi dan auditor akan lebih mudah melakukan pencegahan tindakan kriminal berikutnya.

Auditor investigator seperti seorang psikolog forensik yang mampu melakukan pendekatan psikologis kondisi nalar individu pelaku dan mampu meramal arah perilakunya di masa depan. Dengan demikian, psikolog dapat merancang program untuk menanggulangi tindak kriminal korupsi sekalipun berkelompok dalam organisasi besar.

Langkah Rehabilitasi

Dalam beberapa kasus tindak korupsi sadis yakni mencapai 100an miliar rupiah dengan 1000an korban bencana, pelaku tindak korupsi ternyata melakukan perbuatan dengan penuh kesadaran dan berkelompok serta terintegrasi secara hirarchikal.

Kemampuan auditor yang teruji layak tentunya dapat memilih object (seorang pelaku) untuk program rehabilitasi. Keberhasilan rehabilitasi kepada seorang pelaku yang artinya memulihkan karakteristiknya agar dapat membedakan dan memilih yang baik-baik saja dan menjauhkan yang buruk. Dari suatu kasus korupsi sadis yang terjadi, hasil rehabilitasi ke 1 pelaku dapat mengungkapkan 4 orang pelaku lainnya hingga terungkap 10 orang dalam satu organisasi koruptor. Bahkan dari korupsi di satu negara menjadi korupsi diantara 2 negara dan diantara negara-negara Asean. Hubungan hirarchikal 10 pelaku itu terungkap terdiri dari perumus regulator, pejabat tinggi, pembantu-pembantunya hingga pesuruh.

Sisi Eksternalitas Pelaku

Dari segi eksternal, audit investigasi dapat mengungkapkan prilaku rata-rata hingga menjadi pelaku tindak pidana korupsi :

1. Rata-rata pelaku berasal dari keluarga kaya yang jatuh miskin, dengan arti habis harta-bendanya karena perang atau bencana, dan hanya tersisa tenaga, ijazah dan kecerdasan intelektual.

2. Pelaku dibesarkan secara tertindas dan diperlakukan tidak adil di dalam keluarga sebagai media yang memberi contoh korupsi.

3. Pelaku memiliki keluarga yang berambisi menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara korupsi.

Sisi Internalitas Pelaku

1. Pelaku dan istri/suami, anak/menantu terinspirasi dengan kasus tindak kriminal korupsi yang tidak tersentuh hukum selama ini.

2. Faktor utama penyebab korupsi berasal dari dendam pelaku kepada kehidupan pahit dimasa lalu.

3. Pelaku dan keluarga dengan suka ria merubah asset financial menjadi asset non financial, seperti rumah mewah dan banyak mobil baru.

Baru kali ini, psikologi forensik mendapat ruang gerak bagi audior investigator untk mengungkapkan keterlibatan pelaku tindak kriminal korupsi, mangapa harus menempuh jalan pintas ? Bila pelaku ingin memiliki rumah, hal yang lazim adalah mengumpulkan batu dan menyusunnya menjadi pilar-pilar dan selesai dalam waktu lama. Cara lazim lainnya, kepemilikan rumah melalui kredit berjangka waktu hingga 10 tahun. Yang dimaksud dengan jalan pintas, adalah tiba-tiba membeli rumah hak milik di kawasan elit dan dibayar dengan tunai dan lunas, diserti dengan bukti kepemilikan kendaraan bermotor roda 4. Jalan pintas inilah yang mengundang follow the money untuk melihat bagaimana uang sebagai asset financial berubah menjadi asset non financial.

Dalam penanganan kasus-kasus money laundring, belum ada auditor investigator yang melakukan penyusupan. Padalah banyak rumah-rumah elit yang dipromosikan sebagai house for rent atau for sale, pada kesempatan seperti inilah seharusnya ada auditor investigator yang muncul melihat kondisi rumah. Kembali ke Financial Unit Investigation, bagaimana lembaga ini menyiapkan program khusus money laundring, yang bukan hanya sekedar rehabilitasi moral saja.

4.1.4.Internet untuk Auditor

Amerika Serikat mengembangkan Internet untuk kepentingan Pertahanan 1969. 1994 internet berkembang pesat untuk tujuan komersiel, tetapi bagaimana memanfaatkan Internet untuk Auditor ? Selama ini, riset-riset hanya mengamati keberdayaan komputer yang dapat dihubungkan dengan komputer, yang diartikan komputer dapat berkomunikasi dua arah. Perkembangan selanjutnya, Internet dapat menghubungkan manusia dengan manusia ke seluruh dunia. Melalui internet, manusia dengan manusia berbagi pengetahuan dan informasi melalui e-mail, publikasi digital, belanja secara online, mencari berita, dan sebagainya.

Tindak pidana korupsi/terorisme seperti ditakdirkan selangkah lebih maju untuk lebih dahulu memanfaatkan internet dengan tujuan kejahatan. Sedangkan, untuk keperluan audit investigasi, program e-mail yang mana, program transfer dana dari siapa ke pada siapa, kita sebagai auditor investigator tidak mengetahui telah terjadi evolusi komunikasi antar host (komputer pusat) yang dapat berjalan pada jaringan yang sama. Selama 20 tahun, terjadi evolusi yang memungkinkan jaringan komputer dapat berhubung dan berkomunikasi dengan jaringan lainnya. Kemudian muncul istilah internet dengan software LAN(Local Area Network) atau UNIX yang berfungsi untuk mentransfer data melalui kabel secara cepat yang disebut Ethernet.

Perkembangan yang revolusioner 1983 di bidang Ti adalah ditandai dengan banyak bergantinya domain name system atau nama domain sebagai nomor IP server tetapi memudahkan pengguna tanpa harus menghafal nomor IP server yang dulunya relatif lebih sulit diingat jika dibandingkan dengan nama domain. Mulai tahun 1990, terjadi pergantian backbone dengan backbone yang memiliki kecepatan lebih tinggi, dan berguna untuk pelayanan internet database, pelayanan registrasi dan pelayanan informasi, dan berkembang WWW yang dapat diakses dengan mudah. Mulai 1994, internet mengalami berkembang pesat dan tersambung ke backbone dan masuk ke dunia e-commerce. Tetapi, apa tanda-tandanya audit investigator memanfaatkan website dan cyber-bank ?

4.1.5.E-Commerce dari sisi Auditor Investigator

Auditor Investigator terhadap e-commerce yang sudah ada sejak 1998 adalah aktivitas penjualan dan pembelian barang atau jasa melalui fasilitas internet. Jadi pelaku e-commerce adalah sesama mitra bisnisnya yang kemungkinan antara anak-anak dan bapaknya, atau atasan dengan bawahannya. e-commerce yang wajar seharusnya oleh siapa saja tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dalam aktivitas e-commerce oleh pelaku tindak kejahatan korupsi, sesungguhnya mengandung makna :

1. adanya hubungan istimewa antara penjual dan pembeli,

2. transaksi antar pelaku bisnis dalam nilai yang sangat besar, dan

3. dokumen internal yang mendukung transaksi dengan perusahaan.

Hubungan istimewa antara penjual dan pembeli,

Pelaku tindak pidana korupsi, yang satu berperan sebagai penjual dan yang satu lagi berperan sebagai pembeli, atau masing-masing berperan sebagai konsumen dengan perusahaan. Para pelaku menggunakan e-commerce seolah-olah bergaya bisnis masa kini dengan world wide web (WWW). Sebagaimana karakteristik bisnis, besar kecilnya kesepakatan terjadinya transaksi akan mempengaruhi kepuasan konsumen sebagai salah satu pelaku.

Konsumen (pelaku-1) berinteraksi dengan perusahaan (pelaku-2) sebagai penyedia layanan e-commerce melalui tiga jalur (interface), yaitu web browser atau fasilitas chating (chat window). Hanya sedikit informasi dari konsumen akan disimpan dalam ingatan perusahaan, jadi tidak menjadi file dalam database profil konsumen. Walaupun, hanya sedikit informasi dari konsumen, tetapi sangat berarti bagi perusahaan dalam melakukan tindak pidana korupsi, tetapi yang harus menjadi pertanyaan bagi auditor investigator adalah apakah konsumen puas dengan nilai transaksi, bisanya tidak tercapai keseimbangan dan konsumen tidak puas.

Kemungkinan Koruptor/Terorisme mengimplementasi e-commerce

Adanya kemajuan teknologi, koruptor seperti teroris diyakini dengan probabilita 100% menggunakan laptop, internet, handphone dan remote control. Koruptor adalah orang yang frustasi karena terpuruk dan kalah kompetisi jabatan/perdagangan sehingga menjadi pejabat buangan. Namun, koruptor juga manusia yang tidak lepas dari human error, seperti teroris yang tidak sengaja menghubungi sindikatnya.Walaupun, terlambat 3 tahun, tetapi polisi sebagai auditor investigator berhasil membongkar komplotan koruptor/teroris.

Semakin lama, auditor investigator akan semakin berpengalaman dan mampu berpikir analisis dalam kepekaannya mengidentifikasi prilaku koruptor yang berkaitan dengan keuntungan dan kerugian, meliputi :

1. Keuangan

2. Pembelian

3. penjualan

4. Kenyamanan

5. Informasi

6. Administrasi

7. komunikasi.

Keuangan dalam jumlah signifikan memposisikan pelaku tindak pidana menjadi pembeli, yang dapat memilih dan membandingkan barang non-financial yang akan dibeli, dengan perbandingan menurut lokasi, matrial dan logistiknya. Koruptor sebagai pembeli dengan banyak uang, sangat leluasa memilih lokasi yang strategis, dengan bahan-bahan super mewah, dengan harga berapa saja sanggup dibayar tunai.

Kerugiannya, bagi pelaku / koruptor, dimanapun menyimpan uang liquid atau menjadi harta benda, tidak ada tempat yang aman, tidak nyaman memakai uang, rumah mewah atau mobil. Tetapi, dengan adanya kemajuan teknologi, pelaku / koruptor dapat memperkecil kerugian dan memperkecil resiko, hingga sulit dilack oleh auditor investigator.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.